APAKAH RITUS PENGURAPAN ORANG SAKIT BISA MENGGANTIKAN IMAN SESEORANG KEPADA ALLAH UNTUK KESEMBUHAN?

Di zaman media sosial yang begitu cepat dan sering kali dangkal dalam menilai iman, kita kerap menemukan tudingan yang terdengar tajam: “Mengapa orang Katolik masih melakukan ritus pengurapan orang sakit? Bukankah yang penting itu iman? Apakah ritus bisa menggantikan iman?” Bahkan ada yang menuduh bahwa Gereja terlalu mengandalkan ritual, seolah-olah minyak suci lebih penting daripada kepercayaan pribadi kepada Tuhan.

Hari ini kita menjawab dengan tenang, jernih, dan penuh kasih. Ritus pengurapan orang sakit tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan iman. Justru ritus itu adalah ungkapan iman Gereja dan sarana rahmat Allah yang menguatkan iman orang yang sakit.

Mari kita masuk lebih dalam.

Pertama-tama, kita harus memahami bahwa dalam iman Katolik, sakramen bukanlah sihir. Sakramen bukan benda ajaib yang otomatis menyembuhkan tanpa iman. Sakramen adalah tanda kelihatan yang menghadirkan rahmat Allah yang tak kelihatan. Allah yang bekerja. Allah yang menyembuhkan. Allah yang menguatkan. Minyak hanyalah tanda; doa Gereja adalah permohonan; tetapi kuasa tetap milik Tuhan.

Dalam Kitab Suci, khususnya Yakobus 5:14-15, kita membaca: “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu…” Perhatikan baik-baik: bukan hanya minyak, tetapi doa yang lahir dari iman. Jadi sejak awal Gereja, pengurapan selalu berkaitan dengan iman, bukan menggantikannya.

Iman adalah fondasi. Sakramen adalah sarana.

Bayangkan seseorang berkata, “Saya percaya Tuhan bisa menyembuhkan, jadi saya tidak perlu didoakan.” Bukankah itu aneh? Tuhan sendiri menghendaki agar kita saling mendoakan. Bahkan Yesus sering menyembuhkan melalui tanda-tanda lahiriah: Ia menyentuh orang kusta, Ia meludahi tanah dan mengoleskannya ke mata orang buta, Ia memegang tangan ibu mertua Petrus. Apakah sentuhan itu menggantikan iman? Tidak. Sentuhan itu menjadi jembatan rahmat yang mempertemukan iman manusia dengan kuasa ilahi.

Begitu pula pengurapan orang sakit.

Di media sosial sering muncul narasi bahwa iman harus “langsung” tanpa perantara. Tetapi apakah sungguh demikian menurut Alkitab? Bukankah Allah sendiri memilih cara-cara konkret untuk menyatakan kasih-Nya? Inkarnasi adalah bukti terbesar. Sabda menjadi daging. Allah yang tak terlihat menjadi terlihat. Jika Allah tidak anti terhadap tanda lahiriah, mengapa kita harus alergi terhadap sakramen?

Pengurapan orang sakit bukanlah pengganti iman, melainkan penguat iman di saat iman itu paling rapuh. Ketika seseorang sakit berat, ketika tubuh lemah dan pikiran diliputi ketakutan, sering kali iman pun goyah. Di saat itulah Gereja hadir, bukan dengan penghakiman, bukan dengan ceramah panjang, tetapi dengan minyak yang diberkati dan doa penuh kasih.

Sakramen ini memiliki beberapa rahmat yang sangat indah.

Pertama, rahmat penghiburan dan penguatan rohani. Tidak semua kesembuhan adalah kesembuhan fisik. Ada luka batin yang lebih dalam daripada luka tubuh. Pengurapan membawa damai. Banyak kesaksian orang yang setelah diurapi merasakan ketenangan luar biasa, meskipun penyakitnya belum hilang.

Kedua, pengampunan dosa bila orang tersebut tidak sempat mengaku dosa. Ini menunjukkan bahwa sakramen ini sangat erat kaitannya dengan keselamatan jiwa. Gereja tidak hanya peduli pada tubuh, tetapi pada keselamatan kekal.

Ketiga, bila Tuhan menghendaki, sakramen ini juga dapat membawa kesembuhan fisik. Namun Gereja tidak pernah menjanjikan mukjizat otomatis. Kesembuhan fisik tetap berada dalam misteri kehendak Allah.

Di sinilah kita perlu berhati-hati terhadap mentalitas “instan” yang sering dipromosikan di platform seperti TikTok, YouTube dan Facebook, di mana iman kadang direduksi menjadi formula cepat: doa tertentu, ayat tertentu, lalu pasti sembuh. Iman Katolik tidak dangkal seperti itu. Kita percaya bahwa Allah berdaulat. Kadang Ia menyembuhkan seketika. Kadang Ia memberi kekuatan untuk memikul salib.

