Sikap Gereja Katolik tentang nama Yahweh

1. Tidak digunakan dalam liturgi resmi

Gereja Katolik tidak memperkenankan penyebutan nama “Yahweh” dalam:

– Misa

– Doa liturgi

– Lagu rohani resmi

– Pembacaan Kitab Suci dalam perayaan ibadat

Sebagai gantinya, digunakan sebutan:

– TUHAN

– Allah

– Tuhan Allah

2. Dasar utamanya: penghormatan

Ini bukan karena nama Yahweh salah, tetapi justru sangat kudus.

Gereja mengikuti tradisi Yahudi kuno yang:

Menghormati nama Allah

Menghindari pengucapan langsung nama pribadi-Nya dalam ibadat umum

👉 Prinsipnya: penghormatan lebih penting daripada ketepatan bunyi nama.

3. Dasar Kitab Suci & Tradisi

Dalam Alkitab Ibrani, saat YHWH muncul, umat membacanya sebagai “Adonai” (Tuhan).

Terjemahan Yunani (Septuaginta) dan Latin (Vulgata) juga tidak menuliskan Yahweh, tetapi:

Kyrios (Tuhan)

Dominus (Tuhan)

Gereja Katolik berdiri dalam rantai tradisi ini, bukan membuat aturan baru.

4. Penegasan resmi Vatikan

Pada tahun 2008, Vatikan secara eksplisit menegaskan:

Nama “Yahweh” tidak digunakan dalam nyanyian dan doa liturgi Gereja Katolik.

Alasannya:

Menghormati kekudusan nama Allah

Menjaga kesatuan dengan tradisi Yahudi

Menghindari kesan bahwa nama Allah adalah “mantra” atau formula khusus

5. Bagaimana dengan Kitab Suci Katolik?

Dalam terjemahan Alkitab Katolik (termasuk LAI):

YHWH → TUHAN (huruf besar)

Ini adalah pilihan teologis yang sadar, bukan kesalahan terjemahan.

Kesimpulan tegas Gereja Katolik :

Nama Yahweh benar dan kudus, tetapi tidak diucapkan dalam liturgi demi penghormatan.

Gereja memilih menyapa Allah sebagai TUHAN atau Bapa, mengikuti teladan Kitab Suci dan Yesus sendiri.