Menjawab Klaim: “Gereja Katolik Menambahkan 7 Kitab ke dalam Alkitab”
- PERSOALANNYA BUKAN SEKADAR 66 ATAU 73 KITAB
Salah satu tuduhan yang sering muncul dalam perdebatan Katolik–Protestan adalah:
«“Gereja Katolik menambahkan tujuh kitab ke dalam Alkitab.”»
Perbedaan jumlah memang nyata:
- Alkitab Katolik: 73 kitab
- Alkitab Protestan: 66 kitab
Tujuh kitab yang disebut Deuterokanonika adalah:
- Tobit
- Yudit
- Kebijaksanaan
- Sirakh
- Barukh
- 1 Makabe
- 2 Makabe
Ditambah bagian-bagian Deuterokanonika dalam Ester dan Daniel.
Namun secara historis, pertanyaan yang lebih tepat bukan:
«“Mengapa Gereja Katolik menambahkan tujuh kitab?”»
melainkan:
«“Bagaimana Gereja perdana menerima, menggunakan, dan mengenali kitab-kitab yang menjadi bagian dari Kitab Sucinya?”»
Pertanyaan tersebut membawa kita kepada persoalan yang jauh lebih mendasar: hubungan antara Kitab Suci, Tradisi Apostolik, Gereja dan otoritas.
- APA ITU KANON KITAB SUCI?
Kanon berarti ukuran atau patokan.
Dalam konteks Kitab Suci, kanon adalah kumpulan kitab yang diakui Gereja sebagai tulisan yang berotoritas dalam iman.
Karena itu perlu dibedakan antara:
penulisan kitab → penggunaan kitab → pembacaan liturgis → penerimaan sebagai tulisan berotoritas → penetapan kanon.
Proses tersebut berlangsung dalam sejarah dan tidak selesai dalam satu generasi.
- GEREJA SUDAH ADA SEBELUM PERJANJIAN BARU SELESAI
Yesus tidak memberikan kepada para rasul sebuah Alkitab yang sudah lengkap dalam bentuk 66 atau 73 kitab.
Kristus memanggil dan mengutus para rasul.
Para rasul kemudian:
- mewartakan Injil;
- membaptis;
- merayakan Ekaristi;
- mengajar;
- membentuk komunitas;
- dan menetapkan pemimpin Gereja.
Perjanjian Baru sendiri lahir di dalam kehidupan Gereja apostolik.
Maka urutan sejarahnya adalah:
Kristus → para rasul → Gereja apostolik → pewartaan dan Tradisi → tulisan Perjanjian Baru → pengenalan kanon.
Ini merupakan kunci untuk memahami seluruh persoalan.
- SEPTUAGINTA DAN KITAB-KITAB DEUTEROKANONIKA
Pada zaman Helenistik, banyak orang Yahudi menggunakan bahasa Yunani.
Terjemahan Kitab Suci Yahudi ke dalam bahasa Yunani dikenal sebagai Septuaginta (LXX).
Septuaginta kemudian menjadi sangat penting bagi Gereja perdana.
Banyak komunitas Kristen awal menggunakan Kitab Suci Yunani, dan para penulis Perjanjian Baru sering mengutip bentuk teks Yunani.
Kitab-kitab yang kemudian disebut Deuterokanonika telah beredar sebelum Konsili Trente.
Karena itu, menyatakan bahwa kitab-kitab tersebut “diciptakan Gereja Katolik pada abad ke-16” tidak sesuai dengan sejarah.
- JAMNIA/YAVNE BUKAN “KONSILI YANG MEMBUANG TUJUH KITAB”
Sering dikatakan bahwa orang Yahudi berkumpul di Jamnia dan secara resmi menghapus tujuh kitab.
Gambaran tersebut terlalu sederhana.
Penelitian modern berhati-hati dalam menyebut Yavne/Jamnia sebagai sebuah konsili formal yang menetapkan kanon Yahudi sekaligus “membuang” tujuh kitab.
Karena itu, tidak tepat menjadikan Jamnia sebagai bukti sederhana bahwa:
«“Orang Yahudi membuang tujuh kitab, lalu Katolik kemudian memasukkannya.”»
Sejarahnya jauh lebih kompleks.
- DEUTEROKANONIKA BUKAN CIPTAAN TRENTE
Konsili Trente pada 8 April 1546 memberikan penegasan dogmatis mengenai kanon Katolik dalam konteks Reformasi.
Tetapi Trente tidak menciptakan kitab-kitab tersebut.
