Top of Form
Bottom of Form
Bernard Kalvary
·
Admin
·20 February ·
Ing Siaw I si OTOLKALV(oknum tolol dari Kalvinis) berkata :
“AM itu dari bhs Latin, yg arti nya sama dgn Katolik(bhs Yunani) & universal(bhs Inggris). Ketiga nya berbeda dgn GRK[Gereja Katolik Roma]”.
Jawab :
Scr etimologi kata “AM” dlm bhs Latin adlh “Ante Meridiem”, yg berarti “sebelum tengah hr” yaitu berlaku dari pukul 00:00 tengah malam hingga 11:59 siang. AM itu tdk bermakna Katolik.
Jika semua ttg AM di Kekristenan di seraching maka hanya akan ketemu hal ini saja yg jg bukan bermakna Katolik :
– Kata AM itu kemungkinan di comot dari Syahadat Para Rasul dgn menghapus kata Catholic, serta dgn menghapus semua dari 4 ciri Gereja yg Unam(Satu), Sanctam(Kudus), Catholicam(Katolik), Apostolicam(Apostolik). Hanya mencomot akhiran AM nya saja. Apakah ini suatu pelanggaran ?? YA!.
– Liturgi Addai & Mari (AM). Addai adlh salahsatu dari golongan 70 murid Yesus. Mari adlh murid dari St.Addai. Kata AM itu kemungkinan adlh singkatan dari nama ke-2nya sehingga di sebut jg Liturgi AM.
– Kata “umum/general” dlm bhs arab adlh “eam(عام)”, jg bukan AM !.
– Kata “universal” dlm bhs Arab adlh “ealami(عالمي)”, jg bukan AM !.
– katholikós dlm bhs Arab adlh “kathulikiun(كاثوليكي)”. jg bukan AM !.
Kalau pun AM bermakna umum, tetap bermasalah krn konteks umum di situ tdk terbatas pd golongan tertentu, sehingga akan termasuk org²/umat² yg di luar Gereja. Sedangkan penggunan kata Katolik scr khusus utk semua org yg ada di dlm Gereja. Krn itu lah pemakaian kata AM itu menyesatkan. Itu lah sebab nya Pengakuan Iman Para Rasul dlm bhs Arab sekalipun tdk menggunakan kata AM & eam, tp tetap pakai kata kathulikiun.
Silahkan jg cari/ketik di kamus bhs Indonesia, Inggris, Latin, Yunani, Ibrani & Arab, bahwa tdk ada kata “AM” ditemukan yg bermakna “Katolik”.
Semua denom² Protestantisme di luar negeri selalu tetap menggunakan kata “Katolik” dlm bacaan Syahadat Rasuli nya & tdk ada yg memakai kata “AM”. Hanya di Indonesia yg kelainan sendiri pakai kata “AM” yg etimologi(sumber asal suatu kata scr valid & kredibel) nya tdk jelas & asbak(asalkan beda dgn Katolik).
Jd dari mana mereka di Indonesia sampai bisa memakai kata “AM” utk menggantikan kata “Katolik” ?. Coba berikan referensi valid kata “AM” bermakna “Katolik” ?, sampai kiamat pun tdk bisa ditemukan turunan² dari kata “Katolik” yg menjadi “AM” !.
Mana data dari Kitab Suci & tradisi atau sejarah Gereja terkait kata AM ?. Mana org Kristen luar negeri yg pakai kata AM ?.
Sedangkan nama Gereja Katolik Roma, ada embel² kata “Roma” nya, itu sejak abad 18M yg di buat bukan oleh Gereja Katolik, melainkan oleh Raja Inggris bernama Henry-VIII yg saat itu memisahkan diri nya dari Gereja Katolik & membuat aliran baru nya sendiri bernama gereja Anglikan, lalu ia melabeli kata “Roma” di belakang kata “Gereja Katolik” utk membedakan gereja yg di pimpin nya dgn Gereja Katolik yg di pimpin oleh Paus. Saat itu King Henry-VIII mengangkat diri nya sendiri sbg Paus nya Anglikan. King Henry-VIII melakukan hal² tsb krn ia memusuhi & sangat benci kpd Paus saat itu yg tdk mau mengabulkan permintaan nya utk berpoligami alias punya isteri lebih dari 1. King Henry-VIII ingin berpoligami krn isteri nya saat itu yg bernama ratu Katerina dari Aragorn, Prancis tdk bisa memberikan nya keturunan anak laki²(pewaris tahta nya kelak) krn mengalami mandul setelah melahirkan anak perempuan nya satu²nya. Jd, sejak awal tdk ada nama Gereja Katolik Roma, melainkan nama Gereja Katolik saja yg punya 2 ritus (ritus barat & timur). Ingat, sejak awal Gereja Katolik ada di mana², tdk hanya di Roma, tp Gereja Katolik sejak awal berpusat di Roma.
All reactions:
14
3 of 16
Other posts
Wimer
·2h ·
JUMLAH PENGANUT PROTESTAN TERBANYAK DI INDONESIA????
Ada yang pernah minta untuk sebutkan cukup 5 denom saja. Tetapi yang bersangkutan juga mungkin tidak tau berapa banyak denom agamanya sendiri (PROTESTAN).
Berikut adalah daftar persentase dan jumlah penganut agama di Indonesia berdasarkan data terbaru:
Islam (87,2% atau sekitar 207 juta jiwa),
Protestan (6,9% atau sekitar 16,5 juta jiwa),
Katolik (2,9% atau sekitar 8,74 juta jiwa),
Hindu (1,7% atau sekitar 4,75 juta jiwa),
Buddha (0,74% atau sekitar 2,01 juta jiwa),
Konghucu (0,05% atau sekitar 77.525 jiwa).
(1) KATOLIK : 8,74 juta jiwa.
Jumlah jiwa Katolik 8,74 juta jiwa ini UTUH.
