TAMAN FIRDAUS
Dalam labirin sejarah keselamatan, kata Firdaus bukanlah sebuah koordinat statis di peta semesta, melainkan sebuah kondisi keberadaan yang berevolusi, sebuah state of being yang bergerak seiring dengan rencana besar Allah. Secara etimologis, Firdaus berasal dari bahasa Persia pairidaeza yang berarti “taman berpagar” (a walled garden). Namun, pagar ini memiliki lapisan-lapisan misteri yang hanya bisa disingkapkan melalui kacamata teologi.
Pada mulanya, manusia mengenal Paradisus Terrestris atau Firdaus Duniawi dalam kisah Adam dan Hawa (Kejadian 2 dan 3). Di sana, manusia menikmati Original Justice atau Keadilan Asali, sebuah kondisi di mana dimensi surgawi dan duniawi menyatu tanpa sekat. Namun, akibat Original Sin (Dosa Asal), pintu ini tertutup, dan manusia kehilangan kapasitas untuk memandang Allah secara langsung, sebuah kemuliaan tertinggi yang kita kenal sebagai Beatific Vision.
Sejak kejatuhan itu, sejarah manusia memasuki babak penantian panjang. Bagi mereka yang mati dalam kesetiaan sebelum Kristus datang, seperti Abraham dan Lazarus, mereka turun ke wilayah Sheol yang disebut Limbus Patrum atau Limbo para Bapa. Dalam perumpamaan tentang Lazarus dan orang kaya (Lukas 16), tempat ini disebut sebagai The Bosom of Abraham atau Pangkuan Abraham. Inilah Firdaus “bawah” yang penuh penghiburan namun tanpa kehadiran Allah secara langsung. Mereka berada dalam bentuk roh, beristirahat dari lelahnya dunia, namun tetap menjadi “tawanan harapan” karena pintu Surga yang paling kudus belum terbuka. Mereka damai, tetapi mereka belum memandang esensi Allah wajah demi wajah, karena penebusan oleh darah Kristus belum digenapi.
Di tengah skema roh-roh yang menanti di Sheol ini, muncul anomali luar biasa dalam diri Henok (Kejadian 5) dan Elia (2 Raja-raja 2). Melalui peristiwa Translatio atau pengangkatan ajaib, Allah membawa mereka keluar dari dunia fana tanpa melalui gerbang kematian fisik. Karena mereka tidak mengalami Physical Death, secara teologis mereka tidak mungkin berada di Sheol bersama Abraham, sebab Sheol adalah tempat bagi jiwa yang telah terpisah dari raga. Mereka ditempatkan di sebuah “Firdaus Tinggi” atau sebuah perlindungan surgawi yang tersembunyi.
Namun, di sinilah muncul pertanyaan tajam: Apakah mereka sudah menikmati Beatific Vision? Santo Thomas Aquinas dalam Summa Theologica memberikan jawaban yang elegan namun tegas: Belum. Meskipun mereka berada di wilayah surgawi, tubuh jasmani mereka (corpus animale) belum diubah menjadi tubuh mulia melalui kebangkitan. Kemuliaan untuk memandang esensi Allah secara langsung melampaui kapasitas kodrati daging dan darah yang belum dimurnikan oleh kematian dan kebangkitan.
Keberadaan Henok dan Elia di “ruang tunggu surgawi” ini memiliki alasan eskatologis yang mendalam. Tradisi Gereja dan pemikiran Thomas Aquinas menghubungkan mereka dengan sosok “Dua Saksi” dalam Kitab Wahyu (Wahyu 11). Mereka dipelihara oleh Allah dalam kondisi tubuh yang utuh karena mereka memiliki tugas yang belum selesai. Mereka adalah manusia yang kematiannya ditunda, bukan dibatalkan.
Mereka dipersiapkan untuk kembali ke bumi di akhir zaman sebagai saksi iman, menghadapi kematian fisik yang nyata, dan akhirnya bangkit bersama seluruh umat beriman. Mereka membawa “hutang alamiah” atau debitum naturae yang harus dibayar, karena hanya melalui proses kematian dan kebangkitanlah manusia dapat mengenakan tubuh mulia yang mampu menanggung beban cahaya Beatific Vision.
Latar belakang dari Firdaus yang seolah terbagi-bagi ini menunjukkan betapa Allah menghargai tatanan kodrat dan keutamaan Putra-Nya. Kristus harus tetap menjadi Janua Coeli (Pintu Surga) dan yang sulung dari segala ciptaan yang masuk ke hadirat Bapa. Tak seorang pun, termasuk Elia dengan kereta berapinya, dapat mendahului Kristus dalam memasuki inti kemuliaan Allah. Baru setelah Kenaikan Kristus (Efesus 4, 1 Petrus 3), Ia meruntuhkan sekat-sekat tersebut, menjemput roh-roh di Pangkuan Abraham dan membawa serta Henok dan Elia setelah kemartiran mereka menuju persatuan yang lebih dalam.
Kini, setelah kemenangan Kristus, Firdaus bukan lagi soal lokasi geografis di bawah bumi atau di atas awan, melainkan soal partisipasi dalam hidup Allah sendiri. Janji Yesus kepada pencuri yang bertobat, “Hodie mecum eris in Paradiso” (Lukas 23), adalah proklamasi bahwa melalui Dia, hambatan tubuh dan dosa telah diatasi. Firdaus kita kini adalah Kristus itu sendiri, di dalam Dia, penantian Abraham berakhir dan misteri pengangkatan Elia dan Henokh menemukan muara akhirnya dalam pandangan abadi yang tak terlukiskan kepada wajah Allah.