Jauh sebelum Trente, kitab-kitab Deuterokanonika telah:
- dikenal;
- dibaca;
- dikutip;
- digunakan dalam tradisi Gereja;
- muncul dalam perdebatan para Bapa
Gereja; - dan tercantum dalam daftar kanon
tertentu.
Bahkan Konsili Florence pada 1442 telah mencantumkan kanon yang lebih luas.
Jadi:
«Trente mengukuhkan secara dogmatis; Trente bukan titik awal keberadaan Deuterokanonika.»
- 2 MAKABE DAN DOA BAGI ORANG MENINGGAL
2 Makabe 12:44–45 memberikan kesaksian mengenai tindakan mempersembahkan kurban bagi orang yang telah meninggal.
Teks tersebut menjadi salah satu dasar penting bagi pemahaman Gereja mengenai doa bagi orang yang telah meninggal.
Namun harus dibedakan antara:
kesaksian Kitab Suci
dan
rumusan doktrin Katolik yang berkembang kemudian.
Gereja tidak membangun seluruh doktrin purgatorium hanya dari satu ayat, tetapi membaca kesaksian tersebut bersama keseluruhan Kitab Suci dan Tradisi Apostolik.
- GEREJA PERDANA MEMILIKI TRADISI DAN SUKSESI
Gereja abad pertama dan kedua bukan komunitas tanpa struktur.
Kita menemukan:
- uskup;
- presbiter;
- diakon;
- baptisan;
- Ekaristi;
- liturgi;
- pewartaan;
- Tradisi;
- dan suksesi kepemimpinan.
Santo Ignatius dari Antiokhia dan Santo Irenaeus dari Lyon memberikan kesaksian penting mengenai struktur Gereja dan suksesi para pemimpin Gereja.
Ini menunjukkan bahwa iman Kristen sejak awal dipahami sebagai iman yang:
diterima → dijaga → dihidupi → diwariskan.
- MARCION DAN PERLUNYA MENENTUKAN KANON
Marcion pada abad kedua menolak sebagian besar Kitab Suci Israel dan membangun kumpulan tulisan yang berbeda.
Gereja menolak pandangannya.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa Gereja harus membedakan:
«tulisan mana yang sungguh-sungguh menjadi kesaksian iman apostolik?»
Maka pengenalan kanon tidak terlepas dari perjuangan Gereja mempertahankan iman yang diterimanya dari para rasul.
- ATHANASIUS, HIPPO DAN KARTAGO
Pada 367, Athanasius memberikan daftar 27 kitab Perjanjian Baru yang sama dengan kanon Perjanjian Baru yang diterima Katolik dan Protestan sekarang.
Di Barat, Hippo dan Kartago memberikan kesaksian penting mengenai kanon yang lebih luas.
Semua ini menunjukkan bahwa pengenalan kanon berlangsung melalui proses sejarah.
Bukan berarti Gereja “menciptakan Kitab Suci”, tetapi Gereja mengenali dan menegaskan kitab-kitab yang diterimanya sebagai bagian dari warisan iman.
- KATOLIK DAN ORTODOKS: DUA TRADISI APOSTOLIK KUNO
Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks sama-sama memiliki kesinambungan yang sangat kuat dengan Gereja apostolik kuno.
Keduanya mempertahankan:
- suksesi apostolik;
- episcopacy;
- imamat;
- diakonat;
- Ekaristi;
- baptisan;
- liturgi;
- Tradisi;
- para Bapa Gereja;
- dan warisan konsili-konsili Gereja
kuno.
Perbedaan mereka terutama menyangkut persoalan seperti:
- primasi Uskup Roma;
- yurisdiksi universal;
- perkembangan doktrin tertentu;
- dan beberapa persoalan kanon.
Karena itu, sejarah tidak mendukung penyederhanaan bahwa “hanya Katolik yang mempunyai akar apostolik.”
- REFORMASI PROTESTAN
Reformasi abad ke-16 membawa perbedaan mendasar mengenai:
Kitab Suci – Tradisi – Gereja – otoritas.
Mayoritas tradisi Protestan menerima:
39 kitab Perjanjian Lama + 27 kitab Perjanjian Baru = 66 kitab.
Namun Protestan tidak menciptakan seluruh Alkitab dari nol.
Mereka menerima 27 kitab Perjanjian Baru yang juga diterima Katolik dan sebagian besar warisan Kitab Suci bersama tradisi Kristen sebelumnya.
Perbedaan utamanya adalah mengenai kanon Perjanjian Lama, otoritas Tradisi, dan struktur serta otoritas Gereja.
