RABU ABU HANYALAH SIMBOL KOSONG – TUHAN MENUNTUT HATI YANG HANCUR BUKAN DAHI YANG DICORET

Pernyataan dari kelompok fundamentalis ini, sekilas terdengar rohani, terdengar alkitabiah, bahkan terdengar sangat “murni”. Tetapi justru di sinilah letak persoalannya: pernyataan ini memisahkan apa yang oleh iman Katolik tidak pernah dipisahkan, yaitu iman batin dan tanda lahiriah, hati dan tubuh, roh dan simbol. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa Rabu Abu adalah sekadar coretan di dahi yang otomatis menyelamatkan. Gereja juga tidak pernah berkata bahwa simbol itu cukup tanpa pertobatan sejati. Namun Gereja dengan setia mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: Allah yang menciptakan manusia sebagai kesatuan jiwa dan raga menyelamatkan manusia dengan cara yang juga menyentuh jiwa dan raga.

Ketika seseorang berkata, “Tuhan menuntut hati, bukan simbol,” kita perlu bertanya dengan jujur: siapakah Tuhan yang sedang dibicarakan? Karena Allah yang kita imani dalam Kekristenan bukanlah Allah yang alergi terhadap simbol. Sejak awal Kitab Suci, Allah justru berbicara dan bekerja melalui tanda-tanda yang kelihatan. Ia memberi pelangi kepada Nuh, darah anak domba di pintu rumah Israel, tiang awan dan api di padang gurun, bahkan hukum Taurat yang ditulis di loh batu. Allah yang sama itulah yang pada kepenuhan waktu menjadi manusia, mengambil tubuh, wajah, tangan, dan darah dalam diri Yesus Kristus. Jika Allah sendiri tidak menghindari hal-hal lahiriah, mengapa kita justru menganggap simbol sebagai sesuatu yang bertentangan dengan iman sejati?

Rabu Abu tidak pernah dimaksudkan sebagai pengganti pertobatan. Rabu Abu adalah panggilan visual, fisik, dan publik untuk pertobatan itu sendiri. Abu di dahi bukan perhiasan rohani, melainkan pengakuan kerendahan hati: “Aku berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Dalam dunia yang terobsesi pada citra, kekuatan, dan validasi diri, tanda abu di dahi justru adalah tindakan melawan arus. Ia berkata kepada dunia: hidup ini fana, aku pendosa, dan aku membutuhkan belas kasih Allah.

Ironisnya, banyak kritik terhadap Rabu Abu justru datang dari budaya media sosial yang sangat menekankan ekspresi lahiriah. Orang yang berkata “iman itu di hati, bukan di dahi” sering kali tidak keberatan memamerkan ayat Alkitab di bio profil, salib di kalung, atau konten rohani di TikTok dan YouTube. Mengapa simbol-simbol itu dianggap sah, tetapi abu di dahi dianggap kosong? Jawabannya bukan teologis, melainkan ideologis. Ada ketakutan lama terhadap liturgi, terhadap Gereja, terhadap sesuatu yang diwariskan secara historis dan komunal.

Iman Katolik selalu berdiri di tengah-tengah ekstrem. Gereja menolak legalisme kosong, ritus tanpa pertobatan, tetapi juga menolak spiritualisme abstrak, iman tanpa tubuh, tanpa komunitas, tanpa tanda. Ketika Nabi Yoel berkata, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu,” Gereja tidak pernah membaca ayat ini sebagai penolakan terhadap tanda lahiriah, melainkan sebagai peringatan agar tanda lahiriah tidak menjadi sandiwara. Justru karena itulah Gereja mempertahankan Rabu Abu, agar setiap tahun kita diingatkan bahwa pertobatan itu serius, konkret, dan menuntut seluruh diri kita.

Abu itu bukan sihir. Abu itu khotbah. Ia berkhotbah tanpa kata. Ia mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang kebal terhadap kematian, bahwa kesombongan rohani sama berbahayanya dengan dosa terbuka, dan bahwa rahmat Allah selalu mendahului pertobatan kita. Ketika imam mengoleskan abu sambil berkata, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil,” Gereja sedang menyatukan firman dan tanda, seperti yang Allah selalu lakukan sepanjang sejarah keselamatan.

Di tengah maraknya konten media sosial yang menyederhanakan iman menjadi slogan-slogan singkat, Gereja Katolik mengajak kita untuk berpikir lebih dalam. Iman bukan reaksi emosional sesaat, bukan juga performa publik yang mencari likes. Iman adalah perjalanan seumur hidup yang dibentuk oleh doa, sakramen, disiplin rohani, dan simbol-simbol kudus yang mendidik hati kita secara perlahan. Abu di dahi mungkin akan hilang dalam beberapa jam, tetapi pesannya dimaksudkan untuk tinggal sepanjang masa Prapaskah, bahkan sepanjang hidup.

Jika seseorang benar-benar memiliki hati yang hancur di hadapan Tuhan, ia tidak akan meremehkan sarana yang Tuhan pakai untuk membentuk hati itu. Dan jika seseorang menolak simbol atas nama iman batin, patut dipertanyakan apakah yang ditolak itu simbolnya, atau justru otoritas Gereja yang diwariskan oleh Kristus sendiri. Sebab iman Kristen sejak awal bukan iman individualistis, melainkan iman Gereja, iman yang dirayakan bersama, ditandai bersama, dan dijalani bersama.

Maka Rabu Abu bukan simbol kosong. Yang kosong adalah simbol yang dilepaskan dari iman, dan yang berbahaya adalah iman yang merasa tidak membutuhkan simbol. Gereja Katolik, dengan kebijaksanaan dua ribu tahunnya, mengajarkan kita untuk menyatukan keduanya: hati yang bertobat dan dahi yang ditandai, iman yang hidup dan tanda yang mengajar, kerendahan batin dan kesaksian lahiriah. Di dunia yang bising dan penuh penolakan terhadap tradisi, Rabu Abu berdiri sebagai undangan sunyi namun kuat: berhentilah sejenak, ingatlah siapa dirimu, dan kembalilah kepada Tuhan yang penuh belas kasih.

Dan justru di situlah letak kekuatan iman Katolik, iman yang tidak takut disentuh, tidak takut dilihat, dan tidak takut direndahkan, karena ia tahu bahwa dari debu itulah Allah membentuk orang-orang kudus.

Selamat memasuki Masa Prapaskah.Tuhan memberkati 🙏💙