Sore di Teras Pastoran
Sore itu langit agak mendung, mendukung suasana syahdu di teras pastoran. Saya mampir sebentar niatnya mau minta tanda tangan untuk proposal koor Paskah, eh malah keterusan ngobrol sama Romo yang kebetulan lagi santai menikmati teh hangat.
Iseng, saya melempar pertanyaan yang sebenarnya sudah lama mengganjal di kepala saya, tapi sering malu buat ditanyakan.
Tentang hitung-hitungan Masa Prapaskah yang sering bikin bingung: katanya 40 hari, tapi kalau dihitung di kalender kok beda?
Obrolan sore itu ternyata membuka mata saya lebar-lebar. Bukan cuma soal angka, tapi soal rasa.
Matematika Iman & Retret Agung
[Saya]: “Romo, mumpung santai nih. Saya mau tanya sesuatu yang agak teknis tapi mendasar. Sekarang kan Masa Prapaskah. Sebenarnya, definisi Prapaskah secara resmi menurut Gereja itu apa sih, Mo? Jangan pakai bahasa dewa ya, Mo, biar saya paham.”
[Romo]: Tersenyum sambil meletakkan cangkir tehnya. “Siap, Mas Bayu. Jadi begini, secara terminologi, kita sering menyebutnya Quadragesima dalam bahasa Latin, yang artinya yang keempat puluh. Ini merujuk pada durasi waktunya.
Tapi secara teologis, seperti yang tertulis di Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium (artikel 109), Prapaskah itu punya dua ciri khas utama: mengenangkan atau menyiapkan Pembaptisan, dan membina pertobatan.”
[Saya]: “Oke, jadi intinya persiapan dan tobat. Mirip gladi resik sebelum konser akbar Paskah ya, Mo?”
[Romo]: “Analogi yang bagus khas dirigen! Betul, ini semacam Retret Agung umat beriman. Tujuannya supaya saat Paskah nanti, hati kita sudah di-stem ulang, suaranya fals-nya hilang, dan siap menyanyikan Alleluya dengan jiwa yang bersih.”
[Saya]: “Nah, sekarang masuk ke matematikanya nih, Mo. Katanya 40 hari. Tapi kalau saya hitung manual dari Rabu Abu sampai Sabtu Suci, itu totalnya 46 hari lho. Kok bisa dibilang 40 hari? Diskonnya di mana?”
[Romo]: Tertawa kecil. “Jeli juga Mas Bayu ini. Memang total harinya 46, TAPI… Gereja tidak berpuasa atau melakukan laku tobat di hari Minggu.
Hari Minggu itu Dies Domini, Hari Tuhan, hari kebangkitan kecil. Masa kita sedih-sedihan di hari kebangkitan? Jadi, 6 hari Minggu selama masa Prapaskah itu tidak dihitung dalam kuota 40 hari itu.”
[Saya]: “Oalah! Jadi Minggunya di-skip hitungannya? Pantesan. Terus, batas akhirnya kapan, Mo? Sampai Sabtu Suci pagi atau gimana? Kan ada yang bilang Sabtu pagi masih Prapaskah?”
[Romo]: “Nah, ini miskonsepsi yang umum. Secara liturgis, Masa Prapaskah itu berakhir persis sebelum Misa Perjamuan Tuhan di hari Kamis Putih sore.
Begitu masuk Misa Kamis Putih, kita sudah tidak lagi di Masa Prapaskah, tapi masuk ke Trihari Suci (Triduum). Jadi Sabtu Suci itu bukan lagi Prapaskah, tapi bagian dari puncak liturgi kita.”
[Saya]: “Sebentar, Mo… Saya potong sedikit. Tadi Romo bilang Prapaskah stop di Kamis Putih sore. Kalau saya pakai kalkulator nih ya: Rabu Abu sampai Rabu dalam Pekan Suci itu totalnya sekitar 44 hari.
Kalau dikurangi 6 hari Minggu (yang katanya libur puasa), sisanya tinggal 38 hari dong? Mana genap 40-nya? Kurang 2 hari nih, Mo. Apa saya yang salah hitung?”
[Romo]: Tepuk tangan pelan sambil geleng-geleng kagum. “Wah, ini nih yang saya suka. Kritis! Mas Bayu benar. Kalau dihitung secara matematika murni berdasarkan kalender liturgi baru (setelah tahun 1970), jumlah hari efektif dalam Masa Prapaskah itu memang hanya sekitar 38 hari.”
[Saya]: “Lha? Terus istilah 40 Hari itu hoax dong, Mo? Atau cuma gimmick marketing gereja?”