PROTESTAN : 16,5 juta jiwa.
Jumlah 16,5 juta jiwa ini terbagi ke dalam 104 jumlah denominasi yang resmi terdaftar di PGI sebagaimana daftar di bawah.
Jika 16,5 juta jiwa dibagi secara rata-rata ke 104 denominasi maka jumlah jiwa jemaat satu denominasi hanya sebanyak 158.654 jiwa.
Sedangkan di luar sana banyak denominasi Protestan yang belum menjadi anggota PGI sehingga belum masuk daftar ini.
Sinode Gereja-Gereja Anggota PGI
Saat ini terdapat 104 sinode gereja (yang terus bertambah) di bawah PGI, yang berkembang dari 26.
1. Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)
2. Banua Niha Keriso Protestan (BNKP)
3. Gereja Batak Karo Protestan (GBKP)
4. Gereja Methodis Indonesia (GMI)
5. Gereja Kalimantan Evangelis (GKE)
6. Gereja Masehi Injili di Sangihe Talaud (GMIST)
7. Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM)
8. Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow (GMIBM)
9. Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST)
10. Gereja Toraja
11. Gereja Toraja Mamasa (GTM)
12. Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKSS)
13. Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (GEPSULTRA)
14. Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH)
15. Gereja Protestan Maluku (GPM)
16. Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKI TP)
17. Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT)
18. Gereja Kristen Sumba (GKS)
19. Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB)
20. Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW)
21. Gereja Kristen Indonesia (GKI)
22. Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ)
23. Gereja Kristen Jawa (GKJ)
24. Gereja Kristen Pasundan (GKP)
25. Gereja Kristus (GK)
26. Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB)
27. Gereja Protestan di Indonesia (GPI)
28. Gereja Isa Almasih (GIA)
29. Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI)
30. Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS)
31. Gereja Kristen Pemancar Injil (GKPI)
32. Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS)
33. Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS)
34. Huria Kristen Indonesia (HKI)
35. Gereja Kristen Luwuk Banggai (GKLB)
36. Gereja Kristus Tuhan (GKT)
37. Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID)
38. Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB)
39. Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo (GPIG)
40. Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU)
41. Gereja Kristen Kalimantan Barat (GKKB)
42. Gereja Gerakan Pantekosta (GGP)
43. Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI)
44. Gereja Protestan Indonesia di Buol Toli-Toli (GPIBT)
45. Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM)
46. Gereja Kristen Indonesia Sumatera Utara (GKI Sumut)
47. Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA)
48. Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM)
49. Gereja Mission Batak (GMB)
50. Angowuloa Masehi Indonesia Nias (Gereja AMIN)
51. Gereja Kristen Anugerah (GKA)
52. Gereja Protestan Indonesia di Luwu (GPIL)
53. Gereja Kebangunan Kalam Allah (GKKA)
54. Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK)
55. Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP)
56. Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS)
57. Gereja Protestan Kalimantan Barat (GKKB)
58. Gereja Bethel Indonesia (GBI)
59. Gereja Kristen Injili Indonesia (GKII)
60. Gereja Masehi Injili Indonesia (GEMINDO)
61. Gereja Kristen Injili di Indonesia (GEKISIA)
62. Gereja Kristen Luther Indonesia (GKLI)
63. Gereja Protestan Persekutuan (GPP)
64. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI)
65. Gereja Tuhan di Indonesia (GTdI)
66. Gereja Kristen Indonesia di Sulawesi Selatan (GKI Sulsel)
67. Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB)
68. Angowuloa Fa’awosa Kho Yesu (AFY)
69. Gereja Rehoboth (GR)
70. Gereja Protestan Indonesia di Papua (GPI Papua)
71. Gereja Kristen Protestan Pak Pak Dairi (GKPPD)
72. Gereja Keesaan Injili Indonesia (GEKINDO)
73. Gereja Masehi Protestan Umum (GMPU)
74. Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)
75. Gereja Kristen Oikoumene di Indonesia (GKO)
76. Gereja Sahabat Indonesia (GSI)
77. Gereja Utusan Pantekosta di Indonesia (GUPDI)
78. Gereja Protestan Indonesia di Banggai Kepulauan (GPIBK)
79. Gereja Masehi Injili di Talaud (Germita)
80. Gereja Kristen Abdiel (GKA)
81. Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI)
82. Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (GSJA)
83. Gereja Kristus Yesus (GKY)
84. Gereja Kristen Protestan Injili Indonesia (GKPII)
85. Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII)
86. Gereja Protestan Soteria di Indonesia (GPSI)
87. Gereja Kristen Sangkakala Indonesia (GKSI)
88. Kerukunan Gereja Masehi Protestan Indonesia (KGMPI)
89. Jemaat Kristen Indonesia (JKI)
90. Gereja Misi Injili Indonesia (GMII)
91. Gereja Niha Keriso Protestan Indonesia (GNKPI)
92. Gereja Sidang Jemaat Kristus (GSJK)
93. Gereja Kristus Tuhan Indonesia (GKTI)
94. Gereja Kristen Injili Nusantara (GKIN)
95. Gereja Sungai Yordan
96. Gereja Masehi Musafir Indonesia (GMMI)
97. Gereja Kristen Baithani (GKB)
98. Banua Keriso Protestan Nias (BKPN)
99. Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI)
100. Gereja Allah Peduli Indonesia (GAPI)
101. Gereja Kerapatan Injili Bangsa Indonesia (Gereja KIBAID)
102. Gereja Beth-el Tabernakel (GBT)
103. Gereja Persekutuan Sidang Kristus (GPSK)
104. Gereja Yesus Kristus Tuhan (GKYT)
Baca ko paham..
All reactions:
3
3 of 6
Francizco Whetzy Tandungan ·2h ·
Mungkin sekolah2 teologi protestan perlu menambah koleksi buku sebagai buku wajib, khususnya buku “ROME SWEET HOME” yg ditulis oleh Scott Hahn…biar nanti ketika sdh jadi pendeta…kotbahnya makin menggelegar.
