
Pewarisan Iman melalui Para Rasul, Gereja Perdana, dan Tradisi Apostolik
Pendahuluan
Ada empat pertanyaan sederhana yang sangat penting untuk memahami sejarah Kekristenan:
Siapa yang menjaga dan mewartakan ajaran Kristus sebelum seluruh tulisan Perjanjian Baru selesai ditulis?
Siapa yang membaptis, merayakan Ekaristi, dan mengajarkan iman sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan secara definitif?
Siapa yang mempertahankan iman dan menjaga tulisan-tulisan suci di tengah berbagai masa penganiayaan?
Siapa yang menyalin, menerjemahkan, dan melestarikan manuskrip Kitab Suci selama berabad-abad?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kepada pertanyaan yang lebih mendasar:
Bagaimana iman kepada Yesus Kristus yang dipercayakan kepada para rasul tetap dikenal, diwartakan, dirayakan, dituliskan, dilestarikan, dikenali, dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya?
Untuk menjawabnya secara bertanggung jawab, kita perlu menghindari dua penyederhanaan.
Pertama
Tidak tepat mengatakan bahwa Gereja menciptakan wahyu atau menciptakan Kitab Suci.
Kedua
Juga tidak tepat membayangkan bahwa sejak awal sudah tersedia sebuah Alkitab lengkap yang berisi seluruh Kitab Suci dalam bentuk kanon seperti yang dikenal sekarang.
Sejarahnya jauh lebih kompleks.
Kekristenan berpusat pada Yesus Kristus.
Kristus memanggil dan mengutus para rasul.
Para rasul mewartakan Injil dan membentuk komunitas-komunitas Kristiani.
Gereja perdana menggunakan Kitab Suci Israel, membaptis, berkumpul untuk memecahkan roti, berdoa, mengajarkan iman, dan mewartakan Kristus.
Dalam konteks kehidupan Gereja tersebut, lahirlah tulisan-tulisan Perjanjian Baru.
Tulisan-tulisan itu kemudian dibaca, digunakan, disalin, diterjemahkan, diwariskan, dan secara bertahap dikenali serta diterima sebagai bagian dari kanon Kitab Suci.
Karena itu, sejarah Kekristenan bukanlah sejarah tentang Gereja melawan Kitab Suci, ataupun Kitab Suci melawan Gereja.
Sejarahnya adalah sejarah pewarisan iman yang berpusat pada Kristus.
I. MEMAHAMI ISTILAH-ISTILAH PENTING
- Gereja
Gereja adalah persekutuan umat yang dipanggil dan dihimpun oleh Allah dalam Kristus, menerima iman, hidup dalam persekutuan, dan diutus untuk mewartakan Injil.
Dalam Perjanjian Baru, istilah Yunani ekklesia menunjuk pada perhimpunan atau jemaat yang dipanggil berkumpul.
Gereja bukan sekadar bangunan. Gereja adalah komunitas umat yang percaya kepada Kristus, menerima baptisan, mendengarkan pewartaan, berdoa, merayakan iman, dan hidup dalam persekutuan.
Dalam iman Katolik, Gereja juga dipahami sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus, dan Bait Roh Kudus.
- Gereja Apostolik
Gereja apostolik adalah Gereja yang berakar pada Yesus Kristus dan kesaksian para rasul, menerima pewartaan mereka, serta meneruskan perutusan yang dipercayakan Kristus kepada mereka.
Gereja disebut apostolik karena:
- berakar pada kesaksian para rasul;
- menjaga iman yang diterima dari
para rasul; - meneruskan pewartaan Injil;
- dan, dalam tradisi gerejawi yang
mengakuinya, meneruskan
pelayanan apostolik melalui suksesi
apostolik.
Apostolisitas tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang kesinambungan iman, pengajaran, pelayanan, persekutuan, dan perutusan.
- Tradisi Apostolik
Tradisi Apostolik adalah pewarisan iman yang berasal dari Kristus, dipercayakan kepada para rasul, dan diteruskan dalam kehidupan Gereja.
Tradisi Apostolik tidak identik dengan setiap kebiasaan atau adat yang muncul dalam perjalanan sejarah.
Karena itu, perlu dibedakan antara Tradisi Apostolik dan tradisi gerejawi atau kebiasaan historis.
Dalam pemahaman Katolik, Tradisi Apostolik mencakup pewarisan iman, kehidupan liturgis, doa, kehidupan sakramental, dan cara Gereja menghayati serta meneruskan Injil.