Yesus sendiri di Getsemani berdoa, “Ya Bapa, jika mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku. Tetapi janganlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu.” Itu adalah iman sejati: iman yang percaya, tetapi juga berserah.

Pengurapan orang sakit membantu orang masuk ke dalam sikap Yesus itu. Ia menyatukan penderitaan orang sakit dengan penderitaan Kristus. Penderitaan tidak lagi menjadi kutukan, tetapi menjadi partisipasi dalam karya penebusan.

Kita juga perlu meluruskan kesalahpahaman bahwa pengurapan hanya untuk orang yang hampir mati. Itu adalah pandangan lama yang kurang lengkap. Gereja mengajarkan bahwa sakramen ini diberikan kepada siapa saja yang mengalami sakit serius atau kelemahan berat karena usia. Ini adalah sakramen pengharapan, bukan sekadar “ritus terakhir”.

Ketika seorang imam datang membawa minyak suci, itu bukan simbol kekalahan, melainkan tanda bahwa Kristus sendiri datang menjenguk. Gereja hadir sebagai ibu yang tidak meninggalkan anaknya di saat paling sulit.

Sekarang mari kita jawab secara langsung pertanyaan awal: apakah ritus bisa menggantikan iman?

Jawabannya tegas: tidak. Bahkan tanpa iman, sakramen tidak menghasilkan buah yang penuh. Gereja mengajarkan bahwa disposisi batin sangat penting. Sakramen bekerja ex opere operato, karena kuasa Kristus yang bertindak, namun buahnya dalam diri seseorang sangat dipengaruhi oleh keterbukaan iman.

Jadi justru iman dan sakramen tidak bisa dipisahkan. Iman tanpa sakramen bisa menjadi abstrak dan individualistis. Sakramen tanpa iman bisa menjadi kosong. Tetapi ketika keduanya bersatu, di situlah rahmat mengalir dengan indah.

Di tengah maraknya konten yang menyerang Gereja, kita tidak perlu defensif atau marah. Kita perlu memahami iman kita lebih dalam. Kita perlu menjelaskan dengan kasih, bukan dengan kebencian. Kita perlu menunjukkan bahwa Gereja Katolik bukan agama ritual kosong, melainkan persekutuan yang hidup, yang percaya bahwa Allah bekerja melalui tanda-tanda yang sederhana.

Iman Katolik tidak pernah menempatkan ritus di atas Tuhan. Ritus selalu mengarah kepada Tuhan. Sakramen selalu menunjuk kepada Kristus. Dan pengurapan orang sakit adalah salah satu bentuk kasih Kristus yang paling lembut.

Di dunia digital yang penuh debat, mari kita menjadi saksi yang tenang. Ketika ada yang berkata, “Kalian terlalu ritual,” kita bisa menjawab, “Kami percaya Allah bekerja melalui tanda-tanda kasih.” Ketika ada yang berkata, “Yang penting iman saja,” kita bisa menjawab, “Benar, iman itu penting. Dan karena iman itulah kami menerima sakramen sebagai anugerah.”

Iman bukanlah pengganti sakramen. Sakramen bukan pengganti iman. Keduanya berjalan bersama, seperti tubuh dan jiwa.

Akhirnya, mari kita merenungkan ini: saat kita atau orang yang kita kasihi jatuh sakit, jangan melihat pengurapan sebagai formalitas. Lihatlah itu sebagai kunjungan Kristus. Lihatlah itu sebagai pelukan Gereja. Lihatlah itu sebagai pengingat bahwa dalam penderitaan pun, kita tidak sendirian.

Dan jika suatu hari kita sendiri berada di ranjang sakit, semoga kita tidak takut menerima sakramen ini. Sebab di dalamnya, iman kita diteguhkan, hati kita diteguhkan, dan jiwa kita disiapkan untuk apa pun yang Tuhan kehendaki: kesembuhan atau perjumpaan kekal dengan-Nya.

Jadi sekali lagi, dengan mantap dan penuh keyakinan kita berkata: Pengurapan orang sakit tidak menggantikan iman. Ia adalah perpanjangan tangan iman. Ia adalah rahmat yang mengalir dari salib Kristus kepada mereka yang lemah.

Semoga penjelasan ini bukan hanya menjawab perdebatan, tetapi juga menguatkan hati kita semua. Tetaplah teguh dalam iman Katolik. Jangan goyah oleh potongan video pendek yang tidak utuh. Dalami iman kita. Cintai Gereja kita. Dan percayalah: Kristus tetap bekerja: melalui sabda, melalui doa, melalui sakramen, dan melalui iman yang hidup.

Shalom 🙏💙