0:05 / 34:23
Siatus Tusde Apeliling is with Benediktus Apenobe and
99 others
.
18h ·
Buat Jemaat dan Bapak2 Pdt dengarlah ibu Pdt.
1:46 / 1:56
All reactions:
74
3 of 76
BENARKAH PROTESTAN DIILHAMI OLEH ROH KUDUS?
Berdasarkan perkiraan dari banyak kalangan seperti yang dikemukakan antara lain oleh Pendeta Yonatan Purnomo bahwa denominasi Protestan di seluruh dunia sudah berkisar antara 47.000 sampai 60.000 denominasi. Suatu jumlah yang sangat fantastis bahkan bombastis untuk sebuah agama yang baru berdiri selama 508 tahun. 508 tahun X 12 bulan = 6.096 bulan. 6.096 bulan X 30 hari 30 hari sebulan = 182.880 hari. Jika jumlah denominasi (60.000) dibagi jumlah hari selama 508 tahun yaitu 182.880 hari maka rata-rata setiap 3 hari berdiri 1 denominasi Protestan baru di dunia.
FENOMENA perpecahan tak terperikan dalam Protestan ini bukan saja menjadi bahan sorotan Katolik tapi juga menjadi keprihatinan internal Protestan sendiri sebagaimana pengakuan jujur pendeta Yusup Roni dalam video.
Apapun alasan terjadinya perpecahan, tetap saja perpecahan itu bukan hal yang baik.
Masalahnya di balik perpecahan itu, masing-masing denominasi Protestan mengklaim karunia Roh Kudus.
BENARKAH PERPECAHAN DALAM PROTESTAN DIILHAMI OLEH ROH KUDUS?
Perpecahan dalam Alkitab timbul karena adanya sifat manusia duniawi seperti iri hati, perselisihan, dan kesombongan, serta karena penolakan terhadap kebenaran seperti yang terlihat pada jemaat Korintus (1 Korintus 3:3, 1 Korintus 11:19). Selain itu, perpecahan juga bisa timbul karena adanya “dosa”, “gosip”, “kesombongan”, “ketakutan”, atau “fitnah” (2 Korintus 12:20, 1 Korintus 12:20).
Apa akibat dari perpecahan?
Matius 12:25 (dan paralelnya di Lukas 11:17 dan Markus 3:25):
“Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Setiap kerajaan yang terbagi-bagi melawan dirinya sendiri pasti binasa, dan setiap kota atau rumah tangga yang terbagi-bagi melawan dirinya sendiri tidak akan bertahan”.
Sebaliknya karya Roh Kudus dapat dikenali dari buah-buahnya sebagaimana Galatia 5:22-23
Galatia 5:22-23
5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
JADI FIX YA, PROTESTAN BERDIRI BUKAN HASIL KARYA ROH KUDUS. KARENA DNA PROTESTAN ITU PERPECAHAN, DAN PERPECAHAN ITU BUKAN KARYA ROH KUDUS.
KALAU BEGITU PERPECAHAN DALAM PROTESTAN ITU KARYANYA …………..?
Bagi penganut Protestan di grup VV yang tidak terima dengan TS ini, silahkan bantah secara kredibel dengan dasar dasar yang tertanggungjawab.
0:03 / 2:05
Mille Nial ·2d ·
MAGISTERIUM GERAJA KATOLIK-ROMA MEMBUNUH M∆TI GALILEO GALILEI
————————–
Karna Gereja menyatakan bahwa :
1. Bumi itu diam di t4 nya, dan matahari & planet² lain lah yg berputar mengelilingi bumi.
2. Bumi itu bentuknya datar,, bukan bulat.
dan hal ini ditentang oleh Galileo, yg mengakibatkan dia dihukum oleh Gereja Katolik-Roma.
Padahal jelas² magisterium Katolik-Roma lah yg salah,,
galilei yg sangat benar.
tapi kenapa galilei tetap dihukum mati oleh katolik-roma ??
inilah akibatnya kalo paus mau sok-sokan menjadi ahli astronomi.
All reactions:
2
3 of 16
Roger Zhembo ·4d ·
SEJARAH KELAM KATROM SEBELUM REFORMASI
Jan Hus (1369–1415) adalah seorang imam, pengajar di Universitas Praha, dan tokoh reformasi Gereja awal dari Bohemia (sekarang Ceko).
Ia terinspirasi oleh John Wycliffe (reformis Inggris) yang mengkritik penjualan surat pengampunan dosa ( indulgensi ), korupsi Gereja Katolik, serta supremasi Paus.
Hus menekankan, Otoritas tertinggi ada pada Alkitab, bukan pada Paus.
Umat berhak menerima perjamuan dalam dua rupa (roti dan anggur), bukan hanya roti seperti yang dibatasi Gereja Katolik waktu itu.
Pandangannya dianggap berbahaya oleh Gereja. Pada Konsili Konstanz (1415), Jan Hus diadili dan dibakar hidup-hidup karena dianggap heretik (sesat).
Meletusnya Pemberontakan Hussite,
Eksekusi Jan Hus memicu kemarahan rakyat/ pengikutnya di Bohemia,
Kaum pendukungnya disebut Hussites, yang terbagi dua.
• Utraquists (moderate Hussites) menuntut reformasi tetapi masih mau kompromi dengan Gereja.
• Taborites (radikal) menolak otoritas Paus, menekankan kesetaraan, dan bersifat revolusioner.
Gereja Katolik dan Kaisar Romawi Suci berusaha menghancurkan gerakan ini. Paus Martinus V bahkan menyerukan perang salib terhadap kaum Hussite. Namun, Hussite dipimpin oleh Jan Žižka, seorang jenderal brilian yang menggunakan taktik wagenburg (benteng gerobak perang) mereka berhasil mengalahkan pasukan salib berkali-kali, meski jumlah mereka lebih sedikit.
