TANTANGAN DAN PENDERITAAN

PERTANYAAN DARI PIK  – No. 003

1.Kepada Pastor Viany Untu MSC :

Hidup adalah sebuah perjalanan transformasi dari kodrati daging menuju kesadaran spiritual. Karena titik awal dan tantangan setiap orang unik tergantung DNA, kultur, pengalaman maka diperlukan kebebasan untuk bereksplorasi tanpa dikungkung oleh sistem yang kaku. Proses perjalanan hidup adalah sebuah evolusi kesadaran yang terus-menerus yang digerakkan oleh tantangan hidup yang alamiah hadir untuk menempa jiwa kita (Perjalanan Kedagingan & Spiritual).

Pandangan ini semestinya mengubah cara memandang kita tentang kebutuhan dan tantangan hidup karena itu semua adalah “kurikulum” atau “gymnasium” bagi jiwa. Dengan memahami ini, kita bisa menyambut setiap “kesulitan” bukan dengan keluh kesah, tetapi dengan pertanyaan: “Apa yang harus saya pelajari dari ini untuk menumbuhkan spiritualitas saya?”

Apa yang diajarkan Jesus terkait erat dengan pandangan diatas?

2. JAWABAN

  1. Cara setiap orang melihat, bersikap dan bertindak terhadap hidup dan tantangannya tentu berbeda-beda. Ada yang cukup mengejar nafkah, ada yang menginginkan kehidupan yang sukses, ada yang ingin mengalami keluarga berbahagia lebih dari soal harta milik. Ada yang memandang setiap kesulitan, kesusahan, penderitaan sebagai malapetaka besar, ada yang memandangnya sebagai hal kecil dan biasa dan  harus dihadapi dengan berani dan penuh iman. Ada yang mendengar singgungan kecil langsung bangkit amarahnya karena cepat tersinggung, ada yang merasa biasa saja sebagai hal yang perlu untuk evaluasi dan pengembangan diri. Ada yang disakiti hatinya, langsung balas dendam, tapi ada yang sabar, mengontrol diri, menggunakan kekuatan rohani, sehingga tetap tegar diterpa badai.
  1. Kalau kita melihat sederetan figur Perjanjian Baru misalnya. Lihatlah Tuhan Yesus, jujga Maria, Yosef, para rasul termasuk Paulus. Lihat juga para diakon terutama Stefanus. Lihat juga kehidupan para orang kudus dan par martir. Mereka adalah figur yang kokoh kuat dan telah melewati penderitaan menuju kepada kemenangan. Tanpa figur-figur yang sedemikian, kekristenan tak bakal ada di muka bumi ini. Kekristenan sungguh dibangun di atas derita salib menuju kemenangan kebangkitan yang mulia jaya. Ada pepatah latin kuno dari Tertulianus yakni “sanguis martyrum, semen christianorum,” yang berarti “darah para martir adalah benih umat Kristen”. Tertulianus (thn. 155-230), adalah seorang teolog Latin, filsuf dan apologet, pada tahun 200, juga menulis kepada penganiaya Romawi, “Semakin kalian menghancurkan kami, semakin cepat kami tumbuh”. Lihat juga perkataan Polikarpus (thn. 69-155), seorang murid Yohanes Rasul, yang berkata “Selama 86 tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja (krsitus) yang telah menyelamatkanku?”
  1. Bagi kita orang Kristen, kesulitan dan derita bukanlah bencana, melainkan dasar, fondasi untuk membangun iman dan kehdupan di atas kebenaran. Itulah maksudnya pada saat Yesus berkata “Engkau adalah Petrus dan di atas  batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18:TB2). Gereja tidak dibangun  di atas dasar pasir yang lemah dan rapuh diterpa angin, tetapi di atas wadas batu (Lih. Mat. 24-27). Hanya dengan itu alam maut tidak akan menguasainya, di bawah perlindungan Allah, “Aku menyertai kamu  sampai akhir zaman (Mat. 25:20).
  1. Yesus sudah mengingatkan para rasul untuk waspada dan siap terhadap penderitaan yan g bakal menimpa mereka karena nama Yesus.  Yesus berkata “berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:10), atau “Berbahagialah jika karena Anak manusia, orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu s ebagai sesuatu yang jahat, bersukaccitalah pada waktu itu, dan melompat-lompatlah, karena sesungguhnya upahmu besar di surga. Sebab  demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi (Luk. 6:22-23 :TB2).  Nasehat Yesus jelas, “Dalam dunia kamu akan menderita penganiayaan, teapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan Dunia” (Yoh. 16:33)
  1. Kita orang Kristen tidak hidup demi atau untuk penderitan. Kita hidup untuk berbahagia dalam persatuan dengan Allah di bumi maupun di surga kelak. Itulah yang kita sebut sebagai keselamatan. Kita selamat, berbahagia dan bersukacita jika berada dalam persekutan dengan Allah, dipimpin oleh Roh Allah untuk hidup dalam kebenaran dan melakukannya dalam hidup kita. Maka sudah jelas, kalau salib adalah jalan menuju kebangkitan, maka derita adalah jalan menuju kemenangan. Orang yang tak mau menderita karena cinta dan kebenaran, itu namanya egois. Jika seorang tak berani berkorban demi sesamanya, dia mengejar kepentingan diri dan merusak hubungan dengan sesama, bertentangan dengan ajran Yesus. Kita diajarkan bukan untuk menderita, tetapi melakukan kehendak Allah pun jika itu menuntut penderitaan. Surat Petrus berkata “Jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu (1 Ptr. 4:16).