[Romo]: “Hush, bukan hoax. Jadi begini sejarahnya. Dulu, sebelum reformasi liturgi, Masa Prapaskah itu memang dihitung bablas sampai Sabtu Suci siang. Jadi pas 40 hari.
Nah, setelah reformasi liturgi, Gereja ingin mengembalikan fokus bahwa Trihari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci) itu adalah Induk dari segala perayaan, bukan sekadar ending-nya Prapaskah.
Maka, dipisahkanlah Trihari Suci sebagai musim liturgi tersendiri. Akibatnya, durasi Prapaskah secara teknis terpotong di Kamis sore.”
[Saya]: “Oke, secara administrasi liturgi dipisah. Tapi angkanya jadi nggak pas 40 dong?”
[Romo]: “Di sinilah letak kuncinya: 40 itu Angka Biblis, bukan Angka Statistik. Gereja mempertahankan istilah Quadragesima (40 Hari) karena nilai simbolisnya yang kuat, mengingatkan pada 40 hari Yesus di gurun.
Tapi… ada tapinya nih. Kalau Mas Bayu mau hitungan yang pas 40 hari secara praktik laku tobat, coba tambahkan Paschal Fast.”
[Saya]: “Waduh, istilah baru lagi nih, Mo. Paschal Fast? Itu makhluk apa lagi? Bedanya apa sama puasa yang biasa kita lakukan pas Rabu Abu? Terus, aturan mainnya ada di buku mana? Jangan-jangan cuma tradisi lisan aja?”
[Romo]: “Hahaha, tenang Mas. Ini resmi dan tertulis hitam di atas putih kok. Istilah Puasa Paschal (Puasa Paskah) itu definisinya adalah puasa yang dilakukan pada hari Jumat Agung dan jika memungkinkan diperpanjang sampai Sabtu Suci, tepat sebelum Vigili Paskah.”
[Saya]: “Oke, durasinya jelas. Jumat Agung sampai Sabtu. Tapi bedanya apa sama yang 38 hari kemarin?”
[Romo]: “Bedanya di MOTIVASI atau rasanya, Mas.
Kalau puasa di Masa Prapaskah itu sifatnya Penitential (Pertobatan). Kita puasa karena kita menyesal atas dosa, kita mau diet dari kesenangan duniawi. Nuansanya prihatin.
Nah, kalau Puasa Paskah, nuansanya itu Anticipatory (Penantian). Kita puasa bukan karena sedih, tapi karena excited! Kita menahan makan supaya nanti pas Misa Vigili Paskah, kegembiraan kita pecah seutuhnya.”
[Saya]: “Bentar Mo, saya masih loading… Puasa kok karena excited?”
[Romo]: “Bayangkan gini, Mas Bayu. Mas Bayu mau menikah jam 10 pagi. Kira-kira jam 7 pagi Mas Bayu sibuk makan nasi padang sebungkus penuh nggak?”
[Saya]: “Ya enggak lah, Mo! Nggak nafsu makan. Pasti dheg-dhegan, sibuk dandan, fokus nunggu momen ijab kabul atau pemberkatan. Perut rasanya kenyang sendiri karena nervous campur bahagia.”
[Romo]: “NAH! Itu dia rasa dari Puasa Paskah atau Paschal Fast! Gereja mengajak kita puasa di Jumat Agung dan Sabtu Suci itu seperti mempelai yang menanti kedatangan Pengantin Pria (Kristus yang Bangkit).
Kita nggak makan bukan karena dihukum, tapi karena kita sedang fokus menanti momen terbesar dalam sejarah. Kita mengosongkan diri supaya siap diisi penuh oleh sukacita Kebangkitan.”
[Saya]: “Wah, mindblowing nih analoginya. Masuk akal! Jadi Sabtu Suci itu kita puasa karena dheg-dhegan nunggu Yesus bangkit ya. Keren… Terus, aturan tertulisnya ada di mana, Mo? Biar saya nggak dikira ngarang kalau jelasin ke teman-teman OMK.”
[Romo]: “Catat ya, Mas. Sumber utamanya ada di dokumen Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concilium (Konstitusi tentang Liturgi Suci) Artikel 110. Bunyinya kurang lebih begini:
* Nevertheless, let the paschal fast be kept sacred. Let it be celebrated everywhere on Good Friday and, where possible, prolonged throughout Holy Saturday, so that the joys of the Sunday of the resurrection may be attained with uplifted and clear mind.•
Terjemahannya:
* Meskipun demikian, puasa Paskah harus tetap disucikan. Hendaknya dirayakan di mana-mana pada Jumat Agung dan, jika memungkinkan, diperpanjang hingga Sabtu Suci, sehingga sukacita Minggu Kebangkitan dapat diraih dengan pikiran yang jernih dan penuh sukacita.•
Selain itu, juga ditegaskan lagi di dokumen Pedoman Umum Tahun Liturgi dan Kalender (Pasal 20). Jadi ini bukan aturan konon katanya, tapi instruksi resmi Gereja.”
