Bangga Menjadi Katolik

Sangat sering orang berdebat

dengan perbedaan kata antara Kristen, Nasrani, dan Katolik.

Seolah-olah iman bisa dipatahkan hanya karena istilah yang berbeda. Seolah-olah keselamatan ditentukan

oleh kata apa yang kita pakai, bukan oleh siapa yang kita imani.

Padahal, jika kita mau berhenti sejenak dan sungguh belajar dari sumber yang benar, kita akan menemukan bahwa perdebatan itu sering kali lahir bukan dari iman yang salah, melainkan dari sejarah yang tidak dipahami.

Kata Kristen, misalnya, bukan istilah buatan zaman modern. Dalam Kisah Para Rasul 11:26, Alkitab mencatat bahwa di Antiokhia murid-murid Yesus

untuk pertama kalinya disebut Kristen— artinya pengikut Kristus.

Gereja Katolik menegaskan hal ini dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1289): orang yang dibaptis disebut Kristen karena ia menjadi anggota Kristus sendiri.

Lalu dari mana datangnya istilah Nasrani?

Nasrani berasal dari sebutan Yesus orang Nazaret—

sebuah istilah yang sangat Alkitabiah (Matius 2:23; Yohanes 19:19).

Dalam sejarah Gereja awal, umat Kristen di wilayah Timur Tengah sering disebut Nazaraei atau Nasrani.

Bahkan Santo Hieronimus, Bapa Gereja abad ke-4,

mencatat bahwa sebutan ini digunakan bagi para pengikut Yesus sebagai identitas, bukan sebagai ejekan.

Artinya sederhana:

Kristen dan Nasrani menunjuk pada orang yang sama—

pengikut Yesus Kristus. Perbedaannya bukan iman,

melainkan bahasa, budaya, dan konteks sejarah.

Lalu di mana posisi Katolik?

Katolik bukan lawan dari Kristen, melainkan bagian dari Kristen itu sendiri. Kata Katolik berarti universal,

menyatakan Gereja yang hidup dalam kesinambungan iman sejak para rasul.

Maka secara iman:

 • Setiap Katolik adalah Kristen

 • Setiap Kristen sejati mengimani Kristus

 • Nasrani adalah sebutan historis bagi pengikut Yesus dari Nazaret

Nama-nama ini tidak bertentangan, hanya menyorot sisi yang berbeda dari iman yang sama.

Dan di titik ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak

dan bertanya dengan jujur:

Apakah kita sedang sibuk mempertahankan istilah,

atau sedang berusaha meneladani Kristus?

Karena iman yang dewasa tidak takut pada perbedaan kata, selama hatinya tetap berakar pada kebenaran.

Bagaimana menurutmu?

Apakah kamu pernah mengalami kebingungan serupa,

lalu menemukan terang setelah memahami sejarah dan ajaran Gereja?

Aku percaya, dialog yang lahir dari kerendahan hati

akan selalu lebih subur daripada debat yang lahir dari ego.