- PERTANYAAN BESAR: SIAPA YANG MENJAGA IMAN APOSTOLIK?
Pada titik ini kita sampai pada pertanyaan yang lebih penting daripada jumlah kitab.
Bagaimana menentukan apakah sebuah Gereja sungguh memiliki kontinuitas apostolik?
Ada beberapa ukuran.
- APAKAH AJARANNYA MEMPUNYAI AKAR APOSTOLIK?
Jawaban:
Gereja apostolik harus menjaga inti iman yang diterima dari para rasul.
Di antaranya:
- iman kepada Allah Tritunggal;
- Yesus Kristus sebagai Tuhan dan
Putra Allah; - Inkarnasi;
- wafat dan kebangkitan Kristus;
- baptisan;
- Ekaristi;
- kehidupan moral Kristen;
- dan pewartaan Injil.
Katolik dan Ortodoks mempertahankan inti iman apostolik tersebut dan secara historis terhubung dengan Gereja kuno.
Tradisi Protestan juga mempertahankan inti iman Kristen apostolik, meskipun berbeda dalam sejumlah doktrin mengenai Gereja, sakramen, Tradisi dan otoritas.
- APAKAH STRUKTUR GEREJANYA MEMPUNYAI KESINAMBUNGAN HISTORIS?
Jawaban:
Ya, dalam derajat yang berbeda.
Gereja kuno mempunyai struktur uskup, presbiter dan diakon.
Katolik dan Ortodoks mempertahankan struktur tersebut secara langsung dan kontinu.
Sebagian tradisi Protestan juga mempertahankan struktur episkopal, tetapi tidak semuanya.
Karena itu, tidak tepat mengatakan semua Gereja Protestan tidak memiliki struktur episcopal.
Yang membedakan terutama adalah bagaimana struktur tersebut dipahami dalam hubungan dengan suksesi apostolik dan otoritas Gereja.
- APAKAH TERDAPAT SUKSESI PARA USKUP?
Jawaban:
Dalam tradisi Katolik dan Ortodoks, ya.
Suksesi apostolik berarti pelayanan para rasul diteruskan melalui para uskup dalam kesinambungan Gereja.
Tujuannya bukan sekadar memiliki daftar nama uskup.
Yang lebih penting adalah kesinambungan:
jabatan → penahbisan → ajaran → sakramen → persekutuan Gereja.
Inilah salah satu ciri paling penting Gereja apostolik.
- APAKAH EKARISTI DAN SAKRAMEN DIPERTAHANKAN?
Jawaban:
Ya, secara penuh dan kontinu dalam tradisi Katolik dan Ortodoks.
Ekaristi menempati pusat kehidupan Gereja sejak zaman apostolik.
Baptisan juga merupakan praktik yang sangat awal.
Gereja Katolik dan Ortodoks mempertahankan kehidupan sakramental yang berakar dalam Gereja kuno.
Tradisi Protestan berbeda-beda dalam jumlah sakramen dan pemahaman mengenai Ekaristi serta imamat.
- APAKAH TRADISI GEREJA KUNO DITERUSKAN?
Jawaban:
Katolik dan Ortodoks secara eksplisit mempertahankan Tradisi Apostolik sebagai bagian konstitutif kehidupan Gereja.
Tradisi tersebut mencakup:
- liturgi;
- pengakuan iman;
- ajaran para Bapa;
- praktik sakramental;
- struktur Gereja;
- dan penafsiran iman.
Tradisi Protestan juga memiliki tradisi teologis, tetapi secara umum menempatkan Kitab Suci sebagai norma tertinggi dengan cara yang berbeda dari Katolik dan Ortodoks.
- APAKAH IMAN DIJAGA MELALUI KONSILI DAN PENGAKUAN IMAN?
Jawaban:
Ya.
Konsili-konsili kuno memainkan peran penting dalam merumuskan dan mempertahankan iman Kristen.
Misalnya:
- Nicea I (325);
- Konstantinopel I (381);
- Efesus (431);
- Kalsedon (451).
Konsili-konsili tersebut membela iman mengenai Tritunggal dan Kristologi.
Katolik dan Ortodoks sama-sama menerima warisan konsili ekumenis kuno tersebut.
Tradisi Protestan juga menerima banyak rumusan iman kuno, terutama Syahadat Nicea-Konstantinopel, meskipun tidak menerima seluruh otoritas konsili dengan cara yang sama.
- BAGAIMANA GEREJA MEMAHAMI HUBUNGAN KITAB SUCI DAN TRADISI?
