Peristiwa inkarnasi Sang Sabda menjadi manusia adalah kejadian yang mempunyai makna sangat kaya dan mendalam. Kekayaan dan kedalaman makna itu tidak bisa sungguh diserap dan dihayati umat hanya dalam satu kali perayaan Ekaristi pada Malam Natal. Kekayaan dan kedalaman makna ini tercermin secara sangat jelas dalam berbagai renungan yang dilakukan para Bapa Gereja tentang peristiwa yang luhur dan mulia ini. Dengan Novena Natal, *kekayaan dan kedalaman makna Natal* bisa diuraikan dan dengan demikian dinikmati umat untuk memperkaya penghayatan iman. Novena Natal menjadi *sarana untuk berkatekese secara efektif*, sekaligus *merayakan iman*. Tentu saja, Novena Natal tetap harus *bersifat persiapan*, dan *bukan mendahului perayaan Malam Natal*.
KETERANGAN NOVENA NATAL
persiapan jangka pendek menyambut Natal tidak dimaksudkan sebagai novena, karena dimulai 17 Desember. Konsekuensinya, jarak dari 17 sampai 24 Desember hanya delapan pagi hari atau tujuh sore. Jika untuk persiapan jangka pendek digunakan Novena Natal tentu awal novena harus dimajukan. Jika diadakan sore hari, Novena Natal diadakan 15 sampai 23 Desember. Jika diadakan pagi hari, Novena Natal bisa dilakukan 16 sampai 24 Desember. Atau kompromi antara keduanya, yaitu diadakan setiap sore mulai 16 Desember dan ditutup 24 Desember pagi. Kompromi ini diambil Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
Penetapan waktu ini bukan ketentuan resmi yang mengikat, tapi hanya usulan praktis. Beberapa paroki merasa bahwa novena sebaiknya diadakan sore hari supaya bisa diikuti lebih banyak umat. Di Filipina, Novena Natal (filipino: simbang gabi) diadakan sebelum fajar, sekitar pukul 04.00 atau 04.30, dan karena itu diawali 16 Desember.