Dalam beberapa pertempuran penting (1420–1431), pasukan salib Paus dan Kaisar dipukul mundur dengan kekalahan memalukan.
Setelah kematian zizka (1424), perpecahan antara kelompok moderat dan radikal semakin tajam.
Pada 1434, dalam Pertempuran Lipany, kaum moderat Utraquist bekerja sama dengan Katolik mengalahkan kaum Taborite
Pembantaian rakyat Sipil & Penindasan. Kaum Hussite yang tertangkap mereka di bantai dan dibakar hidup-hidup oleh Inkuisisi gereja katolik. Sementara di desa-desa Bohemia yang pro-Hussite, pasukan salib Katolik melakukan eksekusi massal termasuk rakyat sipil tak bersalah, ratusan korban juga di bantai, di bakar hidup hidup dalam sekali pembantaian.
Akhirnya, pada 1436, melalui Compact of Basel, kaum Hussite moderat diakui dan diberi kebebasan terbatas,
Umat Bohemia boleh menerima komuni dalam dua rupa (roti dan anggur). Namun tetap mengakui otoritas Gereja Katolik.
Hussite adalah gerakan reformasi besar pertama di Eropa, hampir 100 tahun sebelum Martin Luther (1517). Mereka menunjukkan bahwa umat bisa melawan otoritas Paus dengan kekuatan militer dan teologis. Banyak sejarawan melihat Hussite sebagai pendahulu Reformasi Protestan.
Perang Hussite adalah konflik brutal antara rakyat Bohemia dengan Gereja Katolik & Kekaisaran Romawi Suci, dipicu eksekusi Jan Hus. Kaum Hussite menjadi simbol perlawanan terhadap tirani gereja, dan meninggalkan jejak penting menuju Reformasi Protestan.
~ Sumber Historis ~
1. Howard Kaminsky, A History of the Hussite Revolution (University of California Press, 1967).
2. Thomas A. Fudge, The Trial of Jan Hus: Medieval Heresy and Criminal Procedure (Oxford University Press, 2013).
3. Thomas A. Fudge, The Crusade Against Heretics in Bohemia, 1418–1437 (Ashgate, 2002).
4. Norman Housley, Religious Warfare in Europe 1400–1536 (Oxford University Press, 2002).
5. František Šmahel, The Hussite Revolution (1993).
All reactions:
15
3 of 22
KATA PENDETA PROTESTAN DI VIDEO INI BERUNTUNG DI INDONESIA MAYORITAS ISLAM, KALAU INDONESIA MAYORITAS KRISTEN PARA PENDETA PENDETA SUDAH MENIKAHKAN SESAMA JENIS SEPERTI DI LIAR NEGERI
__________________
ya, Krn di protestan semua bebas Krn tak ada otoritas
Gereja Katolik mengajarkan bahwa perkawinan bukan merupakan hubungan ‘apa saja’ antara manusia. Perkawinan ditentukan oleh Allah Sang Pencipta dengan kodratnya tersendiri, dengan sifat-sifat dan maksudnya yang hakiki (lih. Gaudium et Spes 48). Maka perkawinan hanya dapat diadakan antara seorang pria dan seorang wanita, yang dengan saling memberikan diri yang sepantasnya dan eksklusif hanya antara mereka berdua, mengarah kepada persekutuan pribadi mereka. Dengan cara ini, mereka saling menyempurnakan dalam rangka bekerjasama dengan Tuhan di dalam penciptaan dan pengasuhan (upbringing) kehidupan-kehidupan manusia yang baru.
0:00 / 0:36
All reactions:
17
3 of 5
Mille Nial ·1d ·
AKIBAT SOK-SOKAN MAU JADI AHLI ASTRONOMI.
magisterium / pengajaran sahih gereja katolik-roma mengajar kepada umatnya bahwa :
- bumi diam di t4, dan matahari yg berputar mengelilingi bumi.
- bumi itu datar ceper bukan bulat.
kedua hal ini ditentang oleh Galileo Galiley, dan pada akhirnya Galileo Galiley dihukum karna dianggap menentang pengajaran/ magisterium gereja katolik-roma.
kenyatasn ini membuktikan bahwa magisterium itu cuman t4 sampah yg isinya penuh dgn kotoran para ikan paus.
All reactions:
34
Pada akhirnya kan gereja mengakui pandangan galileo, itu bukti gereja terbuka tapi tetap satu… Tidak sama dgn yg lain, isi kitab yg tidak sesuai dgn keinginan mrk dirobek buang dan ambil sesuai selera..
Sampai skrg sekte alami perkembangan pesat, krn semua mau jadi pemimpin seperti om luther, skalian kawin lari
Magisterium, Galileo, dan Evaluasi Historis-Teologis Berdasarkan Perspektif Tritunggal Klasik
—…
See more
Trus apa sumbangsih sekte mu untuk dunia?
3 of 51
Mille Nial ·1h ·
ANDA SUDAH MENGHUJAT ROH KUDUS
Markus 3:29
Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.”
Lukas 12:10
Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.
KASIAN…
BINASALAH ENGKAU.
Peter Abram Zeki
===
Allah tidak pernah menetapkan kanon kitab2 alkitab di dalam konsili Trente, yang menetapkan kanon itu manusia melalui VOTING.
===
Kalau Allah yg menetapkan kanon2 kitab alkitab maka sdh tentu tidak akan ada perbedaan jumlah kitab2 dlm alkitab, tetapi fakta berbicara jumlah daftar kitab2 alkitab para pengkanon itu tidak sama, itu sebuah bukti bhw manusialah yg menetapkan kanon2 alkitab, kanonisasi bukan pekerjaan Allah karena alkitab tidak jatuh dari langit yg didiktekan dan ditetapkan Roh Kudus, manusialah yg memutuskan apakah kitab2 itu kanonik atau extra kanonik, agar disimak juga bhw konsili Trente itu mengesahkan alkitab melalui voting dg perolehan 55 % setuju, 30% menolak dan 15% abstain.
