Pertanyaan ini sering muncul, bukan hanya sebagai pertanyaan teologis, tetapi sebagai tuduhan. Di berbagai platform media sosial: YouTube, TikTok, dan Facebook, kita kerap mendengar kalimat seperti ini:
“Kalau sakramen Katolik bekerja secara otomatis, lalu untuk apa iman?” Atau, “Bukankah itu membuat sakramen seperti ritual magis, asal dilakukan pasti berkhasiat?”
Tuduhan-tuduhan ini, bila tidak dijawab dengan tenang dan mendalam, bisa menggoyahkan iman banyak orang, terutama umat yang sedang bertumbuh atau yang baru belajar memahami ajaran Gereja.
Karena itu, mari kita berhenti sejenak. Kita tidak menjawab dengan emosi, bukan dengan sindiran, melainkan dengan terang iman dan akal budi yang telah diwariskan Gereja selama dua ribu tahun. Kita mulai dengan memahami apa sebenarnya yang dimaksud Gereja ketika berbicara tentang ex opere operato.
Istilah ex opere operato berasal dari bahasa Latin, yang secara sederhana berarti “dari karya yang dilakukan itu sendiri.” Gereja mengajarkan bahwa sakramen-sakramen sungguh memberikan rahmat karena Kristus sendirilah yang bekerja di dalamnya. Bukan karena kekudusan imam, bukan karena kehebatan liturgi, dan bahkan bukan pertama-tama karena perasaan subjektif penerima sakramen, melainkan karena janji Allah yang setia. Sakramen bekerja karena Allah setia pada Sabda-Nya.
Di sinilah kita harus sangat hati-hati. Ex opere operato bukan berarti “otomatis tanpa iman.” Gereja tidak pernah mengajarkan itu. Yang diajarkan Gereja adalah bahwa sumber daya sakramen bukan iman manusia, melainkan tindakan Kristus sendiri. Ini justru kabar baik, bukan ancaman bagi iman.
Bayangkan jika sakramen hanya bekerja sejauh iman manusia sempurna. Maka tidak ada seorang pun yang bisa benar-benar yakin akan keselamatan atau rahmat Allah. Siapa di antara kita yang bisa berkata bahwa imannya selalu murni, selalu kuat, tidak pernah ragu? Jika rahmat sakramen bergantung sepenuhnya pada kualitas iman kita, maka sakramen berubah menjadi cermin ketidaksempurnaan manusia. Tetapi Allah tidak mengikat rahmat-Nya pada ketidakstabilan perasaan manusia. Ia mengikatnya pada kesetiaan-Nya sendiri.
Di sinilah keindahan iman Katolik tampak. Gereja mengakui bahwa iman manusia bisa lemah, bisa tertatih, bisa bahkan nyaris padam. Namun Kristus tetap setia bekerja. Sakramen adalah pelukan Allah bagi manusia yang rapuh.
Lalu di mana peran iman? Apakah iman menjadi tidak penting? Sama sekali tidak. Iman justru menjadi cara kita membuka diri terhadap rahmat yang diberikan. Gereja membedakan dengan sangat jelas antara keabsahan sakramen dan buah sakramen.
Sakramen sah karena Kristus bekerja di dalamnya, itulah ex opere operato. Tetapi buah sakramen, yaitu sejauh mana rahmat itu mengubah hidup seseorang, sangat berkaitan dengan iman, disposisi batin, dan keterbukaan hati penerimanya. Sakramen itu seperti hujan yang turun dari langit. Hujan itu sungguh turun, itu pasti. Tetapi tanah yang keras akan menyerap sedikit, sementara tanah yang gembur akan menghasilkan buah yang melimpah.
Iman bukan digantikan oleh sakramen; iman justru dipanggil untuk bekerja sama dengan rahmat sakramen. Santo Agustinus pernah berkata bahwa Allah yang menciptakan kita tanpa kita, tidak akan menyelamatkan kita tanpa kita. Rahmat selalu mendahului, tetapi manusia tetap diajak untuk merespons.
Mari kita lihat contoh paling sederhana: Sakramen Baptis. Gereja mengajarkan bahwa dalam Baptis, dosa asal sungguh dihapus dan manusia dilahirkan kembali sebagai anak Allah. Apakah itu berarti bayi yang dibaptis “tidak perlu iman”? Tidak. Iman Gereja menopang iman bayi itu. Ketika ia dewasa, iman itu harus tumbuh, dipelihara, dan diwujudkan dalam hidup. Jika ia kemudian menolak iman, rahmat Baptis tidak hilang, tetapi menjadi tidak berbuah. Sakramennya sah, rahmatnya nyata, tetapi tidak bekerja secara efektif karena ditolak.