- Suksesi Apostolik
Suksesi Apostolik adalah kesinambungan pelayanan dan tanggung jawab penggembalaan Gereja yang berakar pada perutusan para rasul dan diteruskan dari generasi ke generasi.
Dalam tradisi Katolik, Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental, dan sejumlah Gereja apostolik lainnya, hal ini terutama dikaitkan dengan kesinambungan pelayanan para uskup melalui penahbisan dan persekutuan Gereja.
Suksesi apostolik bukan sekadar rantai jabatan.
Ia berkaitan dengan kesinambungan:
pelayanan + pengajaran + persekutuan + tanggung jawab menjaga iman apostolik.
- Kitab Suci Israel
Kitab Suci Israel adalah kumpulan tulisan suci yang menjadi dasar iman bangsa Israel dan yang digunakan oleh Yesus serta Gereja perdana.
Dalam tradisi Kristen, kumpulan ini terutama dikenal sebagai Perjanjian Lama.
Kitab-kitab tersebut memuat kesaksian tentang penciptaan, sejarah keselamatan, perjanjian Allah, hukum, para nabi, hikmat, dan pengharapan akan keselamatan.
Yesus dan para rasul menggunakan Kitab Suci Israel dalam pewartaan mereka.
Karena itu, Gereja perdana bukan komunitas tanpa Kitab Suci.
Yang belum terbentuk pada masa awal adalah kanon lengkap Perjanjian Baru seperti yang dikenal kemudian.
- Tulisan-Tulisan Perjanjian Baru
Tulisan-tulisan Perjanjian Baru adalah kumpulan tulisan Kristen awal yang memberikan kesaksian apostolik mengenai Yesus Kristus dan karya keselamatan-Nya.
Kumpulan ini mencakup empat Injil, Kisah Para Rasul, surat-surat apostolik, dan Kitab Wahyu.
Perlu dibedakan antara:
penulisan → penggunaan → penyalinan → penyebaran → penerimaan → pengenalan kanon.
Kitab-kitab Perjanjian Baru tidak muncul sekaligus sebagai satu buku lengkap yang langsung diterima secara seragam oleh semua komunitas.
- Para Bapa Gereja
Para Bapa Gereja adalah tokoh-tokoh Kristen awal yang memberikan kesaksian penting mengenai iman, ajaran, liturgi, dan kehidupan Gereja.
Di antaranya Clemens dari Roma, Ignatius dari Antiokhia, Polikarpus dari Smirna, Irenaeus dari Lyon, Tertulianus, Origenes, Athanasius, dan banyak lainnya.
Tulisan mereka bukan Kitab Suci. Namun, tulisan mereka merupakan sumber sejarah penting untuk mengetahui bagaimana Gereja awal membaca Kitab Suci, memahami iman apostolik, merayakan liturgi, melaksanakan baptisan, merayakan Ekaristi, dan menjaga kesatuan iman.
- Komunitas Kristiani
Komunitas Kristiani adalah kelompok umat yang percaya kepada Yesus Kristus, menerima baptisan, berkumpul dalam doa dan persekutuan, mendengarkan pewartaan Injil, dan menjalani kehidupan iman bersama.
Komunitas-komunitas inilah yang menjadi lingkungan konkret tempat iman dan tulisan-tulisan suci diwariskan.
II. APA ITU KANON?
Istilah kanon berasal dari bahasa Yunani kanōn (κανών), yang pada awalnya berarti tongkat pengukur, ukuran, atau patokan.
Dalam perkembangan penggunaannya dalam kehidupan Gereja, istilah ini memperoleh makna sebagai norma, ukuran, atau daftar yang menjadi patokan.
Ketika berbicara mengenai Kitab Suci, istilah kanon tidak berarti “menulis kitab” atau “menciptakan kitab”.
Kanon menunjuk pada kumpulan kitab yang diakui dan diterima sebagai Kitab Suci yang normatif bagi iman Gereja.
Karena itu, perlu dibedakan:
- Kitab adalah tulisan tertentu;
- Kitab Suci adalah tulisan yang
diterima sebagai suci dan diilhami;
Kanon Kitab Suci adalah keseluruhan daftar kitab yang diakui sebagai bagian dari Kitab Suci dalam suatu tradisi iman.
Secara sederhana:
Kanon adalah ukuran atau patokan; kanon Kitab Suci adalah daftar kitab yang diterima sebagai Kitab Suci yang normatif.