===
All reactions:
5
Win Kaligis Wuaten
INGAT!!
Protestan,BUKN 1 KESATUAN SPERTI KRISTEN ASLI KATOLIK YG SEJATI,sesuai ef 4:4 – 6
Sdngkn protestan itu KUMPULAN SEKTE2 yg BERBEDA 1000% DGN KRISTEN ASLI KATOLIK SEJATI, DGN 1 PIMPINANNYA yi: BAPA SUCI PAUS( Wakil Yesus dibumi yg kelihatan pene…
See more
Kalo selalu protes ttg kanon alkitab dan jelas jwbnnya adalah protestan. Otak penulis saja yg menilai spt itu sebab si penulis. Knp sampai ada kata kanon dan apa tujuan kanon ?. Si penulis harus tahu itu dan jgn asal tulis dan tulisanmu ada hidden crit…
See more
Win Kaligis Wuaten
KRISTEN YG ASLI DAN SEJATI HNYA KATOLIK,BUKTI DAN TERBUKTI YG TAK TERBANTAHKAN!!!
SUKSESINYA JLAS DARI RASUL PETRUS,YG SATU2NYA RASUL YG DIBRIKN KUNCI KERAJAAN SURGA ARTINYA PETRUSLAH PEMIMPIN DARI 11 RASUL LAIN,DAN KPDA PETRUS YESUS KATAKAN GEMBALAKAN…
See more
3 of 5
===
Protestan menolak nestorianisme ?
===
Fakta berbicara bhw pendeta2 GRII menolak Maria mengandung dan melahirkan pribadi Logos yg memiliki kodrat Allah dan kodrat manusia.
Pendeta2 reformed tsb terpapar faham BIDAT NESTORIAN karena memisahkan kodrat Allah dari kodrat manusia Kristus di dalam pribadi Logos (hypostasis union) sehingga pribadi Logos terpecah memiliki pribadi Allah dan pribadi manusia, akivatnya adalah kodrat manusia Kristus memiliki pribadi manusia (dua pribadi dan dua kodrat faham bidat nestorian).
===
All reactions:
3
Tarigan Tarigan Disnan
Zaman sekarang ini banyak gila agama.padahal kiamat nanti .malaikat takkan bertanya apa agamamu dimana kau gereja tapi malaumikat bertanya apa yg telah kau perbuat selama kau di dunia.
Tanggapan Teologis dan Historis terhadap Tuduhan “Nestorianisme dalam Tradisi Reformed”
1. Klarifikasi premis dan istilah…
See more
Mille Nial ·1d ·
HANYA DEKAT “ALLAH_YHWH” SAJA.
bukan dekat PAUS
dan juga bukan dekat PENDETA
bagi mreka yg tidak suka dekat dengan Allah YHWH,, pasti komenya selalu hujat cacimaki.
itulah tanda dia sedang dikuasai oleh iblis dari vatikano.
All reactions:
3
ROMORA ARTA
Siapa meninggikan diri, akan direndahkan.
Tuhan menyelidiki hati setiap manusia.
Bukan krn anda KATOLIK lalu benar dimata Tuhan. Tp seperti apa akhlak dan batin anda.…
See more
Tolol,
Yesus aja memilih 12 Rasulnya untuk meneruskan pengajarannya.
Dan kamu tidak dipilih. Emangnya kamu siapa? Lebih hebat dari Yesus ya.
Mazmur zamannya Raja Daud emang sudah ada terpilihnya 12 Rasul yg memberitakan injil?
3 of 6
Suratno Eko ·1d ·
Lukas 22:19-20 (TB)
Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka,
kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu;
● perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku .”
Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.
#Kalimatnya sangat jelas ;
“” Sebagai PERINGATAN akan Aku .””
bahwa Ia telah mempersembahkan diri-Nya
dan juga mempersembahkan darah-Nya ( nyawa-Nya )
bagi penebusan dosa manusia .
Terimalah tubuh-Nya dan terimalah juga darah-Nya .
Terimalah roti dan anggur ,
dan bukan roti-nya saja .
Terimalah tubuh Ku dan darah-Ku
Jadilah pelaku firman dan berspirit Kristus
Sebab Iman tanpa perbuatan adalah mati
Sebab Iman menjadi sempurna jika disertai dengan perbuatan .
#Mereka yg adalah murid Yesus yaitu mereka yg mengaku percaya kepada-Nya ,
mereka berhak memakan roti dan meminum anggur secara bersama-sama , seperti yg dilakukan oleh Tuhan Yesus bersam-sama dengan semua murid-Nya ..
#Anggur dan roti adalah sarana perjamuan .
Jangan dijadikan AZIMAT KESELAMATAN , sehingga engkau memberhalakannya .
#Sebab keselamatan itu diperoleh oleh mereka yg percaya kepada Bapa YHWH , Allah yg Esa
dan kepada Anak Tunggl Bapa , Tuhan Yesus Kristus
dan mereka memuliakan Bapa melalui hidup berpadanan dengan hidupnya Tuhan Yesus Kristus yg senantiasa melakukan kehendak Bapa .
1 Yohanes 2 : 6
Shalom
All reactions:
1
Menurut anda bisa dilakukan semua orang ???
Suratno Eko didalam daging mengalirlah darah, klo daging tanpa darah itu hantu. Sampai disini anda sudah paham?
Suratno Eko apakah sektemu merayakannya?
