PENGAKUAN DOSA – MENGAKU DOSA KOK PADA MANUSIA

Dalam tradisi iman Katolik, dosa dipahami dengan cara yang sangat mendalam, bukan sekadar melanggar peraturan, melainkan sebagai rusaknya hubungan kasih antara kita dengan Tuhan dan sesama. Bayangkan dosa seperti sebuah luka yang membuat jiwa kita kehilangan daya hidup atau rahmat Allah. Kita perlu mencari pengampunan karena sebagai manusia, kita tidak bisa menyembuhkan diri kita sendiri dari dosa.

Kita membutuhkan pemulihan agar bisa bersatu kembali dengan Allah. Sebenarnya, siapa yang bisa mengampuni dosa? Gereja Katolik sangat setuju dengan apa yang dikatakan orang-orang Farisi dalam Markus 2:7, bahwa “Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” Namun, pertanyaannya adalah bagaimana Allah menyampaikan pengampunan itu kepada kita? Di sinilah peran imam muncul.

Imam bisa menerimakan pengakuan dosa bukan karena mereka lebih suci atau memiliki kekuatan gaib, melainkan karena mereka diberi mandat oleh Yesus sendiri. Dasar utamanya ada dalam Yohanes 20:22-23, di mana Yesus yang telah bangkit mendatangi para murid-Nya, mengembusi mereka dengan Roh Kudus, dan berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Inilah “surat tugas” dari Tuhan yang menjadi dasar bagi para imam untuk bertindak atas nama-Nya. Selain itu, dalam 2 Korintus 5:18, Santo Paulus menjelaskan bahwa Allah telah mendamaikan kita dengan diri-Nya melalui Kristus dan mempercayakan “pelayanan pendamaian” itu kepada para rasul dan pengganti mereka.

Namun, banyak saudara dari Protestantisme menolak praktik ini. Mereka biasanya berpegang pada 1 Timotius 2:5 yang mengatakan bahwa hanya ada satu perantara antara Allah dan manusia, yaitu Kristus Yesus. Bagi mereka, mengaku dosa kepada imam dianggap seperti menambah “perantara manusia” yang tidak perlu, karena mereka percaya setiap orang bisa langsung “lapor” kepada Tuhan.

Bagi iman Katolik, jika kita mengatakan tidak butuh imam karena sudah ada Yesus, lalu mengapa Yesus sendiri justru memberikan kuasa mengampuni dosa itu kepada manusia (para rasul) dalam Injil Yohanes tadi? Katolik melihat bahwa Allah senang bekerja melalui manusia. Sama seperti Tuhan menggunakan air untuk membaptis dan roti untuk Ekaristi, Ia menggunakan suara imam untuk menyampaikan pengampunan-Nya.

Perbedaan besar antara pengakuan dosa Protestan dan Katolik terletak pada kepastiannya. Dalam tradisi Protestan, mengaku dosa kepada sesama (seperti anjuran dalam Yakobus 5:16) lebih bersifat sebagai dukungan moral atau konseling agar hati merasa lega. Namun dalam Katolik, pengakuan itu bersifat sakramental. Artinya, ada kuasa Tuhan yang bekerja secara nyata. Ketika imam mengucapkan doa absolusi, saat itu juga dosa-dosa kita dihapus secara objektif di hadapan Tuhan, bukan sekadar perasaan subjektif bahwa kita sudah diampuni.

Bagi iman Katolik  pandangan “langsung ke Tuhan” memunculkan bahaya adanya risiko kita menjadi hakim atas diri sendiri, kita bisa saja merasa sudah diampuni padahal kita hanya sedang memaklumi kesalahan kita sendiri, atau sebaliknya, kita terus merasa berdosa padahal Tuhan sudah mengampuni.

Lalu, mengapa kita harus mengaku dosa secara lisan kepada imam? Mengapa tidak dalam hati saja? Karena manusia adalah makhluk yang nyata, punya telinga untuk mendengar dan mulut untuk berbicara. Mengatakan dosa kita dengan suara keras di depan imam menuntut kerendahan hati yang jujur. Dalam Yakobus 5:16 dikatakan, “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu… supaya kamu sembuh.” Mengaku dosa secara lisan membantu kita “sembuh” dari kesombongan.

Selain itu, dosa kita tidak pernah hanya urusan pribadi; dosa kita melukai Gereja sebagai komunitas iman. Karena imam adalah wakil dari Gereja sekaligus wakil Tuhan, maka mengaku kepada imam berarti kita berdamai dengan Tuhan sekaligus berdamai dengan seluruh umat beriman. Dengan demikian, pengakuan dosa bukan tentang “curhat” pada manusia, melainkan perjumpaan nyata dengan Kristus yang hadir melalui perantaraan manusia yang Ia pilih sendiri.

AMDG