III. APA ITU KANON KITAB SUCI?
Kanon Kitab Suci adalah daftar kitab yang diakui oleh suatu tradisi Gereja sebagai tulisan yang termasuk dalam Kitab Suci dan memiliki otoritas normatif dalam kehidupan iman.
Dalam tradisi Katolik, kanon Kitab Suci terdiri atas:
46 kitab Perjanjian Lama;
27 kitab Perjanjian Baru;
sehingga seluruhnya berjumlah 73 kitab.
Tradisi Kristen lain memiliki perbedaan tertentu, terutama dalam jumlah kitab Perjanjian Lama, meskipun terdapat kesepakatan luas mengenai 27 kitab Perjanjian Baru.
Karena itu, ketika berbicara mengenai “kanon Kitab Suci”, perlu dijelaskan:
Kanon menurut tradisi Gereja yang mana?
Pembedaan ini penting agar pembahasan tetap historis dan tidak menyederhanakan keragaman tradisi Kristen.
IV. SIAPA YANG MENETAPKAN KANON KITAB SUCI?
Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang hati-hati karena kata “menetapkan” dapat memiliki arti berbeda.
Jika yang dimaksud adalah:
Siapa yang menciptakan kitab-kitab tersebut?
Jawabannya: bukan Gereja.
Kitab-kitab tersebut ditulis oleh para penulis manusia dalam sejarah keselamatan dan, dalam iman Gereja, tulisan Kitab Suci dihasilkan di bawah ilham Roh Kudus.
Jika yang dimaksud adalah:
Siapa yang menentukan kitab mana yang termasuk dalam kanon?
Jawabannya harus dilihat sebagai proses sejarah yang panjang, bukan keputusan tunggal yang terjadi dalam satu hari.
Komunitas-komunitas Kristiani sejak awal membaca dan menggunakan tulisan-tulisan tertentu dalam ibadah dan pengajaran.
Tulisan-tulisan yang dianggap memiliki hubungan dengan kesaksian apostolik, sesuai dengan iman yang diterima, dan digunakan secara luas memperoleh penerimaan yang semakin kuat.
Dalam proses ini, para uskup dan pemimpin Gereja memberikan kesaksian, menilai, membedakan, dan akhirnya menegaskan daftar kitab yang diterima sebagai kanonik.
Dalam tradisi Katolik, otoritas Gereja kemudian memberikan penegasan definitif mengenai kanon Kitab Suci melalui otoritas mengajar Gereja.
Karena itu, rumusan yang lebih tepat adalah:
Gereja tidak menciptakan kitab-kitab Kitab Suci, tetapi dalam perjalanan sejarah Gereja mengenali, menerima, dan secara otoritatif menegaskan kitab-kitab yang termasuk dalam kanon.
Dalam perspektif Katolik, pengenalan kanon tidak dipahami sebagai tindakan manusia yang berdiri terpisah dari karya Allah, tetapi sebagai bagian dari kehidupan Gereja yang dibimbing oleh Roh Kudus.
V. BAGAIMANA KANON PERJANJIAN BARU TERBENTUK?
Proses pembentukan kanon Perjanjian Baru berlangsung secara bertahap:
Kristus dan para rasul
↓
Pewartaan Injil
↓
Komunitas-komunitas Kristiani
↓
Tulisan-tulisan apostolik
↓
Pembacaan dan penggunaan dalam komunitas
↓
Penyalinan dan penyebaran
↓
Penerimaan yang semakin luas
↓
Perdebatan mengenai sejumlah kitab
↓
Kesaksian para uskup dan Gereja
↓
Penegasan kanon
Dengan demikian, harus dibedakan antara asal-usul kitab dan pengenalan kanon.
Kitab-kitab Perjanjian Baru berasal dari abad pertama.
Namun, penerimaan terhadap keseluruhan 27 kitab sebagai satu kumpulan kanonik berlangsung melalui proses sejarah yang bertahap.
Ada kitab yang sejak awal diterima secara luas.
Ada kitab yang penerimaannya lebih lambat atau sempat diperdebatkan.
Ada pula berbagai tulisan Kristen awal yang tidak akhirnya masuk ke dalam kanon.
Hal ini menunjukkan bahwa Gereja perdana melakukan proses membedakan, menilai, dan mengenali tulisan-tulisan yang memiliki otoritas apostolik.
VI. SIAPA YANG MENETAPKAN KANON PERJANJIAN BARU?
Beberapa tonggak penting perlu disebutkan.