3 of 5
TAAT KEPADA SIAPA? KETAATAN RASULI DAN REALITAS DENOMINASI: TANGGAPAN TEOLOGIS ATAS KLAIM “BUKTI 500 TAHUN — PROTESTAN TAK TAAT”
Klaim bahwa “fakta 500 tahun dan banyaknya denominasi Protestan membuktikan ketidaktaatan Protestan terhadap Kristus” menunjukkan kesalahpahaman konseptual mengenai makna ketaatan rasuli, serta kekeliruan historis dan logis tentang sifat Gereja dan kesatuannya. Penilaian seperti itu mengasumsikan bahwa kesatuan sejati adalah keseragaman lembaga, padahal Alkitab dan tradisi rasuli memandang kesatuan dalam Kristus, bukan dalam struktur tunggal manusia.
—
1. Ketaatan dalam Perspektif Eksegesis Rasuli
Kata “taat” (ὑπακοή – hypakoē) dalam Perjanjian Baru tidak pernah berarti tunduk buta kepada lembaga, melainkan respons iman kepada Firman Allah. Roma 1:5 menyebut panggilan rasul “untuk membawa segala bangsa kepada ketaatan iman” (eis hypakoēn pisteōs). Dengan demikian, ukuran ketaatan bukan loyalitas kepada institusi, melainkan kesetiaan pada Injil Yesus Kristus.
Yesus sendiri tidak taat pada sistem keagamaan Farisi yang sah secara institusional; Ia justru melawannya demi ketaatan kepada kehendak Bapa (Yohanes 5:30). Maka, ketaatan sejati bersumber dari relasi vertikal dengan Allah, bukan dari afiliasi horizontal dengan lembaga yang mengklaim otoritas ilahi.
Reformasi menegaskan prinsip yang sama: Ecclesia sub Verbo Dei — Gereja berada di bawah Firman Allah, bukan di atasnya. Ketika Gereja institusional menyimpang dari Injil, tindakan korektif bukan ketidaktaatan, tetapi ketaatan sejati kepada Kristus.
—
2. Kesatuan Gereja dalam Perspektif Trinitarian Klasik
Dalam teologi Tritunggal klasik, kesatuan bukanlah keseragaman substansi, melainkan perichoresis — saling berdiam dalam kasih tanpa meniadakan keunikan pribadi. Gereja sebagai tubuh Kristus (1 Korintus 12) meniru pola ini: banyak anggota, satu tubuh. Perbedaan bentuk dan karunia tidak meniadakan kesatuan rohani.
Kesatuan yang sejati bersumber dari Roh Kudus (Efesus 4:3–6), bukan dari struktur hierarkis. Gereja Katolik sendiri mengakui bahwa di luar struktur Roma pun ada “unsur-unsur pengudusan dan kebenaran” (Dekrit Unitatis Redintegratio, Vatikan II). Maka, menilai banyaknya denominasi sebagai bukti “tidak taat” adalah reduksi dangkal terhadap kompleksitas teologis kesatuan dalam Kristus.
—
3. Fakta Historis: Pluralitas Gereja bukan Fenomena Protestan Saja
Sebelum Reformasi, Gereja sudah mengalami perpecahan besar:
• Skisma Timur–Barat (1054) — antara Gereja Katolik Roma dan Ortodoks Timur.
• Skisma Avignon (1378–1417) — muncul beberapa “paus tandingan.”
• Perpecahan dalam ordo dan biara (Dominikan, Fransiskan, Benediktin) yang saling bertentangan.
Semua itu terjadi sebelum Luther. Maka, pluralitas dalam tubuh Gereja bukanlah akibat moral individu, melainkan realitas sejarah komunitas manusia yang terbatas dan berdosa. Reformasi hanya memperjelas keretakan yang sudah lama ada karena penyimpangan dari Injil.
—
4. Logika Salah dari Klaim “500 Tahun Bukti Ketidaktaatan”
a) Argumentum ad consequentiam – Menilai benar-salah doktrin dari konsekuensinya (perpecahan) adalah kekeliruan logis. Fakta bahwa banyak denominasi muncul tidak membuktikan ajaran salah; sebagaimana fakta bahwa banyak sekte Katolik atau Ortodoks muncul tidak membatalkan kebenaran Trinitas.
b) Post hoc ergo propter hoc – Menganggap bahwa karena denominasi muncul setelah Reformasi, maka Reformasi penyebabnya. Padahal perpecahan lahir dari faktor hermeneutik, sosial, dan politik yang kompleks.
c) Circular reasoning – Menyimpulkan bahwa Protestan tidak taat karena tidak tunduk pada Roma, sementara Roma dianggap benar karena diikuti yang taat. Ini bukan argumen teologis, tetapi sirkulasi klaim otoritas.
—
5. Ketaatan Yesus sebagai Model: Dialektika Kasih dan Kebenaran
Yesus taat bukan karena tunduk kepada struktur religius Yahudi, tetapi karena Ia mengasihi Bapa dan menggenapi kehendak-Nya (Yohanes 4:34). Ia menegur para imam besar dan ahli Taurat yang menyelewengkan hukum (Matius 23). Jika ketaatan Yesus dipahami sebagai kesetiaan terhadap sistem manusia, maka Ia seharusnya tidak disalib oleh lembaga religius resmi waktu itu.
Dengan demikian, ketaatan sejati selalu disertai discernment terhadap kehendak Allah. Luther dan Reformator berdiri dalam tradisi profetik itu: menegur penyimpangan demi kemurnian Injil. Ini bukan pemberontakan terhadap Kristus, tetapi kesetiaan pada-Nya.
—
6. Aspek Kanonik dan Soteriologis
Kitab Suci sendiri menunjukkan bahwa ketaatan yang menyelamatkan bukanlah keseragaman organisasi, melainkan iman yang bekerja oleh kasih (Galatia 5:6). Paulus menegur jemaat Korintus karena terpecah dalam nama manusia (1 Korintus 1:12–13), tetapi tidak menghapus mereka dari tubuh Kristus — ia memanggil mereka kembali kepada kesatuan dalam Injil.
