Tulisan Romo Patris Allergo.
“Selibat = Tempat Sampah? Ketika Sejarah, Kitab Suci, dan Akal Sehat Dikorbankan demi Romantisisme Luther”
Tulisan CJ ini indah. Hangat. Puitis. Penuh aroma keluarga bahagia.
Masalahnya: ini bukan teologi. Ini brosur pernikahan yang diselipkan ayat.
Mari kita baca tanpa emosi.
Penulis membuka dengan tesis heroik:
“Luther menghargai pernikahan. Paus membuangnya ke sampah.”
Luar biasa.
Seolah-olah sejak memilih selibat, seorang paus otomatis membenci keluarga.
Dengan logika ini:
Yesus juga anti-pernikahan.
Paulus juga membuang perkawinan.
Yeremia juga gagal teologis.
Karena… mereka tidak menikah.
Aneh.
Lalu Maria “dikembalikan” ke kehidupan normal.
Katanya: Maria pasti punya anak lain.
Katanya: kesuburan rahim bukti pernikahan sejati.
Menarik.
Sejak kapan rahim menjadi ukuran kesucian?
Kalau begitu:
Perempuan mandul = kurang kudus?
Pasangan infertil = iman gagal?
Ini bukan teologi.
Ini biologisme rohani.
Maria direduksi jadi mesin reproduksi suci.
Padahal Injil memuliakan Maria bukan karena jumlah anak,
tetapi karena ketaatan total pada Allah.
“Terjadilah padaku menurut firman-Mu.”
Bukan: “Lihat berapa anakku.”
Lalu Luther masuk sebagai ikon suci keluarga.
Luther menikah → Reformasi sehat → iman membumi.
Romantis.
Yang tidak disebut:
Luther juga menolak sakramen
Luther memecah Gereja
Luther membuka fragmentasi tanpa akhir
Tapi itu dikesampingkan.
Karena foto keluarga lebih laku daripada konflik doktrinal.
Penulis berkata:
“Reformasi lahir dari rumah, bukan menara selibat.”
Bagus.
Tapi anehnya, 1500 tahun sebelumnya, Gereja bertahan dengan para martir, biarawan, imam selibat, dan perawan kudus.
Mereka semua gagal iman?
Augustinus gagal?
Benediktus gagal?
Fransiskus gagal?
Karena tidak punya anak?
Logika ini kejam diam-diam.
Kemudian muncul kalimat ini:
“Keluarga, bukan hierarki, adalah pusat iman.”
Tentu keluarga penting.
Tapi kalau keluarga cukup, buat apa para rasul?
Buat apa penahbisan?
Buat apa Gereja?
Kalau iman diwariskan otomatis lewat rumah tangga,
Kristus tidak perlu mendirikan Gereja.
Cukup buka kursus parenting.
Soal selibat, penulis memperlakukannya seperti penyakit.
Padahal Yesus sendiri berkata:
“Ada orang yang memilih tidak kawin demi Kerajaan Allah.”
Ini bukan doktrin Vatikan.
Ini Injil.
Tapi Injil ini rupanya kurang romantis.
Yang paling lucu adalah judul implisitnya:
Luther = sakramen
Paus = sampah
Padahal faktanya:
Gereja Katolik justru mempertahankan perkawinan sebagai sakramen.
Protestanlah yang mencabut status sakramentalnya.
Tapi di sini ceritanya dibalik:
Katolik anti-nikah.
Reformasi pro-nikah.
Propaganda yang rapi.
Penutup: Ketika Pernikahan Dijadikan Senjata Ideologis
Tulisan ini bukan membela keluarga.
Ia memakai keluarga untuk menyerang Gereja.
Bukan memuliakan pernikahan.
Ia merendahkan panggilan lain.
Seolah hanya yang berkeluarga yang normal.
Yang selibat = menyimpang.
Ini bukan Injil.
Ini mentalitas iklan properti.
Kekristenan tidak pernah mengajarkan:
Semua harus menikah.
Semua harus selibat.
Yang diajarkan:
Setia pada panggilan.
Ada yang dipanggil membangun rumah.
Ada yang dipanggil membangun altar.
Dan keduanya kudus.
Tapi untuk memahami itu,
kita perlu iman.
Bukan romantisme Luther.
Dan bukan kebencian pada jubah.