- Athanasius dari Aleksandria
Dalam Surat Paskah ke-39 tahun 367, Athanasius memberikan daftar yang memuat 27 kitab Perjanjian Baru seperti yang dikenal dalam kanon Katolik saat ini.
Ini merupakan salah satu kesaksian historis paling awal yang secara eksplisit mencantumkan seluruh 27 kitab tersebut sebagai satu daftar.
- Sinode Hippo (393)
Sinode lokal di Hippo pada tahun 393 menjadi salah satu tonggak penting dalam proses penerimaan daftar kitab Kitab Suci di Gereja Latin. - Konsili-Konsili Kartago
Konsili atau sinode lokal di Kartago pada akhir abad IV memberikan penegasan lebih lanjut mengenai daftar kitab yang diterima dalam tradisi Gereja Latin. - Konsili Florence (1442)
Dalam Decretum pro Jacobitis, Konsili Florence memberikan daftar kitab Kitab Suci yang sesuai dengan kanon Katolik. - Konsili Trente (1546)
Dalam menghadapi kontroversi mengenai kanon pada masa Reformasi, Konsili Trente secara definitif mendefinisikan kanon Kitab Suci bagi Gereja Katolik.
Namun, penting ditegaskan:
Konsili Trente tidak “menciptakan” kanon Kitab Suci dari nol.
Konsili Trente memberikan penegasan dogmatis yang definitif bagi Gereja Katolik mengenai kitab-kitab yang telah diterima dalam tradisi Gereja.
Dengan demikian, harus dibedakan antara:
proses penerimaan historis
dan
penegasan otoritatif atau dogmatis.
Dalam konteks Katolik, proses penerimaan telah berlangsung jauh sebelum Konsili Trente.
VII. KANON KITAB SUCI TIDAK MUNCUL DALAM SATU MOMEN
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah anggapan bahwa pada suatu hari tertentu seseorang atau sebuah konsili tiba-tiba “membuat Alkitab”.
Secara historis, gambaran itu terlalu sederhana.
Yang terjadi adalah proses panjang:
Kitab ditulis → dibaca oleh komunitas
→ digunakan dalam ibadah dan pengajaran → disalin dan disebarkan
→ diterima secara luas atau diperdebatkan→ dibandingkan dengan iman apostolik → dikenali sebagai kanonik→ ditegaskan oleh otoritas Gereja.
Karena itu, kanonisasi lebih tepat dipahami sebagai proses pengenalan dan penerimaan otoritatif terhadap kitab-kitab yang dianggap sebagai bagian dari Kitab Suci, bukan sebagai proses menciptakan isi Kitab Suci.
VIII. DARI KRISTUS, MELALUI PARA RASUL, MENUJU KANON KITAB SUCI
Kekristenan tidak bermula dari sebuah buku yang sudah lengkap.
Kekristenan bermula dari:
YESUS KRISTUS
Kristus memanggil para murid, memilih para rasul, mengajar mereka, dan mengutus mereka menjadi saksi-Nya.
Para rasul kemudian mewartakan Injil.
Pada tahap awal, pewartaan Injil berlangsung terutama melalui kesaksian lisan dan kehidupan komunitas.
Kemudian, kesaksian apostolik dituangkan dalam tulisan-tulisan.
Karena itu, secara kronologis:
Kristus → para rasul → pewartaan Injil → Gereja perdana → tulisan-tulisan Perjanjian Baru → proses penerimaan kanon.
Ini tidak berarti bahwa Gereja menciptakan wahyu.
Dalam iman Kristiani:
- Wahyu berasal dari Allah.
- Kepenuhan wahyu terjadi dalam
Yesus Kristus. - Para rasul memberikan kesaksian
tentang Kristus. - Gereja menerima dan mewartakan
kesaksian apostolik. - Kitab Suci memberikan kesaksian
tertulis yang diilhami. - Gereja mengenali dan menerima
kanon Kitab Suci.
IX. GEREJA PERDANA SEBELUM KANON PERJANJIAN BARU LENGKAP
Gereja perdana bukan komunitas tanpa Kitab Suci.
Gereja perdana menggunakan Kitab Suci Israel, yang kemudian dikenal oleh umat Kristiani sebagai Perjanjian Lama.
Pada saat yang sama, Gereja hidup dari pewartaan para rasul.
Kisah Para Rasul 2:42 menggambarkan kehidupan komunitas perdana:
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”
Di sini terlihat empat unsur penting:
- pengajaran apostolik
- persekutuan
- pemecahan roti
- doa
Semua itu berlangsung sebelum kanon Perjanjian Baru terbentuk secara definitif.