Maka, pluralitas denominasi harus dibaca sebagai tantangan pastoral, bukan bukti ketidaktaatan ontologis. Roh Kudus tetap bekerja dalam sejarah untuk memurnikan Gereja-Nya melalui pertobatan, koreksi, dan pembaruan.
—
7. Kritik Balik terhadap Penulis Bantahan
Pertama, menyempitkan ketaatan kepada bentuk hierarki tunggal mengabaikan dimensi pneumatologis dari Gereja. Roh Kudus bebas bekerja di mana Kristus diakui sebagai Tuhan dan Injil diberitakan dengan benar.
Kedua, menganggap pluralitas denominasi sebagai “kutukan” menunjukkan pandangan providensia yang sempit. Allah berdaulat bahkan atas perpecahan manusia (Kejadian 50:20). Reformasi, meski penuh kelemahan, telah mengembalikan pusat iman kepada Kristus dan Firman — sesuatu yang bahkan diakui oleh banyak teolog Katolik modern.
Ketiga, argumentasi “lihat hasilnya setelah 500 tahun” adalah reduksionisme pragmatis. Jika kebenaran diukur dari jumlah pengikut dan kesatuan lembaga, maka Islam atau Buddhisme pun bisa diklaim “lebih benar” karena lebih banyak penganut dan lebih stabil secara struktur. Kebenaran teologis tidak diukur dari statistik atau uniformitas, tetapi dari kesetiaan kepada wahyu Allah di dalam Kristus.
—
8. Penilaian Teologis Sistematis
• Ketaatan dalam pandangan Tritunggal klasik adalah partisipasi dalam kasih dan kehendak Allah, bukan tunduk pada otoritas yang tidak dapat salah.
• Kesatuan adalah karya Roh Kudus, bukan hasil administratif manusia.
• Pluralitas denominasi merupakan gejala sejarah Gereja berdosa, tetapi Allah tetap bekerja di dalamnya untuk menyatakan Injil.
• Kesetiaan Protestan tidak diukur dari keseragaman organisasi, tetapi dari kesetiaan pada inti rasuli: “Yesus Kristus adalah Tuhan” (1 Korintus 12:3).
—
Kesimpulan
Menuduh Protestan “tidak taat” karena banyak denominasi berarti menyamakan kesatuan dengan keseragaman dan mengabaikan dinamika sejarah karya Roh Kudus dalam Gereja. Reformasi tidak lahir dari ketidaktaatan moral, tetapi dari panggilan profetik untuk memulihkan pusat iman kepada Kristus dan Firman.
Kesatuan sejati bukan monopoli lembaga, melainkan buah dari Roh Kudus dalam hati orang percaya. Gereja yang benar bukan yang paling besar atau paling seragam, melainkan yang paling setia pada Injil kasih karunia Tritunggal — tempat di mana Kristus tetap menjadi Kepala, bukan manusia.
Wahyu, Kanon, dan Providensi Roh Kudus dalam Perspektif Tritunggal Klasik: Kritik terhadap Reduksionisme Historis dan Mistifikasi Konsepsi “Turun dari Surga”
1. Distingsi Karya Roh Kudus: Inspirasi dan Providensi Kanonik
Pernyataan bahwa “yang meragukan voting kanonik berarti tidak meyakini karya Roh Kudus” adalah simplifikasi teologis yang tidak memadai secara eksegesis maupun dogmatis. Teologi Tritunggal klasik membedakan dua karya Roh Kudus dalam konteks Kitab Suci: inspiratio (ilham) dan providentia canonica (pemeliharaan dalam pengakuan Gereja). Ilham adalah tindakan langsung Roh Kudus pada para penulis ilahi untuk menuliskan Firman (2 Tim 3:16; 2 Ptr 1:21). Providensi kanonik adalah tindakan pemeliharaan Roh Kudus yang menuntun Gereja untuk mengenali tulisan yang telah diilhami tersebut. Dengan demikian, karya Roh Kudus dalam sejarah bukanlah proses “pembuatan” wahyu melalui perdebatan, melainkan penegasan dan pengenalan atas wahyu yang sudah diberikan.
2. Kesalahan Epistemologis dalam Klaim “Roh Kudus di Voting”
Menyamakan perdebatan atau diskusi konsili dengan tindakan langsung Roh Kudus secara otomatis (tanpa filtrasi manusiawi) adalah bentuk pneumatologisme — yakni pandangan yang melebih-lebihkan peran Roh Kudus hingga meniadakan rasionalitas, kebebasan, dan fallibilitas manusia. Dalam sejarah, bahkan konsili yang dihadiri uskup-uskup kudus pun kadang menghasilkan keputusan yang kemudian ditolak karena tidak sejalan dengan tradisi rasuli (misalnya, Konsili Ariminum, 359 M, yang sempat mendukung Arianisme). Ini menunjukkan bahwa bukan setiap keputusan mayoritas gerejawi identik dengan bimbingan Roh Kudus secara normatif. Roh Kudus menuntun Gereja, tetapi tidak meniadakan tanggung jawab manusia untuk menguji (1 Yoh 4:1) dan menilai berdasarkan kesaksian Firman (Yoh 16:13).
3. Analisis Historis: Konsili dan Kesadaran Kanonik
Proses pengakuan kanon di Konsili Hippo (393) dan Kartago (397) memang melibatkan diskusi dan doa, tetapi bukan perdebatan dalam arti voting politik teologis. Mereka mengafirmasi daftar yang sudah diakui universal di gereja-gereja lokal sejak abad pertama. Bahkan Athanasius (367 M) telah memberi daftar yang identik dengan Perjanjian Baru sekarang, jauh sebelum konsili. Artinya, peran konsili bersifat declarative (menyatakan), bukan constitutive (menciptakan). Pernyataan bahwa “yang tidak meyakini voting berarti tidak percaya karya Roh Kudus” adalah kekeliruan logis, karena karya Roh Kudus mendahului konsili itu sendiri. Roh Kudus telah bekerja dalam proses pengakuan kitab suci jauh sebelum keputusan formal terjadi.
