Berhadapan dengan pernyataan ini, kita perlu menanggapinya dengan tenang, jernih, dan penuh iman. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan keyakinan bahwa kebenaran Injil tidak rapuh oleh kritik, justru semakin bercahaya ketika dipahami secara utuh. Tanggapan ini bukan dimaksudkan untuk menyerang siapa pun, melainkan untuk menguatkan umat Katolik yang mungkin goyah imannya karena potongan video, komentar singkat, atau narasi provokatif di media sosial seperti YouTube, TikTok, dan Facebook, ruang-ruang yang sering kali lebih mengutamakan sensasi daripada kedalaman.
Inti dari kritik tersebut di atas, bertumpu pada anggapan bahwa Jalan Salib hanyalah ritual visual yang berlebihan, emosional, bahkan dianggap “mengalihkan” perhatian dari Injil yang sejati. Di sini kita perlu berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: apa yang dimaksud dengan “inti Injil”? Injil bukan sekadar kumpulan kata-kata indah atau ajaran moral abstrak. Injil adalah kabar baik tentang karya keselamatan Allah yang nyata dalam sejarah, yang berpuncak pada sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan kita, Yesus Kristus. Jika demikian, bagaimana mungkin merenungkan sengsara Kristus justru dianggap mengaburkan Injil, padahal sengsara itu sendiri adalah jantung Injil?
Jalan Salib tidak lahir dari kekosongan teologis atau dari keinginan Gereja untuk “menambah-nambahi” iman Kristen. Ia lahir dari cinta dan ingatan. Sejak abad-abad awal, umat Kristen ingin mengenang dengan setia langkah-langkah Tuhan mereka menuju Kalvari. Ketika tidak semua orang bisa pergi ke Tanah Suci, Gereja, sebagai ibu yang penuh kebijaksanaan, membawa Tanah Suci itu ke dalam komunitas umat melalui Jalan Salib. Ini bukan pengganti Injil, melainkan cara konkret untuk masuk ke dalam Injil dengan seluruh keberadaan manusia: akal budi, perasaan, tubuh, dan jiwa.
Kritik yang menyebut Jalan Salib sebagai “ritual visual” sering kali berangkat dari cara pandang yang sangat sempit tentang bagaimana manusia belajar dan beriman. Alkitab sendiri penuh dengan simbol, tindakan profetis, dan pengalaman inderawi. Allah tidak hanya berbicara lewat kata-kata; Ia juga bertindak, menyentuh, berjalan, menderita, dan wafat. Injil ditulis bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihidupi dan direnungkan. Jalan Salib adalah bentuk lectio divina yang bergerak, meditasi Injil yang diwujudkan dalam langkah demi langkah, perhentian demi perhentian.
Perlu ditegaskan dengan jelas: Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa keselamatan datang dari ritual itu sendiri. Keselamatan adalah anugerah Allah semata, melalui Kristus. Jalan Salib tidak “menambah” karya penebusan Kristus, tetapi membantu kita memasuki misteri itu dengan lebih dalam. Ketika umat berhenti di perhentian pertama, merenungkan Yesus yang dijatuhi hukuman mati, kita sedang dihadapkan pada realitas ketidakadilan yang juga masih terjadi hari ini. Ketika kita melihat Yesus jatuh dan bangkit kembali, kita belajar bahwa rahmat Allah bekerja bahkan di tengah kegagalan manusia. Di mana tepatnya inti Injil menjadi kabur di sini?
Sering kali kritik semacam ini juga mencerminkan ketakutan terhadap devosi dan tradisi, seolah-olah iman Kristen yang murni harus selalu steril dari sejarah dan budaya. Namun iman Kristen sejak awal adalah iman yang menjelma, inkarnasional. Allah menjadi manusia, masuk ke dalam budaya, bahasa, dan pengalaman konkret manusia. Gereja, yang adalah Tubuh Kristus, melanjutkan cara inkarnasional ini dalam pewartaan imannya. Jalan Salib adalah contoh nyata dari iman yang menjelma: Injil yang “diterjemahkan” ke dalam gerak, gambar, dan keheningan.
