Teman seperjalanan di Jalan Hidup Bakti, Pada hari Hidup Bakti Sedunia ke-39 ini, marilah kita berefleksi, berdoa dan berupaya agar Gereja, Dunia Hidup Bakti kita dan komunitas-komunitas religius kita, tidak dihuni oleh biarawan-biawarawati yang hatinya asam, tidak jelas pilihan hidup, terseret arus prinsip “apa yang menyenangkan saya”, dan kehilangan rasa/sikap menghadap Allah dalam keheningan.
Silahkan simak hal-hal tersebut dalam Kotbah yang disampaikan Paus Fransiskus dalam kesempatan Ibadah Sore I Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Suci, yang dirayakan sebagai Hari Hidup Bakti Sedunia ke-39, di Basilika Vatikan, Sabtu 1 Februari 2025.
/beteemesce
PAUS FRANSISKUS
RENUNGAN PADA HARI HIDUP BAKTI SEDUNIA KE-29 – 2 FEBRUARI 2025 – Vatikan, 1 Februari 2025
“Sesungguhnya Aku datang … untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah” (Ibr. 10:7). Dengan kata-kata ini, penulis Surat Ibrani menyatakan ketaatan penuh Yesus kepada rencana Bapa. Hari ini kita membacanya pada Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Suci, Hari Hidup Bakti Sedunia, selama Tahun Yubileum Pengharapan, dalam konteks liturgi yang dicirikan oleh simbol cahaya. Dan kamu semua, saudari-saudari dan saudara-saudara, yang telah memilih jalan nasihat Injili, telah membaktikan dirimu, sebagai “Mempelai Perempuan di hadapan Mempelai Laki-Laki […] yang diselimuti oleh cahayanya” (Santo Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik Vita consecrata, 15); kamu telah menguduskan dirimu pada rencana Bapa yang bercahaya yang sama, yang telah ada sejak awal mula dunia. Rencana ini akan digenapi sepenuhnya pada akhir zaman, tetapi sekarang ini rencana ini sudah dapat dilihat melalui “keajaiban-keajaiban yang Allah kerjakan dalam kemanusiaan yang rapuh dari mereka yang terpanggil” (ibid, 20). Marilah kita merenungkan bagaimana, melalui kaul-kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaatan yang telah kami ikrarkan, kamu juga dapat menjadi pembawa terang bagi para sesama manusia zaman ini.
Aspek pertama: cahaya kemiskinan. Cahaya ini berakar pada kehidupan Allah, pemberian timbal balik yang kekal dan total dari Bapa, Putera dan Roh Kudus (ibid, 21). Dengan menjalankan kemiskinan dengan cara ini, seorang religius dengan menggunakan segala sesuatu secara bebas dan murah hati, menjadi pembawa berkat bagi mereka: ia memanifestasikan kebaikannya dalam tatanan cinta, menolak semua yang dapat menodai keindahannya – yakni: keegoisan, keserakahan, ketergantungan, kekerasan dan pengunananya untuk maksud-maksud yang mematikan – dan sebagai gantinya merangkul semua yang dapat meninggikan cahaya kemiskian: yakni: ketenangan hati, kedermawanan, berbagi, solidaritas. Dan Paulus mengatakannya: ‘Segala sesuatu adalah milikmu! Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah” (1 Kor. 3:22-23). Inilah kemiskinan.
Elemen kedua adalah cahaya kesucian. Cahaya ini juga berasal dari Tritunggal dan merupakan “refleksi dari cinta tak terbatas yang mengikat ketiga Pribadi ilahi” (Vita consecrata, 21). Kaul itu, dengan penolakan cinta suami-istri dan dengan jalan hidup selibater, seorang religius menegaskan kembali keutamaan absolut, bagi manusia, yakni cinta Allah, yang diterima dengan hati yang tidak terbagi dan dan tak berpasangan (bdk. 1Kor 7:32-36), dan memperlihatkannya sebagai sumber dan model dari semua cinta lainnya. Kita tahu, kita hidup di dalam dunia yang sering kali ditandai dengan bentuk-bentuk ungkapan afeksi yang menyimpang, di mana prinsip “apa yang menyenangkan saya” – prinsip tersebut – mendorong seseorang untuk lebih mencari kepuasan atas kebutuhannya sendiri daripada sukacita dari sebuah perjumpaan yang bermakna. Sungguh benar ada! Prinsip ini menghasilkan, dalam relasi, sikap dangkal dan kesenangan semata, egosentrisme, hedonisme, ketidakdewasaan dan tiadanya tanggungjawab moral, di mana seseorang menggantikan mempelai laki-laki dan perempuan seumur hidup dengan pasangan sesaat, anak-anak yang mestinya diterima sebagai anugerah, dituntut seolah-solah sebagai suatu ‘hak’ atau dihilangkan seperti suatu ‘beban’.
