Banyak umat Katolik berpuasa.
Namun sedikit yang memahami alasannya.
Puasa bukanlah tentang makanan.
Puasa adalah tentang kebebasan.
Kebebasan dari perbudakan daging. Kebebasan dari keterikatan pada dunia. Kebebasan untuk mengasihi Tuhan di atas segala sesuatu.
Ketika Adam berdosa, itu melalui makanan. Ia memilih nafsu makannya daripada ketaatan kepada Tuhan.
Ketika Yesus datang untuk memulihkan umat manusia, Ia memulai dengan berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun. Ia memilih ketaatan daripada nafsu makan.
Puasa melemahkan suara tubuh sehingga suara jiwa dapat menjadi lebih kuat.
✝️ Puasa mengajarkan disiplin. Engkau belajar bahwa Engkau tidak dikendalikan oleh keinginanmu.
✝️ Puasa mengajarkan pengorbanan. Engkau menyatukan penderitaan kecilmu dengan Salib Kristus.
✝️ Puasa mengajarkan pelepasan. Engkau belajar untuk bergantung pada Tuhan, bukan pada kenyamanan.
✝️ Puasa memperkuat doa. Tubuh yang disiplin membuat jiwa lebih memperhatikan Tuhan.
Tanpa puasa, kehidupan spiritual menjadi lemah. Daging menjadi kuat, dan jiwa menjadi malas.
Inilah mengapa Gereja menekankan puasa. Bukan untuk menghukum Engkau. Tetapi untuk membebaskan Engkau.
Puasa mempersiapkan hatimu untuk transformasi.
Karena tujuan Prapaskah bukan hanya untuk menghindari dosa.
Tetapi untuk menjadi pribadi yang baru.
Tuhan memberkati