Karena itu:
Gereja apostolik sudah hidup sebelum kanon lengkap Perjanjian Baru.
Namun:
Gereja mendahului kanon lengkap Perjanjian Baru tidak berarti Gereja menciptakan wahyu atau menciptakan Kitab Suci.
X. PEWARTAAN, BAPTISAN, DAN EKARISTI
Sebelum seluruh Perjanjian Baru selesai ditulis, Injil telah diwartakan.
Para rasul mewartakan:
- Yesus Kristus;
- wafat dan kebangkitan-Nya;
- pertobatan;
- pengampunan dosa;
- keselamatan;
- dan panggilan untuk percaya.
Pewartaan inti ini dikenal sebagai kerygma.
Paulus berkata:
“Sebab apa yang telah kuterima sendiri telah aku teruskan kepadamu…” (1Korintus 15:3).
Terlihat sebuah pola:
menerima → menjaga → meneruskan.
Demikian pula Baptisan dan Ekaristi telah menjadi bagian dari kehidupan Gereja sejak masa apostolik.
Baptisan berakar pada perintah Kristus:
“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka…” (Matius 28:19).
Ekaristi berakar pada tindakan Kristus sendiri:
“Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Lukas 22:19).
Dengan demikian, kehidupan Gereja tidak menunggu sampai seluruh kanon Perjanjian Baru selesai untuk mulai hidup.
XI. REGULA FIDEI DAN KAIDAH IMAN
Sebelum kanon Perjanjian Baru diterima secara definitif, Gereja telah memiliki inti iman yang menjadi ukuran pewartaan.
Dalam tradisi Gereja awal, hal ini dikenal sebagai regula fidei — kaidah iman.
Kaidah iman merangkum inti pewartaan mengenai:
- Allah Bapa;
- Yesus Kristus;
- Roh Kudus;
- inkarnasi;
- wafat dan kebangkitan Kristus;
- pengampunan dosa;
- kebangkitan badan;
- dan kehidupan kekal.
Kaidah iman bukan pengganti Kitab Suci.
Ia merupakan ringkasan iman yang membantu Gereja menjaga kesinambungan pewartaan apostolik dan membaca Kitab Suci dalam kesatuan iman.
XII. PARA BAPA GEREJA DAN KESAKSIAN MENGENAI KANON
Para Bapa Gereja merupakan saksi penting dalam proses sejarah penerimaan Kitab Suci.
Tulisan mereka membantu menunjukkan:
kitab mana yang dibaca;
kitab mana yang digunakan dalam
liturgi;
kitab mana yang dianggap memiliki otoritas apostolik;
dan bagaimanakomunitas-komunitas Kristiani memahami tulisan tersebut.
Namun, para Bapa Gereja tidak semuanya memiliki daftar kanon yang identik pada setiap masa dan tempat.
Hal ini menunjukkan bahwa proses pengenalan kanon berlangsung secara bertahap.
Karena itu, sejarah kanon tidak boleh dipahami secara hitam-putih.
Ada kesinambungan yang kuat, tetapi juga terdapat proses pembedaan, diskusi, dan penerimaan.
XIII. SIAPA YANG MENJAGA DAN MENYALIN KITAB SUCI?
Jawabannya adalah:
Generasi demi generasi umat dan komunitas Kristiani, bersama para pemimpin Gereja, penyalin, penerjemah, dan—khususnya dalam sejarah Barat—komunitas monastik.
Kitab Suci:
dibaca → diwartakan → dikutip → diterjemahkan → disalin → dipelajari → diwariskan.
Manuskrip disalin dalam berbagai bahasa, antara lain:
- Yunani;
- Latin;
- Suryani;
- Koptik;
- Armenia;
- Georgia;
- dan bahasa-bahasa lainnya.
Pelestarian Kitab Suci bukan hanya berarti menyimpan buku.
Kitab Suci dilestarikan melalui kehidupan komunitas yang terus membaca, mengajarkan, merayakan, menyalin, dan meneruskannya.
XIV. PENGANIAYAAN DAN PARA MARTIR
Dalam berbagai masa penganiayaan, umat Kristiani menghadapi penangkapan, penyiksaan, dan kematian.
Yang dipertahankan bukan hanya manuskrip.
Yang dipertahankan adalah:
IMAN KEPADA KRISTUS
Iman itu diwujudkan dalam:
- baptisan;
- Ekaristi;
- doa;
- pewartaan;
- Kitab Suci;
- dan persekutuan Gereja.
