BEBERAPA PEDOMAN PERAYAAN IMLEK

Sejalan dengan Joseph Ratzinger-Paus Benediktus XVI, liturgi Gereja menuntut pertobatan batin manusia dan peralihan eksistensial menuju Allah, bukan sekadar penyesuaian bentuk lahiriah. Dengan demikian, budaya, termasuk perayaan Imlek, dapat dirayakan sebagai ungkapan syukur manusiawi, tetapi sekaligus dimurnikan oleh panggilan tobat yang ditegaskan dalam liturgi Rabu Abu, beberapa saran dapat disampaikan:

1. Merayakan Imlek secara wajar dan penuh syukur.  Imlek pada 17 Februari 2026 dapat dirayakan dengan semangat kekeluargaan, sukacita, dan syukur, tanpa berlebihan. Sukacita ini bukan euforia kosong, melainkan ungkapan terima kasih atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun yang lalu.

2. Mempersiapkan diri memasuki Masa Prapaskah.  Setelah perayaan Imlek, umat diajak untuk menata hati agar siap memasuki suasana tobat Rabu Abu. Peralihan ini membantu umat menyadari bahwa sukacita sejati tidak berhenti pada perayaan lahiriah, tetapi berlanjut dalam pembaruan hidup.

3. Menjaga keseimbangan antara budaya dan iman. Orang Katolik dipanggil untuk menjadi pribadi yang berakar dalam iman sekaligus terbuka terhadap budaya. Sebagaimana diingatkan Paus Fransiskus, Injil tidak menghapus budaya, melainkan memurnikan dan mengangkatnya.

4. Membaca Imlek dalam terang iman Kristiani. Tema pembaruan dan harapan dalam Imlek dapat dimaknai lebih dalam sebagai ajakan untuk memperbarui diri, sejalan dengan semangat Prapaskah: meninggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru dalam Kristus.

 Tanda Harapan, Persaudaraan, dan Kasih

Dalam konteks Indonesia, perjumpaan Imlek dan Rabu Abu menjadi ajakan konkret untuk menghayati iman secara membumi. Rabu Abu tidak berhenti pada tanda abu di dahi atau kewajiban puasa dan pantang, melainkan mengarah pada pertobatan yang nyata dalam hidup sehari-hari.

Puasa dan pantang di Indonesia menemukan maknanya ketika dihubungkan dengan keprihatinan sosial: pengendalian diri di tengah budaya konsumtif, kepekaan terhadap kemiskinan, serta solidaritas dengan mereka yang hidup dalam kekurangan.

Sesudah merayakan Imlek dengan sukacita keluarga dan rasa syukur atas berkat kehidupan, umat Katolik diajak memasuki Masa Prapaskah dengan sikap batin yang lebih jernih: hidup lebih sederhana, berbagi dengan yang membutuhkan, serta membangun relasi yang adil dan penuh hormat di tengah masyarakat yang majemuk.

Dengan demikian, Rabu Abu menjadi bukan hanya awal masa tobat pribadi, tetapi juga panggilan sosial bagi Gereja di Indonesia untuk hadir sebagai tanda harapan, persaudaraan, dan kasih.

Dari Imlek menuju Rabu Abu, umat Katolik diajak melangkah dari syukur menuju pertobatan, dari perayaan menuju kepedulian, dari iman yang dirayakan menuju iman yang dihidupi dalam tindakan nyata.

Oleh:

 Pastor Jacobus Tarigan, Dosen Liturgika di STF Driyarkara, Jakarta