Yudas Iskariot bukan orang asing. Ia dipilih. Namanya disebut bersama sebelas rasul lainnya. Ia berjalan bersama Yesus, makan bersama-Nya, mendengar khotbah di bukit, melihat orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, dan orang mati dibangkitkan.Ia bukan orang luar. Ia orang dalam.Sama seperti halnya murid yang lain Yudas juga diberi kuasa untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan.
Di antara dua belas murid, Yudas dipercaya memegang kas. Itu artinya ia dianggap mampu, rapi, mungkin juga cerdas. Kepercayaan itu tidak kecil.Awalnya mungkin sederhana.Suatu hari, mungkin ia berpikir:“Tidak apa-apa kalau aku ambil sedikit. Aku juga sudah bekerja keras. Tidak ada yang tahu.” Sedikit sekali. Hampir tidak terasa.Tidak ada petir menyambar.Tidak ada teguran langsung.
Dan karena tidak ada konsekuensi langsung, hati menjadi lebih berani.Lain waktu ia mengambil lagi.Lalu lagi.
Yohanes 12:6 mencatat dengan tenang tapi tajam: “…ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.” Sering. Artinya ini bukan satu kali !!.Dosa kecil yang diulang-ulang mulai membentuk hati.Perlahan, uang menjadi lebih menarik daripada ajaran tentang Kerajaan Allah.
Harapan akan Mesias yang mungkin politis dan kuat mulai bercampur dengan ambisi pribadi.
Lalu datang momen di Betania. Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal. Yudas protes:
“Bukankah minyak itu bisa dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin ?” Kata-katanya terdengar mulia. Tapi Injil membuka isi hatinya. Saat hati sudah terbiasa menyembunyikan dosa kecil, seseorang bisa berbicara idealisme sambil menyimpan kepentingan.Dan ketika Yesus tidak bergerak sesuai harapan Yudas, tidak mendirikan kerajaan politik, tidak menggulingkan Roma mungkin kecewa mulai tumbuh.
Tiga puluh keping perak bukan sekadar harga pengkhianatan. Itu mungkin puncak dari perjalanan panjang kompromi kecil yang tidak pernah diselesaikan.
Dan yang paling menyentuh adalah ini: Yesus tahu..Yesus tahu ia sering mencuri. Yesus tahu ia akan berkhianat.Namun … Yesus tetap membasuh kakinya.Tetap memberinya roti di Perjamuan Terakhir. Sampai detik terakhir, pintu pertobatan tidak tertutup oleh Yesus — tetapi oleh pilihan Yudas sendiri.
Kisah Yudas bukan hanya kisah pengkhianatan besar.Itu kisah tentang bagaimana dosa kecil yang dipelihara, tanpa pertobatan, bisa mengubah arah hidup sepenuhnya.
Dan mungkin itu sebabnya kisah ini ditulis bukan untuk mengutuk Yudas, tetapi untuk memperingatkan hati setiap orang yang merasa dirinya “dekat” dengan Tuhan.