TEMPAT PENANTIAN
Pernahkah Anda terjebak di airport selama berjam-jam karena flight delay? Anda punya tiket, paspor lengkap, sudah check-in, tapi pesawatnya belum datang. Anda hanya duduk, menunggu, dan menatap layar kosong. Membosankan, bukan? Nah, dalam iman Katolik, ada sebuah konsep yang mirip dengan “ruang tunggu” ini. Kita menyebutnya Tempat Penantian, atau dalam bahasa Ibrani disebut Sheol, Yunani Hades, dan dalam istilah teologis Latin disebut Limbus Patrum (Limbo of the Fathers).
Dalam Syahadat Para Rasul, kita mendoakan kalimat misterius: “Turun ke tempat penantian” atau dalam bahasa Latin, descendit ad inferos. Tapi, tempat macam apa ini sebenarnya?
Tempat ini bukanlah Neraka (Gehenna) yang penuh api dan siksaan, bukan pula Surga (Heaven) yang penuh sukacita beatific vision. Ini adalah grey area. Dunia orang mati. Mengapa tempat ini harus ada? Simpel: Karena Surga belum “Grand Opening”. Sebelum Yesus wafat dan bangkit, pintu Surga itu tertutup rapat akibat Dosa Asal (Original Sin). Tidak ada manusia, se-suci apa pun dia, yang bisa masuk ke hadirat Allah yang sempurna sebelum tebusan (ransom) dibayar lunas oleh Kristus (bdk. Ibrani 9:15-22). Jadi, ke mana perginya jiwa-jiwa orang benar yang meninggal sebelum zaman Yesus? Mereka tidak mungkin ke Neraka, tapi juga belum bisa ke Surga. Maka, Tuhan menyediakan “Transit Lounge” ini (bdk. Mazmur 89:49).
Siapa yang hangout di sana? Ini adalah kumpulan “Avengers” Perjanjian Lama. Ada Adam dan Hawa, Abraham, Musa, Daud, para nabi, hingga Santo Yosef. Mereka adalah the just souls, jiwa-jiwa yang benar. Mereka punya “tiket” keselamatan berupa iman akan kedatangan Mesias, tapi pesawatnya belum mendarat. Apa yang mereka nantikan? Mereka menantikan Wajah Tuhan dan pembebasan dari “penjara” tersebut (bdk. 1 Petrus 3:19). Bayangkan rasa rindu yang tertahan selama ribuan tahun.
Lalu tibalah hari Jumat Agung. Yesus wafat. Tubuh-Nya dimakamkan, tetapi Jiwa-Nya? He went on a mission. Yesus tidak sekadar “tidur siang” selama tiga hari. Dia turun ke Sheol. Mengapa Yesus turun ke sana? Bukan untuk dihukum, melainkan sebagai Pemenang untuk memproklamirkan Injil kepada mereka yang telah mendahului-Nya (bdk. 1 Petrus 4:6). Dalam tradisi ini disebut The Harrowing of Hell. Yesus turun untuk memproklamirkan kemenangan. Bayangkan Yesus menendang pintu Sheol dan berteriak, “Guys, packing barang kalian. Kita pulang sekarang!”
Berapa lama Dia di sana? Secara waktu duniawi, ini terjadi antara kematian-Nya hingga kebangkitan-Nya pada Minggu pagi (bdk. Matius 12:40). Waktu yang singkat bagi kita, tapi bagi penghuni Sheol, itu adalah momen yang mengubah keabadian. Cahaya Kristus menyinari kegelapan dunia bawah (bdk. Yesaya 9:2).
Setelah kebangkitan-Nya, Yesus membawa jiwa-jiwa orang benar ini naik ke Surga dalam sebuah arak-arakan kemenangan (bdk. Efesus 4:8-9). Oleh karena itu, setelah peristiwa Paskah, Limbus Patrum ini sudah tidak ada lagi fungsinya. Sudah kosong. Bubar jalan. Sekarang, ketika orang beriman meninggal, pilihannya lebih jelas: jika jiwanya sudah murni langsung Direct Flight ke Surga, jika masih perlu “laundry dosa” mampir dulu ke Api Penyucian (Purgatory), atau jika menolak Tuhan secara total, ke Neraka sebagai konsekuensi pilihan. Tidak ada lagi ruang tunggu sunyi bagi mereka yang benar.
Sabtu Sunyi mengajarkan kita bahwa Tuhan tidak pernah melupakan mereka yang menunggu-Nya. Bahkan kematian pun tidak bisa membatasi jangkauan cinta kasih Kristus (bdk. Roma 8:38-39). Jika Yesus rela turun ke kedalaman dunia orang mati untuk menjemput Adam dan Hawa, bayangkan seberapa jauh Dia mau pergi untuk mencari Anda dan saya saat kita merasa “mati” atau terpuruk dalam hidup. Jadi, relax. Penantian kita tidak akan sia-sia. Karena bagi Tuhan, tidak ada tempat yang terlalu jauh untuk menyelamatkan yang Dia kasihi.