Ini sama sekali bukan konsep mekanis atau magis. Justru ini sangat manusiawi dan alkitabiah. Dalam Injil, kita melihat Yesus menyembuhkan banyak orang. Kadang Ia berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Tetapi kadang Ia menyembuhkan tanpa orang itu lebih dahulu menunjukkan iman eksplisit. Bahkan ada yang disembuhkan karena iman orang lain. Artinya, kuasa Allah tidak dibatasi oleh kualitas iman manusia, tetapi iman menentukan bagaimana manusia menerima dan hidup dalam kuasa itu.
Media sosial sering menyederhanakan teologi menjadi slogan-slogan pendek yang menyesatkan. “Katolik ritualistik.” “Sakramen tanpa iman.” Padahal justru Gereja Katolik sangat serius berbicara tentang iman yang hidup. Katekismus Gereja Katolik dengan jelas mengatakan bahwa sakramen-sakramen menuntut iman dan sekaligus memeliharanya, menguatkannya, dan menumbuhkannya. Iman dan sakramen bukan pesaing; keduanya adalah sahabat seperjalanan.
Lebih jauh lagi, konsep ex opere operato justru melindungi umat dari keputusasaan rohani. Bayangkan seorang umat yang datang ke pengakuan dosa dengan hati yang remuk, imannya kecil, doanya terbata-bata. Jika ia diberitahu bahwa pengampunan dosanya bergantung pada seberapa kuat imannya saat itu, ia akan pulang dengan beban yang lebih berat. Tetapi Gereja berkata: Kristus yang mengampuni engkau. Imam hanyalah alat. Rahmat itu nyata, bahkan ketika engkau lemah. Bukankah ini Injil yang penuh pengharapan?
Kita juga harus menyadari bahwa banyak kritik terhadap ex opere operato sebenarnya lahir dari ketakutan yang sama: ketakutan bahwa manusia menjadi pasif. Tetapi iman Katolik tidak pernah mengajarkan iman pasif. Justru setelah menerima sakramen, umat diutus untuk hidup dalam pertobatan, kasih, dan kesaksian. Sakramen bukan garis akhir; sakramen adalah titik awal.
Ekaristi, misalnya, sungguh Tubuh dan Darah Kristus, bukan karena iman kita mengubahnya, tetapi karena Sabda Kristus. Namun Santo Paulus mengingatkan bahwa siapa yang menyambut Ekaristi tanpa sikap yang benar, ia makan dan minum hukuman atas dirinya sendiri. Di sini terlihat sangat jelas: realitas sakramen tidak bergantung pada iman manusia, tetapi buahnya sangat bergantung pada disposisi iman.
Maka tuduhan bahwa ex opere operato menghilangkan iman sebenarnya terbalik. Tanpa ex opere operato, iman berubah menjadi usaha manusia semata. Dengan ex opere operato, iman ditempatkan dalam relasi yang benar: sebagai jawaban terhadap inisiatif rahmat Allah.
Di tengah dunia digital yang bising, iman Katolik dipanggil untuk berdiri dengan tenang. Kita tidak perlu merasa rendah diri atau defensif. Tradisi Gereja tidak anti iman, tidak anti Kitab Suci, dan tidak anti relasi pribadi dengan Tuhan. Justru Gereja menjaga agar relasi itu tidak jatuh pada subjektivisme, seolah-olah Allah hanya bekerja sejauh perasaan kita sedang baik.
Sakramen mengajarkan satu hal yang sangat mendalam: Allah lebih setia daripada hati manusia. Ketika iman kita goyah, Kristus tetap hadir. Ketika doa kita kering, rahmat tetap mengalir. Ketika kita lelah berjalan, Gereja memberi kita sakramen sebagai bekal di jalan.
Karena itu, bagi umat Katolik yang mungkin merasa terguncang oleh komentar-komentar tajam di media sosial, ingatlah ini: imanmu tidak direndahkan oleh sakramen; imanmu justru ditopang olehnya. Sakramen bukan pengganti iman, melainkan tangan Allah yang menopang iman yang rapuh agar tidak jatuh.
Akhirnya, kita sampai pada inti: ex opere operato bukanlah ancaman bagi iman, melainkan pengakuan akan keutamaan rahmat Allah. Iman tetap penting, bahkan mutlak, tetapi iman yang bersandar pada Kristus, bukan iman yang dibebani untuk “menciptakan” rahmat itu sendiri.
Di dunia yang gemar menyederhanakan, iman Katolik mengajak kita untuk mendalami. Di dunia yang gemar berteriak, iman Katolik mengajak kita untuk merenung. Dan di dunia yang sering meragukan kesetiaan Allah, sakramen-sakramen Gereja menjadi saksi bisu namun kuat bahwa Allah tidak pernah menarik kembali janji-Nya.
Kiranya pemahaman ini meneguhkan kita, bukan hanya untuk menjawab kritik, tetapi untuk semakin mengasihi sakramen-sakramen sebagai anugerah kasih Allah yang setia bekerja, bahkan ketika iman kita sedang belajar berjalan kembali.
Shalom 🙏💙