DOGMA GEREJA KATOLIK DAPAT BERUBAH SEIRING WAKTU ATAU TETAP ABSOLUT?

Di tengah derasnya arus informasi di YouTube, TikTok, Facebook, dan berbagai media sosial lainnya, kita sering menjumpai pertanyaan yang terdengar sederhana namun sesungguhnya sangat mendasar: Apakah dogma Gereja Katolik bisa berubah? Ataukah ia tetap absolut dan tidak pernah berubah? Pertanyaan ini kerap disampaikan dengan nada kritis, bahkan kadang menyerang, seolah-olah Gereja adalah institusi yang kaku dan menolak perkembangan zaman.

Maka hari ini, mari kita menjawabnya dengan tenang, jernih, dan penuh keyakinan iman.

Pertama-tama, kita perlu memahami apa itu dogma. Dalam Gereja Katolik, dogma adalah kebenaran iman yang diwahyukan oleh Allah dan secara resmi ditetapkan oleh Gereja sebagai sesuatu yang wajib diimani oleh umat beriman. Dogma bukan hasil opini manusia, bukan produk rapat biasa, bukan pula keputusan mayoritas suara. Dogma bersumber dari Wahyu Ilahi, dari Allah sendiri, yang disampaikan melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci, dan dijaga oleh Magisterium Gereja.

Karena berasal dari Allah yang tidak berubah, maka isi kebenaran dogma itu sendiri tidak berubah. Allah adalah “Yang Ada”, seperti dinyatakan dalam Kitab Keluaran. Ia tidak mengalami evolusi, tidak belajar dari kesalahan, tidak menyesuaikan diri dengan tren. Jika Allah adalah Kebenaran yang kekal, maka kebenaran yang Ia wahyukan pun bersifat tetap.

Namun di sinilah sering muncul kebingungan. Banyak orang mencampuradukkan antara perubahan isi kebenaran dengan perkembangan pemahaman terhadap kebenaran. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa dogma bisa diubah. Tetapi Gereja mengakui adanya perkembangan dalam cara memahami, menjelaskan, dan merumuskan dogma tersebut.

Mari kita ambil contoh sederhana. Sejak zaman para rasul, Gereja percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Itu tidak pernah berubah. Namun rumusan teologis tentang bagaimana Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia dijelaskan secara lebih mendalam dalam Konsili Nicea dan Konsili Khalsedon. Apakah itu berarti iman berubah? Tidak. Yang berkembang adalah kedalaman pemahaman dan ketepatan bahasa teologisnya.

Ibarat benih yang tumbuh menjadi pohon besar. Hakikatnya tetap sama, benih mangga akan menjadi pohon mangga, bukan pohon apel. Tetapi bentuknya berkembang, makin jelas, makin matang. Demikian pula dogma: substansinya tetap, tetapi pengungkapannya bisa berkembang agar semakin jelas menghadapi tantangan zaman.

Di media sosial, sering kita mendengar tuduhan seperti, “Gereja dulu begini, sekarang begitu. Berarti berubah, dong!” Tuduhan ini biasanya muncul karena kurang memahami perbedaan antara dogma, ajaran moral, disiplin gerejawi, dan praktik pastoral.

Contohnya, aturan tentang pantang dan puasa bisa berbeda sesuai konteks budaya dan waktu. Aturan selibat imam dalam Gereja Latin adalah disiplin, bukan dogma. Tata cara liturgi bisa mengalami penyesuaian. Namun iman bahwa Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Kristus? Itu tidak pernah berubah. Iman akan Tritunggal Mahakudus? Tidak berubah. Iman akan kebangkitan Kristus? Tetap sama sejak abad pertama hingga hari ini.

Jadi ketika seseorang mengatakan, “Gereja berubah-ubah,” kita perlu bertanya: yang berubah itu apa? Jika yang dimaksud adalah disiplin dan pendekatan pastoral, itu memang bisa berkembang. Tetapi jika yang dimaksud adalah inti iman yang diwahyukan Allah, maka Gereja justru berdiri teguh menjaganya.

Mengapa Gereja tidak bisa mengubah dogma? Karena Gereja bukan pemilik Wahyu, melainkan penjaganya. Gereja tidak menciptakan kebenaran; Gereja menerima dan memeliharanya. Santo Paulus berkata kepada Timotius untuk “menjaga harta yang indah” yang dipercayakan kepadanya. Itu adalah gambaran peran Gereja sepanjang zaman: menjaga, bukan mengedit.

Kadang ada yang berkata, “Kalau Gereja tidak berubah, berarti tidak relevan.” Ini pandangan yang keliru. Justru karena kebenaran itu tetap, Gereja bisa menjadi kompas di tengah dunia yang berubah-ubah. Jika kompas ikut berputar mengikuti arah angin, maka ia kehilangan fungsinya. Dunia boleh berubah, budaya boleh bergeser, opini publik boleh berganti setiap lima menit, tetapi kebenaran ilahi tetap.