Para martir memberikan kesaksian bahwa iman Kristiani bukan sekadar kumpulan teks, melainkan kehidupan yang dijalani.
XV. MANUSKRIP DAN TRANSMISI TEKS
Manuskrip kuno tidak selalu identik.
Karena penyalinan dilakukan secara manual, terdapat berbagai varian tekstual.
Namun, keberadaan varian tidak berarti bahwa teks Kitab Suci tidak dapat diteliti.
Sebaliknya, banyaknya saksi tekstual memungkinkan para ahli membandingkan:
- berbagai manuskrip;
- kutipan para penulis Kristen awal;
- dan terjemahan kuno.
Dengan demikian, transmisi Kitab Suci harus dipahami secara realistis:
Kitab Suci diwariskan melalui proses penyalinan manusia yang memiliki keterbatasan, tetapi juga melalui kekayaan saksi tekstual yang memungkinkan penelitian sejarah teks.
XVI. WAHYU, KITAB SUCI, TRADISI APOSTOLIK, DAN KANON
Empat hal perlu dibedakan.
Wahyu
Wahyu adalah tindakan Allah menyatakan diri dan kehendak-Nya bagi keselamatan manusia, yang dalam iman Kristiani mencapai kepenuhannya dalam Yesus Kristus.
Kitab Suci
Kitab Suci adalah Sabda Allah yang dituliskan di bawah ilham Roh Kudus.
Tradisi Apostolik
Tradisi Apostolik adalah pewarisan hidup dan iman yang berasal dari Kristus dan dipercayakan kepada para rasul untuk diteruskan dalam Gereja.
Kanon
Kanon adalah daftar kitab yang diterima sebagai Kitab Suci yang normatif.
Maka:
Wahyu ≠ Kitab Suci ≠ Tradisi Apostolik ≠ Kanon.
Namun keempatnya memiliki hubungan yang erat dalam sejarah iman Gereja.
Dalam perspektif Katolik, wahyu Allah yang mencapai kepenuhannya dalam Kristus diteruskan melalui kesaksian apostolik, baik dalam Kitab Suci maupun Tradisi Suci.
Kanon kemudian menunjuk pada daftar kitab yang termasuk dalam Kitab Suci.
XVII. KITAB SUCI, TRADISI SUCI, DAN MAGISTERIUM
Dalam perspektif Katolik, hubungan antara Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium harus dipahami secara integral.
Kitab Suci adalah Sabda Allah yang tertulis dan diilhami.
Tradisi Suci adalah pewarisan Sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja.
Magisterium adalah tugas mengajar Gereja yang dipercayakan kepada para uskup dalam persekutuan dengan Uskup Roma.
Ketiganya tidak dipahami sebagai tiga sumber wahyu yang berdiri sendiri dan saling bersaing.
Dalam ajaran Katolik, ketiganya berada dalam satu kesatuan pelayanan terhadap Sabda Allah.
Magisterium tidak berada di atas Sabda Allah dan tidak menciptakan wahyu baru.
Tugasnya adalah menjaga, menjelaskan, dan menafsirkan Sabda Allah secara otentik.
XVIII. JAWABAN ATAS EMPAT PERTANYAAN UTAMA
- Siapa yang menjaga ajaran Kristus sebelum seluruh tulisan Perjanjian Baru selesai ditulis?
Para rasul dan komunitas Gereja perdana, melalui pewartaan, pengajaran, liturgi, doa, kehidupan sakramental, pengakuan iman, dan pewarisan iman apostolik.
- Siapa yang membaptis, merayakan Ekaristi, dan mengajarkan iman sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan secara definitif?
Gereja apostolik, melalui para rasul dan para pelayan dalam komunitas-komunitas Kristiani awal.
- Siapa yang mempertahankan iman dan menjaga tulisan-tulisan suci selama masa penganiayaan?
Komunitas-komunitas Kristiani bersama para pemimpin dan umatnya, yang mempertahankan iman, liturgi, Kitab Suci, dan kehidupan Gereja.
- Siapa yang menyalin dan melestarikan manuskrip Kitab Suci selama berabad-abad?
Generasi demi generasi penyalin dan komunitas Kristiani, melalui penyalinan, penerjemahan, pembacaan liturgis, studi, dan pewarisan manuskrip.
