Dengar kata “ungu”, mungkin yang terlintas di kepala Anda adalah warna kesukaan para janda (menurut mitos urban kita), tren warna “aesthetic” anak muda, atau mungkin warna kebesaran band rock zaman dulu. Namun, di dalam tradisi Gereja Katolik, ungu bukan soal selera fashion atau tren musiman, ungu adalah warna “memar” spiritual yang sangat berkelas.
Jika kita bedah secara teologis, ungu adalah hasil “perselingkuhan” visual antara merah yang membara (simbol kasih dan darah) dengan biru yang tenang (simbol surgawi). Hasilnya? Sebuah warna yang tidak sekelam hitam yang melambangkan maut, tapi juga tidak secerah putih yang melambangkan kemenangan. Ungu adalah warna “ruang tunggu” spiritual, sebuah sinyal darurat bagi ego kita untuk segera tiarap dan mengakui bahwa kita ini sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Dulu, pada zaman Romawi, warna ungu, atau yang dikenal sebagai Tyrian Purple, adalah simbol “flexing” paling maut. Pigmennya diekstrak dari ribuan siput laut yang prosesnya sangat rumit, sehingga harganya jauh melambung tinggi. Hanya kaisar dan kaum ningrat yang boleh memakainya. Ungu adalah simbol kekuasaan korporat dan status sosial yang kaku.
Namun, Gereja melakukan sebuah plot twist sejarah yang luar biasa tajam. Saat Yesus hendak disalibkan, para prajurit Romawi memakaikan jubah ungu kepada-Nya bukan untuk menghormati, melainkan untuk mengejek-Nya sebagai “Raja” gadungan. Di sinilah letak revolusi maknanya: Gereja mengubah simbol kesombongan duniawi itu menjadi simbol kedaulatan yang menderita. Sejak saat itu, ungu tidak lagi bicara soal berapa banyak siput laut yang Anda miliki, melainkan soal seberapa besar kerendahan hati Anda di hadapan Tuhan yang mau dihina.
Secara formal, warna ini baru “diketok palu” menjadi standar liturgi oleh Paus Inosensius III pada abad ke-13, yang kemudian dipertegas lagi setelah Konsili Trente. Mengapa ungu dipilih untuk masa Prapaskah dan Advent? Karena ungu memiliki frekuensi batin yang menuntut ketenangan. Ia adalah warna yang “berat”. Memandang ungu di altar atau pada stola imam saat Sakramen Pengakuan Dosa seharusnya membuat kita merasa sedikit tidak nyaman, seperti diingatkan tentang utang yang belum lunas.
Ini adalah warna mati raga. Mati raga sendiri bukan hobi masokis untuk menyiksa diri, melainkan cara kita “menampar” keinginan daging yang terlalu manja agar roh kita tidak mati kelaparan. Ungu memaksa kita masuk ke dalam gua batin, menutup kebisingan notifikasi ponsel, dan berhadapan langsung dengan “kegelapan” dosa kita sendiri.
Jadi, kalau Anda melihat pastor memakai stola ungu, atau kasula ungu itu bukan karena dia sedang ingin tampil nyentrik, tapi karena dia sedang mengajak kita mengenakan “seragam memar” tersebut. Kita diingatkan bahwa pertobatan itu memang perih-perih sedap, ada harga yang harus dibayar melalui pantang dan puasa untuk sebuah pemulihan jiwa. Ungu adalah jembatan yang menghubungkan kehancuran kita dengan kerahiman Allah.
Ia adalah pengingat bahwa sebelum kita berhak memakai baju pesta putih di hari Kebangkitan nanti, kita harus berani dulu berkaca pada warna ungu, mengakui kerentanan kita, dan membiarkan ego kita “memar” agar kasih Tuhan bisa meresap masuk. Pada akhirnya, ungu adalah tentang penderitaan yang estetik, penderitaan yang tidak sia-sia karena ia mengarah pada kemuliaan.