KOSHER DAGING BABI BUKAN PERINTAH INJIL

KOSHER DAGING BABI BUKAN PERINTAH INJIL

Dalam kitab Perjanjian Lama, tepatnya dalam kitab Imamat 11 dan Ulangan 14, terdapat larangan untuk mengkonsumsi daging babi. Namun orang Kristen perlu memahami bahwa larangan makan babi bagi orang Yahudi itu bukan sekadar soal “Tuhan benci babi,” melainkan soal identitas budaya dan kelangsungan hidup di tengah padang gurun. Secara sosiologis dan ekologis, babi adalah hewan yang sangat tidak praktis di Timur Tengah kuno yang gersang. Babi butuh banyak air untuk mendinginkan kulitnya yang tak berpori, tidak menghasilkan susu atau wol, dan memakan biji-bijian yang sama dengan manusia.

Di ekosistem yang keras, memelihara babi itu seperti memelihara liabilitas ekonomi yang rakus. Jadi, babi menjadi “haram” bukan karena ia mengandung partikel dosa, atau hal-hal yang dikaitkan dengan kenajisan melainkan sebagai cara Tuhan memberikan “pagar budaya” dan manajemen sumber daya bagi umat-Nya. Sama seperti sunat, pantang babi adalah “KTP spiritual” atau penanda identitas nasional bangsa Israel agar mereka tidak larut dalam budaya penyembah berhala di sekitarnya. Namun, bagi orang Kristen, identitas kita bukan lagi dicap pada kulit khatan atau isi piring, melainkan dicap oleh Roh Kudus di dalam hati.

Lucunya, belakangan ini muncul tren “heresi lebay” (bidat berlebihan) dari sekelompok denominasi yang mendadak ingin “pulang kampung” ke tradisi Yahudi. Mereka ini pengikut Kristus, tapi kelakuannya lebih mirip polisi syariat di zaman Imamat. Mereka menyatukan hati dengan kalangan dari tradisi agama lain yang membangun narasi merendahkan orang Kristen yang makan babi, membawa-bawa argumen soal darah yang haramlah, atau babi itu binatang terkutuklah, seolah-olah keselamatan mereka bergantung pada seberapa bersih lambung mereka dari lemak babi.

Ini adalah bentuk delusi spiritual yang akut. Mereka merasa “lebih suci” karena tidak makan babi, padahal di saat yang sama, mulut mereka tidak henti-hentinya memuntahkan penghakiman, kesombongan rohani, dan sikap merendahkan orang lain. Ini adalah ironi yang menohok: piringnya mungkin “kosher,” tapi hatinya “najis” tiada tara. Mereka mencari kekudusan di dalam kulkas, padahal kekudusan itu adanya di dalam karakter. Jika imanmu hanya sebatas memilah menu di restoran, maka imanmu tak lebih dari sekadar program diet yang dibungkus ayat-ayat suci.

Perjanjian Baru sebenarnya sudah memberikan jawaban yang sangat “santuy” tapi telak melalui bibir Yesus sendiri. Dalam Injil Markus 7 dan Matius 15, Yesus memberikan kuliah biologi singkat yang menghancurkan seluruh bangunan legalisme makanan. Yesus menegaskan bahwa apa pun yang masuk dari luar ke dalam mulut seseorang tidak dapat menajiskannya, karena itu tidak masuk ke hati, melainkan ke perut, lalu berakhir di jamban, sebuah proses pembuangan akhir yang sangat sekuler dan tidak ada urusan dengan surga.

Yesus sedang berkata: “Berhenti panik soal apa yang kamu kunyah!” Yang justru menjadi masalah besar bagi Yesus adalah apa yang keluar dari mulut, seperti fitnah, sombong, iri hati, dan kata-kata kasar. Inilah yang benar-benar najis. Kita sering kali menjadi orang-orang konyol yang merasa sangat religius karena menjauhi babi, tapi di saat yang sama, kita “mengunyah” harga diri sesama kita lewat gosip dan penghakiman. Kita lebih takut pada kolesterol babi daripada pada “racun” kata-kata yang keluar dari bibir kita sendiri. Dan tragis karena itu dianggap kewajaran. Nilai bukan lagi pada apa yang benar objektif tapa apa yang membuat saya menang.

Landasan biblis kita sudah sangat terang benderang. Melalui visi Petrus dalam Kisah Para Rasul 10, Allah secara eksplisit menyatakan bahwa apa yang telah Allah tahirkan tidak boleh kita sebut haram. Visi itu bukan cuma soal menu makanan, tapi soal meruntuhkan tembok pemisah antarmanusia. Lalu ada Paulus dalam Roma 14 dan Kolose 2 yang sudah memberikan “fatwa merdeka”: Kerajaan Allah itu bukan soal makanan dan minuman, tapi soal kebenaran dan damai sejahtera.

Bahkan dalam Galatia 5, Paulus memperingatkan dengan sangat keras bahwa mereka yang mencoba kembali ke hukum-hukum ritual kuno seperti sunat atau pantang makanan tertentu sebenarnya sedang jatuh dari kasih karunia dan menghina kebebasan yang sudah dibeli oleh Kristus. Memaksakan narasi babi itu kotor dan berbagai istilah yang merendahkan lainnya, sehingga tidak boleh dikonsumsi bagi orang Kristen itu ibarat memaksa orang dewasa kembali merangkak dan memakai popok bayi hanya karena dulu nenek moyangnya melakukan itu di padang gurun.

Jadi, bagi orang Kristen lawan setiap stigma dari siapa pun yang mencoba menjadi “polisi piring” bagi kekristenan. Kekristenan adalah tentang transformasi hati, bukan tentang inspeksi dapur. Jika ada yang memilih tidak makan babi karena alasan kesehatan atau selera, atau larangan ideologi ya silakan saja, tapi jangan pernah memolesnya dengan bahasa teologis seolah-olah itu membuat yang bersangkutan lebih dekat ke surga daripada orang yang makan sate babi.

Fokuslah pada “diet rohani” yang jauh lebih penting: kurangi konsumsi kebencian, hindari lemak kesombongan, dan berhentilah menelan mentah-mentah doktrin yang membuat dirimu jadi hakim bagi orang Kristen. Sebab pada akhirnya, babi tidak akan menghalangi jalanmu ke surga, tapi lidah yang penuh racun dan hati yang merasa paling benar itulah yang akan membuat hidupmu (dan orang di sekitarmu) terasa seperti neraka. Mari kita makan dengan syukur, bicara dengan kasih, dan berhenti menajiskan apa yang sudah Tuhan bebaskan.

Tuhan Memberkati