4. Analisis Eksegetis dan Teologis terhadap Natur Wahyu
Wahyu dalam Alkitab tidak pernah digambarkan sebagai hasil kompromi manusia. “Segala tulisan diilhamkan Allah” (πᾶσα γραφὴ θεόπνευστος – pasa graphē theopneustos) menegaskan sumber ilahi wahyu, bukan hasil kolektif manusia. Yohanes 16:13 menyatakan bahwa Roh Kudus menuntun rasul ke dalam seluruh kebenaran, bukan menuntun voting manusia terhadap kebenaran. Gereja berperan mengenali (recognitio), bukan menetapkan (constitutio). Maka, keyakinan terhadap karya Roh Kudus tidak sama dengan menganggap setiap hasil diskusi otomatis infalibel. Roh Kudus adalah pribadi ilahi yang memimpin Gereja secara rohani dan historis, bukan “otoritas prosedural” yang bekerja dalam voting administratif.
5. Kritik Dogmatis terhadap Mistifikasi Historis
Menuduh bahwa mereka yang menolak teori voting berarti “percaya Alkitab turun dari langit dalam bentuk buku” adalah serangan straw man (karikatural) terhadap posisi teologi klasik. Tidak ada teolog Reformed, Katolik, atau Ortodoks yang mengajarkan bahwa Alkitab turun dari surga secara fisik. Justru semua tradisi besar mengakui dinamika sejarah dan peran Gereja dalam pengakuan kanon, tetapi dalam kerangka providensi Roh Kudus. Kesalahan argumen tersebut adalah memutarbalikkan oposisi terhadap voting menjadi penolakan terhadap karya Roh Kudus — padahal yang dikritik bukan peran Roh Kudus, melainkan reduksi terhadap pewahyuan menjadi produk mayoritas manusia.
6. Perspektif Kanonik Tritunggal: Pewahyuan sebagai Karya Bapa–Firman–Roh Kudus
Teologi Tritunggal klasik menegaskan bahwa Allah Bapa adalah sumber wahyu, Firman (Yesus Kristus) adalah bentuk penyataan-Nya, dan Roh Kudus adalah yang menyingkapkan dan mengokohkan kebenaran itu dalam Gereja. Maka, proses kanonisasi adalah sinergi antara tindakan ilahi dan pengakuan manusia yang dipimpin oleh Roh. Gereja tidak “membuat” Firman, karena Firman mendahului Gereja (Yoh 1:1). Gereja hanya menjadi serva verbi Dei (hamba Firman Allah). Menjadikan voting gerejawi sebagai sumber utama otoritas kanon berarti menempatkan manusia sebagai prinsip normatif wahyu — ini bertentangan dengan natur pewahyuan yang bersifat theandrik (ilahi-manusiawi), di mana unsur ilahi tetap yang menentukan.
7. Perspektif Patristik terhadap Karya Roh Kudus dalam Kanon
Bapa-Bapa Gereja seperti Athanasius, Irenaeus, dan Origen tidak pernah mengklaim bahwa kanon ditentukan melalui mayoritas suara. Mereka menegaskan kesaksian Roh Kudus dalam Gereja yang mengenali suara Firman. Irenaeus menulis bahwa empat Injil diterima bukan karena voting, melainkan karena “mereka yang menyaksikan dan diwariskan oleh para rasul.” Augustinus menegaskan bahwa Gereja mengakui Firman Allah di bawah terang Roh Kudus, tetapi bukan menciptakannya. Dengan demikian, karya Roh Kudus dalam sejarah bukanlah bentuk “turun dari surga” maupun “hasil voting,” melainkan tindakan providensial yang menjaga dan meneguhkan kesatuan iman dalam sejarah yang kompleks.
8. Kritik Balik terhadap Penulis Pernyataan
Penulis menunjukkan sikap apologetik yang bercampur antara kepercayaan pada karya Roh Kudus dan ketidakpahaman terhadap distingsi teologis antara inspirasi dan kanonisasi. Ia benar bahwa Roh Kudus hadir dalam sejarah Gereja; namun salah ketika mengidentikkan diskusi teologis dengan tindakan langsung Roh Kudus tanpa membedakan aspek normatif dan historis. Pernyataan “Alkitab tidak turun dari surga dalam bentuk buku” adalah benar secara literal, tetapi tidak relevan terhadap bantahan terhadap voting, karena teologi klasik pun tidak pernah mengajarkan demikian. Kekeliruannya adalah menyerang karikatur yang tidak dipegang oleh lawan argumennya.
9. Konklusi Teologis dan Kanonik
Kanon Alkitab adalah hasil pengenalan Gereja yang dipimpin Roh Kudus terhadap Firman Allah yang telah diilhamkan. Konsili-konsili Gereja hanyalah sarana formal pengakuan kolektif atas wahyu yang sudah ada, bukan penciptaan wahyu. Meyakini hal ini tidak berarti menolak karya Roh Kudus, tetapi justru menempatkan-Nya pada posisi yang benar: sebagai penuntun ilahi, bukan agen voting. Pewahyuan adalah tindakan Allah Bapa melalui Firman dalam Roh Kudus; kanon adalah pengakuan Gereja terhadap karya itu dalam sejarah; dan iman adalah tanggapan umat terhadap kesaksian Roh dalam Firman.
Dengan demikian, posisi Tritunggal klasik menegaskan bahwa Roh Kudus bukan sekadar saksi dalam ruang sidang konsili, tetapi pribadi ilahi yang menuntun seluruh sejarah Gereja untuk mengenali dan mengafirmasi Firman yang telah diwahyukan dari kekekalan oleh Allah sendiri.