XIX. KESIMPULAN: DARI KRISTUS HINGGA KANON KITAB SUCI
Jika seluruh rangkaian sejarah ini diperhatikan, tampak sebuah kesinambungan yang tidak dapat dipisahkan begitu saja.
Kristus adalah pusat dan sumber iman.
Para rasul adalah saksi dan pewarta yang diutus.
Roh Kudus menyertai perutusan Gereja.
Gereja apostolik menerima, menghidupi, dan mewartakan iman.
Kitab Suci Israel menjadi dasar penting bagi Gereja perdana.
Tradisi Apostolik meneruskan iman yang diterima dari Kristus melalui para rasul.
Komunitas Kristiani menghidupi iman melalui baptisan, Ekaristi, liturgi, doa, dan persekutuan.
Tulisan-tulisan Perjanjian Baru memberikan kesaksian tertulis yang diilhami mengenai Kristus dan iman apostolik.
Para Bapa Gereja memberikan kesaksian mengenai bagaimana iman tersebut dipahami dan diwariskan.
Suksesi apostolik, dalam tradisi-tradisi yang mengakuinya, menjaga kesinambungan pelayanan dan pengajaran yang berakar pada para rasul.
Komunitas Kristiani menyalin, membaca, menggunakan, dan melestarikan tulisan-tulisan suci.
Dalam perjalanan sejarah, kanon Kitab Suci dikenali, diterima, dan ditegaskan.
Rangkaian tersebut dapat dirumuskan:
KRISTUS
↓
PARA RASUL
↓
ROH KUDUS
↓
GEREJA APOSTOLIK
↓
KITAB SUCI ISRAEL + PEWARTAAN APOSTOLIK
↓
TRADISI APOSTOLIK + REGULA FIDEI
↓
BAPTISAN + EKARISTI + LITURGI + PENGAJARAN
↓
KOMUNITAS-KOMUNITAS KRISTIANI
↓
TULISAN-TULISAN PERJANJIAN BARU
↓
PENYALINAN + PELESTARIAN + PENERIMAAN
↓
PENGENALAN DAN PENEGASAN KANON
↓
PEWARISAN IMAN KEPADA GENERASI BERIKUTNYA
Kesimpulan yang paling kuat secara historis adalah:
Sebelum seluruh Perjanjian Baru selesai ditulis dan sebelum kanonnya diterima secara definitif, sudah ada komunitas Kristiani yang percaya kepada Kristus, menerima baptisan, berkumpul dalam persekutuan, merayakan pemecahan roti, berdoa, menggunakan Kitab Suci Israel, menerima pengajaran para rasul, dan mewartakan Injil.
Namun, fakta ini tidak boleh dipelintir menjadi kesimpulan bahwa Gereja “menciptakan” Kitab Suci.
Sebaliknya, harus dibedakan dengan tegas:
- Wahyu berasal dari Allah.
- Kepenuhan wahyu terjadi dalam
Yesus Kristus. - Para rasul memberikan kesaksian
tentang Kristus. - Gereja menerima dan mewartakan
kesaksian apostolik. - Kitab Suci memberikan kesaksian
tertulis yang diilhami. - Tradisi Apostolik meneruskan iman
yang berasal dari Kristus melalui para
rasul. - Gereja menjaga dan mewariskan
iman tersebut. - Kanon adalah daftar kitab yang
dikenali dan diterima sebagai Kitab
Suci.
Dalam perjalanan sejarah, Gereja mengenali, menerima, dan menegaskan kanon Kitab Suci.
Dengan demikian, pertanyaan yang paling tepat bukan:
“Siapa yang lebih dahulu: Gereja atau Alkitab?”
Melainkan:
“Bagaimana iman kepada Kristus yang dipercayakan kepada para rasul tetap dikenal, diwartakan, dirayakan, dituliskan, dilestarikan, dikenali, dan diwariskan kepada setiap generasi?”
Jawabannya adalah sebuah kesinambungan sejarah:
KRISTUS → PARA RASUL → GEREJA APOSTOLIK → PEWARTAAN DAN TRADISI APOSTOLIK → TULISAN PERJANJIAN BARU → PELESTARIAN DAN PEWARISAN → PENGENALAN DAN PENEGASAN KANON → GENERASI BERIKUTNYA
Pada pusat seluruh perjalanan itu tetap berdiri satu Pribadi:
YESUS KRISTUS
Dialah pusat iman Kristiani, sumber pewartaan para rasul, dasar kesaksian apostolik, dan pusat seluruh sejarah pewarisan iman.