Ada pula yang mengatakan bahwa Jalan Salib terlalu fokus pada penderitaan dan salib, sehingga mengaburkan kebangkitan. Ini adalah dikotomi palsu. Dalam iman Katolik, salib dan kebangkitan tidak pernah dipisahkan. Justru karena ada kebangkitan, salib tidak menjadi tragedi tanpa harapan. Dan justru karena salib itu nyata dan menyakitkan, kebangkitan menjadi sungguh-sungguh kabar baik. Jalan Salib biasanya didoakan dalam terang iman Paskah. Kita merenungkan penderitaan bukan untuk terjebak dalam kesedihan, tetapi untuk menyadari betapa besar kasih Allah yang rela menderita bagi kita.
Bagi mereka yang terbiasa dengan format media sosial yang serba cepat, Jalan Salib mungkin terasa “berat” dan “tidak relevan”. Tetapi iman bukanlah konten hiburan. Iman adalah relasi. Dan relasi yang mendalam membutuhkan waktu, keheningan, dan kesetiaan. Jalan Salib melatih umat Katolik untuk melawan budaya instan, budaya scroll tanpa refleksi, dan mengajak kita berhenti, menatap, dan mendengarkan. Dalam dunia yang penuh distraksi, justru praktik seperti inilah yang menjaga Injil tetap hidup dan tidak dangkal.
Kita juga perlu jujur mengakui bahwa setiap praktik iman bisa disalahpahami atau dijalani secara dangkal, termasuk Jalan Salib. Tetapi penyalahgunaan tidak membatalkan penggunaan yang benar. Jika ada umat yang mendoakan Jalan Salib secara mekanis tanpa refleksi, solusinya bukan membuang Jalan Salib, melainkan memperdalam katekese dan pembinaan iman. Gereja selalu mengundang umat untuk memahami makna di balik setiap perhentian, bukan sekadar mengulang doa.
Di sinilah peran apologetika Katolik menjadi penting, bukan sebagai alat untuk berdebat tanpa kasih, tetapi sebagai sarana untuk memberi alasan atas harapan yang kita miliki. Ketika kita ditantang di kolom komentar atau video reaksi, kita tidak perlu merasa minder atau defensif. Kita bisa dengan tenang mengatakan bahwa Jalan Salib bukanlah penghalang Injil, melainkan jendela yang membantu banyak orang melihat Injil dengan lebih jelas, terutama mereka yang belajar bukan hanya lewat kata, tetapi lewat pengalaman.
Iman Katolik kaya karena ia setia pada Injil sekaligus jujur pada kemanusiaan kita. Jalan Salib mengakui bahwa manusia sering kali memahami kasih bukan pertama-tama lewat definisi, melainkan lewat pengorbanan. Ketika kita melihat Yesus yang memanggul salib, kita diingatkan bahwa Allah tidak tinggal jauh di surga, tetapi berjalan bersama kita di jalan-jalan penderitaan hidup. Pesan ini sangat relevan di zaman sekarang, ketika banyak orang memikul salib berupa kesepian, tekanan ekonomi, penyakit, dan ketidakadilan.
Akhirnya, marilah kita tidak gentar menghadapi kritik. Gereja telah melewati dua ribu tahun tantangan, jauh sebelum ada algoritma dan viralitas. Jalan Salib tetap didoakan bukan karena Gereja keras kepala, tetapi karena Gereja tahu bahwa di sanalah banyak jiwa menemukan penghiburan, pertobatan, dan harapan. Jika ada yang mengatakan bahwa praktik ini mengaburkan Injil, kita justru bersaksi, dengan hidup dan kata-kata, bahwa bagi kita, Jalan Salib adalah salah satu cara Injil menjadi terang di tengah kegelapan dunia.
Semoga tanggapan ini meneguhkan Anda yang mungkin lelah membaca komentar sinis atau menonton video yang meremehkan iman. Ingatlah: Injil tidak bergantung pada persetujuan dunia. Dan Jalan Salib, ketika dihayati dengan iman, tidak pernah menjauhkan kita dari Kristus, ia justru membawa kita berjalan lebih dekat dengan-Nya, langkah demi langkah, hingga terang kebangkitan menyinari seluruh hidup kita.