Saudari-saudara, dalam konteks seperti ini, di hadapan “kebutuhan yang semakin meningkat akan kejernihan batin dalam hubungan antar manusia” (Vita consecrata, 88) dan humanisasi ikatan antara individu dan komunitas, kemurnian yang dipersembahkan kepada Allah itu menunjukkan kepada kita – manusia abad 21 ini – sebuah cara penyembuhan atas kejahatan keterasingan, dengan mempraktekkan cara mencintai yang bebas dan memerdekakan, yang menerima dan menghormati semua orang dan tidak membatasi atau menolak siapa pun. Adalah obat bagi jiwa yakni berjumpa dengan kaum religius yang mampu menjalin hubungan yang dewasa dan penuh sukacita seperti ini! Mereka adalah cerminan dari kasih ilahi (bdk. Luk 2:30-32). Untuk tujuan ini, bagaimanapun juga, adalah penting, dalam komunitas kita, untuk menjaga pertumbuhan spiritual dan afektif orang-orang, sejak dari pembinaan awal, bahkan dalam pembinaan yang sedang berlangsung, sehingga kesucian benar-benar memperlihatkan keindahan cinta yang terberi, dan fenomena yang merusak seperti asamnya hati atau ketidakjelasan pilihan tidak terjadi, yang menjadi sumber kesedihan, ketidakpuasan dan menyebabkan, pada saat-saat tertentu, dalam subyek yang lebih rapuh, berkembang menjadi “kehidupan ganda”. Pertarungan melawan godaan kehidupan ganda terjadi setiap hari. Sekali lagi, setiap hari !
Dan kita sampai pada aspek ketiga: cahaya ketaatan. Teks yang telah kita dengarkan juga berbicara kepada kita tentang hal ini, menyajikan kepada kita, dalam hubungan antara Yesus dan Bapa, “keindahan yang membebaskan dari ketergantungan seorang anak dan bukan hamba, kaya akan rasa tanggung jawab dan dijiwai oleh rasa saling percaya” (Vita consecrata, 21). Justru cahaya ketaatan inilah, yang menjadi hadiah dan jawaban cinta, sebuah tanda bagi masyarakat kita, yang cenderung banyak bicara tetapi kurang mendengarkan: dalam keluarga, di tempat kerja dan terutama di jejaring sosial, di mana kita terjadi banjir kata dan gambar tanpa pernah benar-benar bertemu satu sama lain, karena kita tidak pernah benar-benar mempertaruhkan diri kita untuk satu sama lain. Dan hal ini benar-benar hal yang menarik. Seringkali, dalam dialog sehari-hari, sebelum seseorang selesai berbicara, jawabannya sudah keluar. Seseorang tidak mendengarkan. Mendengarkan sebelum merespons. Mendengar kata-kata orang lain bagai sebuah pesan, sebuah harta, bahkan sebagai sebuah pertolongan bagi saya. Ketaatan yang dipersembahkan kepada Allah adalah penangkal individualisme yang menyendiri, mempromosikan suatu alternatif model hubungan yang ditandai dengan mendengarkan secara aktif, di mana ‘mengatakan’ dan ‘merasakan’ diikuti oleh konkretnya ‘bertindak’, dan hal ini bahkan dengan mengorbankan keinginan saya, rencana saya, dan pilihan-pilihan saya. Hanya dengan cara ini, pada kenyataannya, seseorang dapat sepenuhnya mengalami sukacita karunia, mengatasi kesepian dan menemukan makna keberadaannya sendiri dalam rencana besar Tuhan.
Saya ingin menyimpulkan dengan mengingatkan kembali poin lain: ‘kembali ke asal mula’ yang saat ini banyak dibicarakan dalam kehidupan bakti. Tetapi hal ini bukan berarti kembali ke asal mula seperti kembali ke museum, bukan. Kembali ke asal mula kehidupan kita. Dalam hal ini, Sabda Tuhan yang telah kita dengar tadi mengingatkan kita bahwa “kembali ke asal mula” yang pertama dan terpenting dari setiap pembaktian adalah, bagi kita semua, yaitu kepada Kristus dan jawaban “ya”-Nya kepada Bapa. Hal ini mengingatkan kita bahwa pembaharuan, sebelum pertemuan-pertemuan dan “meja bundar” – yang harus dilakukan, karena berguna – dilakukan di depan Tabernakel, dalam adorasi. Saudara-saudari, kita telah kehilangan sedikit rasa adorasi. Kita terlalu praktis, kita ingin melakukan banyak hal, tetapi … Adorasi. Adorasi. Kemampuan untuk menghadap Tuhan dalam keheningan. Maka marilah kita manyadari kembali bahwa Pendiri Tarekat kita masing-masing adalah religius yang beriman, dan bersama-sama dengan mereka kita mengulang-ulangi, dalam doa dan adorasi, “Sesungguhnya Aku datang […] untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah” (Ibr. 10:7).
Terima kasih banyak atas kesaksian Anda. Kesaksian anda adalah ragi dalam Gereja.
Terima kasih.
[00202-IT.02] [Teks asli: bahasa Italia].
[B0098-XX.02].