Dalam sejarah, kita melihat bagaimana Gereja menghadapi berbagai krisis: penganiayaan Romawi, ajaran sesat Arianisme, Reformasi Protestan, modernisme, sekularisme, hingga relativisme zaman digital sekarang. Di setiap era, tantangannya berbeda. Namun inti iman tetap sama. Gereja mungkin menggunakan bahasa yang lebih kontekstual, pendekatan yang lebih dialogis, atau sarana komunikasi yang lebih modern, bahkan kini melalui YouTube, TikTok dan Facebook, tetapi isi imannya tidak berubah.

Di sinilah pentingnya memahami konsep perkembangan doktrin sebagaimana dijelaskan oleh Kardinal John Henry Newman. Ia menegaskan bahwa perkembangan sejati bukanlah perubahan substansi, melainkan pendalaman organik. Seperti seorang anak yang tumbuh menjadi dewasa. Ia tetap orang yang sama, tetapi kapasitas pengertiannya berkembang.

Demikian pula Gereja, yang dipimpin oleh Roh Kudus. Yesus sendiri berjanji bahwa Roh Kebenaran akan menuntun para murid ke dalam seluruh kebenaran. Janji ini bukan berarti muncul wahyu baru setelah para rasul, melainkan Roh Kudus menuntun Gereja untuk semakin memahami Wahyu yang sudah diberikan secara definitif dalam Kristus.

Maka, ketika kita ditantang di media sosial dengan pertanyaan-pertanyaan provokatif seperti, “Mengapa Gereja tidak mengikuti perkembangan zaman saja?” kita dapat menjawab dengan tenang: Gereja memang berjalan dalam sejarah, tetapi ia berakar dalam kekekalan.

Yesus Kristus adalah “tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Jika Kristus tetap, maka kebenaran tentang Dia pun tetap. Gereja yang adalah Tubuh-Nya tidak bisa mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan Dia.

Di zaman digital ini, sering kali opini lebih cepat viral daripada kebenaran. Potongan video 30 detik bisa menimbulkan kesalahpahaman besar. Pernyataan Paus yang diambil di luar konteks bisa dianggap sebagai perubahan ajaran. Padahal jika kita membaca secara utuh, kita akan melihat kesinambungan, bukan pertentangan.

Karena itu, sebagai umat Katolik, kita dipanggil bukan hanya untuk percaya, tetapi juga untuk memahami iman kita. Iman yang dipahami akan menjadi iman yang kokoh. Jangan hanya mengandalkan potongan klip; dalamilah Katekismus Gereja Katolik, bacalah dokumen Gereja, dengarkan penjelasan yang utuh.

Apakah dogma Gereja bisa berubah? Jawabannya jelas: tidak dalam substansinya. Kebenaran yang diwahyukan Allah bersifat tetap dan absolut. Namun pemahaman, perumusan, dan penjelasan terhadap kebenaran itu dapat berkembang agar semakin terang dan relevan dalam setiap zaman.

Di tengah gempuran relativisme yang mengatakan bahwa tidak ada kebenaran mutlak, Gereja berdiri sebagai saksi bahwa kebenaran itu ada, dan kebenaran itu adalah Pribadi: Yesus Kristus. Dunia mungkin berkata, “Semua kebenaran relatif.” Tetapi Kristus berkata, “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup.”

Jika kita berdiri di atas Kristus, kita berdiri di atas Batu Karang yang tidak tergoncangkan oleh gelombang zaman. Media sosial boleh riuh, debat boleh memanas, tetapi hati kita tetap damai karena kita tahu bahwa iman kita berakar pada Allah yang setia.

Maka jangan takut ketika iman Katolik ditantang. Tantangan bukanlah ancaman, melainkan kesempatan untuk semakin memahami dan mencintai iman kita. Justru dalam badai pertanyaan, akar iman kita diuji dan diteguhkan.

Gereja bukan museum yang menyimpan barang kuno, tetapi juga bukan pasar yang mengikuti selera pelanggan. Gereja adalah ibu dan guru. Sebagai ibu, ia mengasihi dan mendampingi. Sebagai guru, ia mengajarkan kebenaran yang menyelamatkan, bukan kebenaran yang populer, tetapi kebenaran yang sejati.

Akhirnya, marilah kita memandang kepada Kristus, Sang Kebenaran yang Hidup. Jika kita tinggal di dalam Dia, kita tidak perlu takut pada perubahan zaman. Dogma Gereja tidak berubah karena Allah tidak berubah. Dan justru dalam keteguhan itulah kita menemukan kepastian, arah, dan harapan.

Kiranya Roh Kudus meneguhkan iman kita, memberi kita keberanian untuk bersaksi dengan lembut namun tegas, dan menjadikan kita saksi kebenaran di tengah dunia digital yang haus akan terang.

Tuhan memberkati dan meneguhkan iman kita semua.

Shalom 🙏💙