Dalam iman Katolik, tabernakel adalah tempat suci di mana Sakramen Mahakudus disimpan. Di dalamnya terdapat Hosti yang telah dikuduskan. Umat Katolik percaya bahwa Yesus Kristus benar-benar hadir di sana—bukan hanya simbol, tetapi benar-benar hadir.
Itulah mengapa ketika umat Katolik memasuki gereja, mereka menjadi diam, membungkuk, atau berlutut. Tindakan-tindakan ini mengatakan satu hal:
“Tuhan ada di sini.”
Asal Usul dan Sejarah
Tabernakel berasal dari Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, Allah tinggal bersama umat-Nya di Tabernakel atau Kemah Pertemuan. Kemudian, kehadiran Allah dihormati di Bait Suci.
Pada masa awal Kekristenan, Ekaristi disimpan untuk orang sakit dan yang sekarat. Seiring dengan semakin jelasnya iman akan Kehadiran Nyata, Gereja menempatkan Ekaristi di tempat yang suci dan dihormati—tabernakel.
Selama berabad-abad, tabernakel ditempatkan di tengah gereja untuk menunjukkan bahwa Kristus adalah pusat kehidupan Kristen.
Konsili Vatikan I dan Konsili Vatikan II
Konsili Vatikan I dengan tegas mengajarkan Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Karena keyakinan ini, tabernakel tetap berada di tengah gereja.
Setelah Konsili Vatikan II, Gereja mengizinkan tabernakel ditempatkan di samping gereja atau di kapel, untuk menyoroti altar selama Misa.
Penting untuk diingat: Konsili Vatikan II TIDAK memerintahkan pemindahan tabernakel dari tengah. Konsili tersebut hanya mengizinkan fleksibilitas.
Mengapa CUC Tetap Menempatkan Tabernakel di Tengah
Di Gereja Katolik Universalist (CUC), kami tetap menempatkan tabernakel di tengah tempat kudus.
Inilah pesan kami:
* Kristus adalah jantung Gereja
* Gereja adalah tempat suci, bukan panggung
* Yesus dalam Ekaristi tetap bersama umat-Nya
Cara Bertindak Saat Tabernakel Hadir
Karena Kristus ada di sana:
* Masuklah dengan hormat dan hening
* Bersujud atau berlutut
* Ingat: ini adalah tanah suci
Tabernakel mengingatkan kita:
Kristus ada di sini.
Kristus tetap tinggal.
Kristus adalah pusatnya.
Tuhan memberkati ❤