Ketika “Sola Scriptura” Menjadi “Sola Saya Saja”
Membaca narasi Loya Latoya tentang Lourdes yang berjudul:” Lourdes: Saat Maria dam Rosario Menggeser Pusat Injil” rasanya seperti menonton seseorang mengkritik resep masakan tanpa pernah mencicipi makanannya. Narasi yang dibangun seperti biasa seolah-olah deep dan alkitabiah, padahal hanyalah daur ulang kritik klasik anti-Catholic yang sudah basi sejak abad ke-16. Nyonya Loya terjebak dalam falasi logis Zero-Sum Game: seolah-olah jika saham Maria naik, saham Yesus otomatis anjlok. Spoiler alert: Ekonomi Kerajaan Surga tidak bekerja seperti pasar saham Wall Street.
Kita langsung saja bedah narasinya bagian per bagian:
1. Wahyu Privat vs. “Tuhan Sudah Cukup Bicara”
Narasi: “Kita tidak butuh penampakan… Wahyu sudah lengkap.”
Tanggapan: Excuse me, siapa yang bilang Lourdes itu menambah Injil? Gereja Katolik sendiri yang memagari ini dengan istilah Public Revelation (yang berakhir pada wafat rasul terakhir) dan Private Revelation. Lourdes itu Private Revelation. Kalau Nyonya Loya berpendapat bahwa Alkitab sudah bilang Allah bekerja dalam segala sesuatu, kita tidak butuh Maria mengingatkan kita, maka itu adalah sebuah spiritual arrogance.
Maria di Lourdes tidak datang membawa “Injil Jilid II”. Dia datang sebagai Ibu yang mengingatkan anak-anaknya yang bebal: “Penance! Prayer!” (Tobat! Doa!). Menolak peringatan Tuhan melalui Bunda-Nya dengan alasan “Alkitab saya sudah cukup tebal” adalah suatu keangkuhan terhadap kebebasan Allah. Tuhan bebas mengirim siapa saja, termasuk Ibu-Nya. God is Sovereign, remember?
2. Rosario: “Injil di Tangan” vs. Tuduhan Kosong
Narasi: “Tidak ada rasul mengajarkan Rosario… Tidak ada instruksi mengulang Salam Maria.”
Tanggapan: Halo Nyonya Loya? Pernah baca Lukas 1?
“Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu” = Kalimat Malaikat Gabriel (Tuhan sendiri yang mengarangnya).
“Terpujilah engkau di antara wanita…” = Kalimat Elisabet (yang penuh Roh Kudus).
“Santa Maria Bunda Allah” = Teologi Theotokos yang disahkan Konsili Efesus (431 M), jauh sebelum Reformasi lahir.
Jadi, Rosario itu isinya ayat Alkitab. Menuduh Rosario menggeser Injil adalah komedi paling tragis. Saat mendoakan Rosario, Katolik melakukan Meditative Prayer merenungkan kehidupan Yesus (Peristiwa Gembira, Sedih, Mulia).
Kritik “doa berulang-ulang”? Wahyu 4:8 mencatat makhluk surgawi bernyanyi “Kudus, kudus, kudus” siang malam tanpa henti. Apakah mereka juga sesat karena repetitif? Atau hanya worship leader ala denominasi modern yang boleh mengulang chorus lagu sampai 20 kali agar terasa “urapan”-nya?
3. Satu Pengantara & “Intercession Phobia”
Mengutip 1 Timotius 2:5 (“Satu Pengantara”) untuk menyerang Maria adalah strawman argument paling tua.
Dalam teologi Katolik, Yesus adalah satu-satunya Pengantara dalam hal Redemption (Penebusan). Tapi dalam hal Intercession (Syafaat), kita semua adalah pengantara. Jika Miss Loya meminta pendeta lain mendoakanmu, apakah itu berarti si pendeta menggeser posisi Yesus? Tentu tidak.
Lalu kenapa kalau minta Maria berdoa, tiba-tiba Yesus “ngambek”?
Dalam Perjanjian Lama, ada posisi Gebirah (Ibu Suri). Di Kerajaan Daud (1 Raja 2), orang datang ke Raja melalui Ibunya. Yesus adalah Raja Daud yang baru. Menghormati Ibu Suri bukan berarti meremehkan Raja. Itu namanya Protocol of the Kingdom.
4. Penderitaan & Teologi “Happy-Happy”
Miss Loya mengkritik pesan Lourdes: “Maria tidak menjanjikan kebahagiaan di dunia ini.” Lalu membandingkannya dengan Yohanes 10:10 (“hidup dalam kelimpahan”).
Tanggapan: Di sinilah bau-bau Prosperity Gospel tercium. “Kelimpahan” (Abundance) dalam Alkitab tidak sama dengan kenyamanan duniawi atau financial breakthrough. Para Rasul mati dipenggal dan disalib terbalik. Apakah mereka kurang beriman?
Pesan Lourdes sangat realistis dan biblis: “Take up your cross” (Pikul salibmu). Bernadette Soubirous menderita asma dan TBC tulang, tapi hatinya penuh Grace. Kritik Ny. Loya seolah menyiratkan bahwa kekristenan harusnya bebas derita. Maaf, kita mengikut Tuhan yang disalib, bukan Tuhan yang duduk di sofa empuk non.
Soal Kolose 1:24 (“menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus”), penulis panik dan buru-buru bilang “itu cuma penderitaan pelayanan!” Padahal Paulus jelas bicara soal partisipasi mistik dalam Tubuh Kristus. Penderitaan kita, jika disatukan dengan Yesus, punya nilai redemptive (bukan menggantikan darah Yesus, tapi menyalurkannya). Ini teologi yang terlalu “berat” bagi mereka yang maunya “sekali selamat tetap selamat, duduk manis masuk surga.” teologi keenakan…
5. Sejarah: “Mana Buktinya di Abad 1?”
Pertanyaan: “Kenapa tidak muncul di Didache atau Ignatius?”
Jawaban: Kata “Trinitas” juga tidak ada di Alkitab atau Didache. Apakah penulis menolak Trinitas? Doktrin itu berkembang (Development of Doctrine), seperti biji menjadi pohon.
Fakta sejarah: Sub Tuum Praesidium adalah doa kepada Maria yang ditemukan di papirus Mesir tahun 250 M. Bunyinya: “Di bawah perlindunganmu kami berlindung, O Bunda Allah.”
Jadi, orang Kristen abad ke-3 sudah “berlindung pada Maria” jauh sebelum abad pertengahan. Narasi Nyonya bahwa ini “barang baru abad 19” adalah cacat sejarah (historical ignorance).
The Final Verdict
Seperti biasa narasi Nyonya Loya Latoya terdengar “saleh”, tapi sebenarnya sedang membenturkan Ibu dan Anak.
Dalam Katolik, kita berpegang pada prinsip: Ad Iesum Per Mariam (To Jesus Through Mary).
Bulan (Maria) tidak punya cahaya sendiri, ia hanya memantulkan Matahari (Yesus). Menuduh Bulan mencuri kemuliaan Matahari adalah kebodohan astronomi dan teologi.
Lourdes bukan “Wahyu Baru”. Lourdes adalah gema dari Kana: “Do whatever He tells you” (Lakukan apa yang Dia katakan). Jika itu dibilang menggeser Injil, mungkin definisi “Injil” penulis perlu dikalibrasi ulang. Begitu jadinya karena sejatinya prinsip “sola scriptura” dalam prakteknya adalah “sola saya sendri” tafsir semau gue.