Mengapa Umat Kristen Awal Tidak Memiliki Perjanjian Baru?

Seorang pemuda Kristen pernah bertanya kepada pemimpin kelompok studi Alkitabnya:
“Jika Alkitab adalah landasan Kekristenan, Alkitab mana yang dibaca oleh umat Kristen awal?”

Ruangan itu pun hening.

Lagipula, ketika Yesus naik ke Surga, Perjanjian Baru belum ada.
Lalu, bagaimana orang-orang Kristen mula-mula tahu apa yang harus mereka percayai?
Bagaimana mereka merayakan Ekaristi?
Bagaimana mereka membaptis, berkhotbah, dan membangun Gereja?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu memulai dengan sebuah kisah dari Alkitab.

Empat puluh hari setelah Kebangkitan-Nya, Yesus mengumpulkan para Rasul-Nya untuk terakhir kalinya sebelum naik ke Surga.
Dia tidak menyerahkan Perjanjian Baru kepada mereka.
Dia tidak menyuruh mereka untuk segera menulis sebuah kitab.
Sebaliknya, Ia memberi mereka sebuah misi.

Ia berkata:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku… ajarlah mereka menaati segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Matius 28:19-20)

Para Rasul menaati perintah-Nya.
Dipenuhi dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta, mereka berkhotbah dengan berani.
Ribuan orang percaya.
Mereka membaptis orang-orang yang baru percaya.
Mereka merayakan Ekaristi.
Mereka menunjuk para pemimpin untuk Gereja yang sedang berkembang.

Semua ini terjadi sebelum satu pun Injil selesai ditulis.

Kisah ini membantu kita memahami mengapa orang-orang Kristen mula-mula tidak memiliki Perjanjian Baru.

Pertama, Gereja Sudah Ada Sebelum Perjanjian Baru.
Yesus mendirikan Gereja-Nya sebelum satu pun kitab Perjanjian Baru ditulis.
Para Rasul memberitakan Injil secara lisan.
Orang-orang menjadi percaya dengan mendengarkan pengajaran mereka, bukan dengan membaca Perjanjian Baru yang lengkap.
Gereja sudah berkembang di seluruh Kekaisaran Romawi sebelum semua kitab Perjanjian Baru ditulis.

Kedua, Perjanjian Baru Ditulis Secara Bertahap.
Kitab-kitab Perjanjian Baru tidak ditulis sekaligus.
Surat-surat Santo Paulus ditulis terlebih dahulu, dimulai sekitar tahun 50 M.
Keempat Injil ditulis selama beberapa dekade berikutnya.
Kitab terakhir, Wahyu, ditulis menjelang akhir abad pertama.
Butuh waktu bertahun-tahun sebelum semua kitab ini dikumpulkan menjadi satu.

Ketiga, Umat Kristen Awal Mengandalkan Ajaran Para Rasul.
Kitab Kisah Para Rasul memberitahukan kepada kita bahwa orang-orang percaya pertama:
“Mereka tekun dalam ajaran para rasul dan dalam persekutuan, dalam pemecahan roti dan dalam doa.” (Kisah Para Rasul 2:42)
Perhatikan apa yang datang lebih dulu.
Ajaran para Rasul.
Iman itu diturunkan melalui pemberitaan, ibadah, dan kehidupan bersama sebelum sepenuhnya dituliskan.

Keempat, Tradisi Suci Ada Sebelum Perjanjian Baru.
Jauh sebelum Perjanjian Baru selesai, para Rasul dengan setia meneruskan segala sesuatu yang telah mereka terima dari Yesus.
Beberapa dari ajaran-ajaran itu kemudian dituliskan dalam Kitab Suci.
Yang lainnya terus diteruskan melalui kehidupan Gereja.
Inilah yang oleh umat Katolik disebut Tradisi Suci.
Santo Paulus sendiri menasihati umat Kristiani:
“Berdirilah teguh dan berpeganglah pada tradisi-tradisi yang telah diajarkan kepadamu, baik secara lisan maupun melalui surat-surat kami.” (2 Tesalonika 2:15)

Kelima, Perjanjian Baru Melengkapi, Bukan Menggantikan, Khotbah Para Rasul.
Ketika kitab-kitab yang diilhamkan akhirnya ditulis dan kemudian diakui oleh Gereja, kitab-kitab tersebut tidak menggantikan ajaran para Rasul.
Kitab-kitab itu justru melestarikannya.
Firman yang tertulis dan ajaran hidup para Rasul saling melengkapi karena keduanya berasal dari sumber ilahi yang sama.

Akhirnya, umat Kristen awal tidak memiliki Perjanjian Baru yang lengkap karena belum ditulis pada saat itu. Yesus mendirikan Gereja-Nya terlebih dahulu dan mempercayakan para Rasul-Nya untuk memberitakan Injil. Seiring pertumbuhan Gereja, Roh Kudus mengilhami penulisan Perjanjian Baru, yang dengan setia mencatat iman para Rasul yang sudah dijalani dan diproklamasikan. Inilah sebabnya mengapa umat Katolik menghargai baik Kitab Suci maupun Tradisi Suci.

Dengan kata lain, umat Kristen mula-mula mengikuti Yesus tanpa memiliki Perjanjian Baru yang lengkap.
Mereka belajar langsung dari para Rasul, merayakan sakramen-sakramen, dan menghidupi iman melalui Gereja yang didirikan Kristus.
Kemudian, Roh Kudus mengilhami penulisan Perjanjian Baru agar generasi-generasi mendatang dapat terus menerima Injil yang sama.

Sekarang Anda sudah mengetahuinya.

SUMBER

Kitab Suci (Terjemahan Katolik):
Matius 28:18-20, Kisah Para Rasul 2:1-42, Kisah Para Rasul 8:26-40, 1 Korintus 11:23-26, 2 Tesalonika 2:15, 2 Timotius 2:2, Yohanes 21:25

Katekismus Gereja Katolik §§74-100

Dei Verbum §§7-10

© Catholic Dailies