Memahami sejarah Kekristenan secara utuh berarti tidak memisahkan secara artifisial apa yang dalam sejarahnya saling berhubungan:
Kristus, para rasul, Gereja, pewartaan, Kitab Suci, Tradisi Apostolik, liturgi, sakramen, kanon, dan pewarisan iman.
Perbedaan teologis antartradisi Kristen mengenai hubungan antara Kitab Suci, Tradisi, dan otoritas Gereja memang tetap ada.
Namun, secara historis terdapat satu kenyataan penting:
Iman kepada Kristus, kehidupan komunitas Kristiani, pewartaan apostolik, dan penggunaan Kitab Suci telah berjalan bersama dalam sejarah Kekristenan sejak masa paling awal—jauh sebelum seluruh kanon Perjanjian Baru dikenal dan diterima secara definitif.
Karena itu, memahami sejarah ini bukan pertama-tama untuk mempertentangkan satu tradisi dengan tradisi lain, melainkan untuk melihat bagaimana kesaksian tentang Kristus diwariskan dari generasi ke generasi—dari para rasul kepada Gereja perdana, dari Gereja perdana kepada generasi berikutnya, melalui pewartaan, kehidupan iman, tulisan-tulisan suci, dan proses sejarah yang panjang.
Dan di tengah seluruh perjalanan itu, pusatnya tetap sama:
YESUS KRISTUS
SUMBER UTAMA DAN RUJUKAN
Kitab Suci
- Matius 28:18–20
- Kisah Para Rasul 1:8
- Kisah Para Rasul 2:42
- Kisah Para Rasul 15
- 1 Korintus 11:23–26
- 1 Korintus 15:1–8
- 2 Tesalonika 2:15
- 2 Timotius 2:2
Dokumen Gereja
- Konsili Vatikan II, Dei Verbum,
khususnya no. 7–10. - Katekismus Gereja Katolik,
khususnya no. 74–100.
Sumber Gereja Awal
- Didache
- Clemens dari Roma, First Letter to
the Corinthians - Ignatius dari Antiokhia,
surat-suratnya - Irenaeus dari Lyon, Against Heresies
- Athanasius dari Aleksandria, Festal
Letter 39 (367)
Tonggak Sejarah Kanon
- Surat Paskah Athanasius (367)
- Sinode Hippo (393)
- Konsili-Konsili Kartago pada akhir
abad IV - Konsili Florence (1442)
- Konsili Trente (1546)
PENEGASAN AKHIR
Sejarah kanon Kitab Suci harus dipahami dengan ketelitian.
Gereja tidak menciptakan wahyu.
Gereja tidak menciptakan Kristus.
Gereja tidak menulis semua kitab Kitab Suci.
Namun, Gereja perdana adalah komunitas historis tempat pewartaan apostolik dihidupi, tulisan-tulisan suci dibaca dan diwariskan, manuskrip disalin dan dilestarikan, serta kitab-kitab yang diterima sebagai kanonik secara bertahap dikenali dan akhirnya ditegaskan secara otoritatif.
Dengan demikian, secara historis dan teologis dapat dirumuskan:
Kristus adalah sumber dan pusat iman.
Para rasul adalah saksi dan pewarta. Gereja adalah komunitas yang menerima dan meneruskan pewartaan apostolik.
Kitab Suci adalah kesaksian tertulis yang diilhami.
Tradisi Apostolik adalah pewarisan iman apostolik dalam kehidupan Gereja.
Kanon adalah daftar kitab yang diterima sebagai Kitab Suci.
Dan melalui perjalanan sejarah Gereja, kitab-kitab tersebut dikenali, diterima, dilestarikan, dan ditegaskan sebagai kanon.
Maka, memahami asal-usul dan pewarisan iman Kristiani secara utuh bukanlah memilih antara Kristus, Gereja, Tradisi, atau Kitab Suci, melainkan memahami bagaimana semuanya ditempatkan dalam hubungan historis dan teologisnya yang tepat.
Semuanya bermula dari Kristus.
Para rasul memberikan kesaksian.
Gereja menerima dan mewartakan.
Kitab Suci memberikan kesaksian tertulis yang diilhami.
Tradisi Apostolik meneruskan iman yang diterima.
Kanon mengenali kitab-kitab yang menjadi Kitab Suci.
Dan generasi demi generasi mewariskan iman tersebut.
Pada akhirnya, pusatnya tetap satu:
YESUS KRISTUS, TUHAN DAN PUSAT IMAN KRISTIANI.