TAHTA ROMA BUKAN TANPA NODA DOSA-  TETAPI IA AKAN TERUS BERTAHAN

Sejarah Gereja Katolik itu panjang, agung, dan di beberapa titik, a absolute mess.

​Jika kita melihat sejarah Papacy (Kepausan), kita tidak hanya menemukan orang-orang kudus seperti John Paul II atau Gregory the Great. Kita juga bertemu dengan karakter-karakter yang membuat skenario Game of Thrones terlihat seperti acara anak-anak.

Kita punya Paus Alexander VI (Borgia) yang lebih sibuk mengurus anak-anak haramnya daripada mengurus umat, atau Paus Benedict IX yang saking kacaunya sampai “menjual” tahta kepausan. ​Pertanyaan menohoknya adalah: Why on earth do we keep this institution? Mengapa kita masih mencium Cincin Nelayan (Ring of the Fisherman) jika tangan yang memakainya pernah berlumuran darah atau skandal? ​Jawabannya terletak pada sebuah ironi Ilahi: The distinction between the Office and the Person.

​Dalam teologi Katolik, kita membedakan secara tegas antara Sedis (The Seat/Tahta) dan Sedens (The Sitter/Orang yang duduk). Yesus tidak mendirikan Gereja di atas pundak malaikat yang flawless. Dia mendirikannya di atas Petrus. Ingat siapa Petrus? Si “Batu Karang” yang, ironisnya, memiliki mental kerupuk saat Yesus ditangkap. Petrus menyangkal Tuannya tiga kali bahkan sebelum ayam berkokok.

​Tu es Petrus, et super hanc petram aedificabo ecclesiam meam (Matius 16:18). ​Yesus tahu persis Petrus itu plin-plan, emosional, dan penakut. Namun, Kunci Kerajaan Surga (Claves Regni Caelorum) tetap diserahkan kepadanya. Ini adalah Divine Humor yang paling ultimate. Tuhan seolah berkata: “Aku akan memakai manusia yang paling rapuh ini untuk memimpin institusi yang paling kuat, supaya dunia tahu bahwa kekuatan Gereja berasal dari-Ku, bukan dari kehebatan manajerial manusia.”​Ini membawa kita pada konsep Indefectibility of the Church.

​Ada sebuah anekdot terkenal dari abad pertengahan tentang seorang Yahudi yang pergi ke Roma dan melihat korupsi gila-gilaan di istana kepausan. Teman Katoliknya panik, berpikir si Yahudi akan kehilangan respek pada agama Katolik. Namun, si Yahudi pulang dan malah minta dibaptis. Alasannya? “Agama ini pasti berasal dari Tuhan. Kalau organisasi ini dijalankan oleh manusia sebodoh dan sejahat itu tapi masih bertahan selama 2.000 tahun lebih sampai hari ini dan tidak hancur, pastilah Roh Kudus yang menopangnya.”

​Exactly. ​Kita harus memahami perbedaan vital antara Infallibility (ketidaksesatan) dan Impeccability (ketidakberdosaan). ​Doktrin Papal Infallibility (didefinisikan saat Konsili Vatikan I) hanya berlaku ketika Paus berbicara Ex Cathedra (dari kursi pengajaran) mengenai iman dan moral. Itu tidak berarti Paus tidak bisa berdosa. Paus bisa saja menjadi bajingan dalam kehidupan pribadinya (dan sejarah membuktikan itu pernah terjadi), tetapi Roh Kudus menjamin bahwa bajingan tersebut tidak akan bisa secara resmi mengajarkan ajaran sesat (heresy) sebagai dogma yang mengikat seluruh Gereja.

​Tuhan menjaga The Office, bukan memanjakan The Person. ​Jika validitas Kepausan bergantung pada kesucian pribadi si pejabat, kita akan jatuh ke dalam bidah Donatisme kuno. Bayangkan betapa mengerikannya jika Misa Kudus tidak sah hanya karena Paus atau Imamnya sedang bad mood atau berdosa berat. Kita tidak akan pernah punya kepastian keselamatan! Sakramen bekerja Ex Opere Operato (berdasarkan tindakan yang dilakukan), bukan berdasarkan kesucian pelaksananya.

​Kepausan adalah simbol dari Visible Unity. Tanpa seorang “wasit” terakhir di bumi (Vicar of Christ), Kekristenan akan terpecah menjadi ribuan denominasi yang menafsirkan Alkitab semau gue—oh tunggu, itu sudah terjadi di luar sana, kan?  ​Kita membutuhkan Pontifex Maximus (Jembatan Terbesar). Bukan karena orangnya super hebat, tapi karena jabatannya adalah titik referensi yang ditetapkan Kristus untuk menjaga agar kita tidak tersesat dalam subjektivitas massal.

​Jadi, ketika kita melihat seorang Paus yang mungkin mengecewakan, atau yang gaya kepemimpinannya membuat kita mengernyitkan dahi, ingatlah: Kita tidak menyembah Paus. Kita setia pada tahta Petrus karena Kristus yang menaruh tahta itu di sana.

​Kita bertahan dengan Kepausan bukan karena Paus itu malaikat, tetapi karena kita percaya pada janji Yesus: Portae inferi non praevalebunt (Pintu alam maut tidak akan menguasainya). Bahkan Paus yang paling buruk sekalipun tidak akan mampu menenggelamkan perahu Petrus, karena Nahkoda aslinya bukanlah manusia yang memakai jubah putih, melainkan Dia yang berjalan di atas air.​The Pope is just the Prime Minister; Jesus is still the King. Dan untungnya, Sang Raja tidak pernah salah pilih, bahkan ketika Dia memilih orang yang salah di mata kita.