[Saya]: “Sip, jelas banget sekarang. Jadi Jumat Agung itu wajib (karena tobat), tapi Sabtu Suci itu sangat dianjurkan (karena penantian). Pantesan Romo kalau Sabtu Suci pagi mukanya kelihatan lapar tapi berseri-seri.”
[Romo]: “Hahaha, bisa aja Mas Bayu. Ya begitulah. Jadi tahun ini, coba deh ajak teman-teman koor: Sabtu Suci jangan balas dendam makan enak dulu pas siang-siang. Tahan dikit sampai malam, biar pas nyanyi Kemuliaan dan Alleluya, rasanya bener-bener plong!”
[Romo]: “Lanjut yang terpotong tadi ya… Jadi meskipun Prapaskah (Liturgis) selesai di Kamis sore, semangat tobat dan puasanya kan tidak berhenti mendadak. Kita masih lanjut puasa dan pantang di Jumat Agung dan Sabtu Suci.
Coba hitung: 38 hari (Masa Prapaskah efektif tanpa Minggu) + 2 hari (Jumat Agung & Sabtu Suci) = 40 hari.
Jadi, secara spirit dan praktik peniten, kita tetap menjalani masa persiapan selama 40 hari sampai malam Paskah (Vigili), meskipun secara label kalender liturgi, 2 hari terakhir itu sudah masuk wilayah Trihari Suci.”
[Saya]: “Ooooh… Masuk akal! Jadi 38 hari di dalam Masa Prapaskah, plus 2 hari di dalam Trihari Suci, totalnya tetap 40 hari ya, Mo?”
[Romo]: “Tepat sekali! Jadi jangan bingung lagi ya. Gereja itu tidak salah hitung kok, cuma membagi kamarnya saja yang berbeda demi menonjolkan keagungan Trihari Suci.
Angka 40 dalam liturgi lebih merujuk pada Simbolis Teologis (seperti Yesus di gurun) daripada sekadar hitungan matematika kalender. Namun, genapnya 40 hari didapat dengan menggabungkan Masa Prapaskah + Puasa Jumat Agung & Sabtu Suci.”
[Saya]: “Wah, baru ngeh saya. Berarti Kamis sore sudah ganti babak ya. Terus soal aturan mainnya, Mo. Kapan wajib puasa, kapan wajib pantang? Kadang umat suka ketukar-tukar.”
[Romo]: “Simpelnya begini:
* Puasa & Pantang: Wajib dilakukan serentak di dua hari saja: Rabu Abu dan Jumat Agung.
* Pantang saja: Wajib setiap hari Jumat selama masa Prapaskah.
Tapi ingat, Mas Bayu. Itu aturan minimal. Maknanya bukan sekadar diet atau ganti menu ikan lho ya. Esensinya adalah pengendalian diri dan solidaritas.
Uang jatah makan yang dihemat itu, disumbangkan untuk yang membutuhkan (Aksi Puasa Pembangunan). Kalau cuma tahan lapar tapi mulut masih nyinyir atau duitnya dipakai belanja online, ya percuma.”
[Saya]: “Jleb banget, Mo. Hahaha. Terakhir nih, kenapa harus angka 40? Kenapa nggak 30 atau 50 hari biar bulat?”
[Romo]: “Angka 40 itu angka biblis yang sangat kuat, simbol masa persiapan dan ujian. Ingat Musa berpuasa 40 hari di Gunung Sinai? Elia berjalan 40 hari ke Gunung Horeb? Bangsa Israel 40 tahun di padang gurun?
Dan puncaknya, Yesus sendiri berpuasa 40 hari di padang gurun sebelum memulai karya-Nya. Kita mau meneladan Yesus, masuk ke padang gurun batin kita, supaya mental kita siap menyambut kemenangan Paskah.”
Mendengar penjelasan Romo, saya jadi manggut-manggut. Ternyata Masa Prapaskah itu bukan sekadar ritual tahunan yang menyiksa perut, tapi sebuah kesempatan mewah yang diberikan Gereja untuk menyetem ulang hati kita.
Seperti instrumen musik, kalau dipakai terus tanpa pernah dirawat, suaranya bakal sumbang. 40 hari ini adalah waktu maintenance rohani kita. Minggunya tetap istirahat (karena Tuhan itu baik), tapi fokusnya tetap satu: kembali fitrah sebagai anak Allah.
Jadi, sudah siap masuk bengkel rohani mulai Rabu Abu ini?
Berkah Dalem.
Bayu Nerviadi C., C