Jawaban Katolik:
Kitab Suci dan Tradisi Apostolik berasal dari satu sumber ilahi dan bersama-sama membentuk satu deposit iman.
Gereja bukan berada di atas Firman Allah.
Gereja justru menerima tugas untuk:
- menjaga;
- mewartakan;
- dan menafsirkan Firman Allah secara
autentik.
Jawaban Ortodoks:
Kitab Suci dipahami dalam kehidupan Tradisi Suci Gereja, terutama dalam liturgi, konsili dan ajaran para Bapa.
Jawaban Protestan:
Pada umumnya Kitab Suci ditempatkan sebagai norma tertinggi bagi ajaran (sola Scriptura), meskipun hubungan antara Kitab Suci dan tradisi berbeda menurut denominasi.
Dengan demikian, perbedaan kanon berhubungan langsung dengan perbedaan mengenai otoritas Gereja dan Tradisi.
- BAGAIMANA DENGAN PELAYANAN PETRUS?
Jawaban Katolik:
Gereja Katolik percaya bahwa Kristus memberikan kepada Petrus tugas khusus untuk menguatkan dan menggembalakan Gereja.
Pelayanan tersebut diyakini tidak berakhir dengan kematian Petrus, melainkan mempunyai penerusan dalam pelayanan Uskup Roma.
Karena itu, bagi Katolik:
Petrus → penerus Petrus → Uskup Roma → pelayanan kesatuan Gereja universal.
Gereja Ortodoks menghormati Petrus dan mengakui tempat istimewanya di antara para rasul, tetapi tidak menerima primasi dan yurisdiksi universal Uskup Roma dalam pengertian Katolik.
Di sinilah salah satu perbedaan eklesiologis terbesar antara Katolik dan Ortodoks.
- APAKAH SEJARAH DAPAT MEMBUKTIKAN GEREJA KATOLIK SEBAGAI SATU-SATUNYA GEREJA YANG BENAR?
Jawaban:
Tidak jika “membuktikan” dimaksudkan sebagai pembuktian matematis.
Sejarah dapat menunjukkan:
- kesinambungan institusi;
- suksesi uskup;
- liturgi;
- sakramen;
- Tradisi;
- tulisan para Bapa;
- konsili;
- dan perkembangan ajaran.
Tetapi kesimpulan seperti:
«“Gereja Katolik adalah Gereja Kristus dalam kepenuhan”»
merupakan klaim teologis, bukan sekadar kesimpulan sejarah.
Dalam iman Katolik, klaim tersebut didasarkan pada Kitab Suci, Tradisi Apostolik dan pemahaman Gereja mengenai suksesi apostolik serta pelayanan Petrus.
- BAGAIMANA MENILAI KONTINUITAS GEREJA?
Maka pertanyaan pada bagian ini dapat dijawab secara langsung:
A. Apakah ajarannya mempunyai akar apostolik?
Ya, terutama dalam Katolik dan Ortodoks; Protestan juga mempertahankan inti iman apostolik tetapi berbeda dalam sejumlah aspek.
B. Apakah struktur Gerejanya mempunyai kesinambungan historis?
Ya, secara sangat kuat dalam Katolik dan Ortodoks.
C. Apakah terdapat suksesi para uskup?
Ya, secara kontinu dalam Katolik dan Ortodoks.
D. Apakah Ekaristi dan sakramen dipertahankan?
Ya, secara sakramental dan liturgis dalam Katolik dan Ortodoks.
E. Apakah Tradisi Gereja kuno diteruskan?
Ya, secara eksplisit dan integral dalam Katolik dan Ortodoks.
F. Apakah iman Gereja dijaga melalui konsili dan pengakuan iman?
Ya. Katolik dan Ortodoks mempertahankan warisan konsili kuno; Protestan juga menerima sejumlah pengakuan iman kuno.
G. Bagaimana hubungan Kitab Suci dan Tradisi?
Berbeda: Katolik dan Ortodoks melihat keduanya dalam kesatuan Tradisi Gereja; Protestan pada umumnya menempatkan Kitab Suci sebagai norma tertinggi.
H. Bagaimana Gereja memahami pelayanan Petrus?
Katolik: pelayanan Petrus diteruskan dalam Uskup Roma.
Ortodoks: Petrus mempunyai tempat istimewa, tetapi primasi Roma dalam pengertian Katolik tidak diterima.
- PERTANYAAN YANG LEBIH MENDASAR: SIAPA YANG MENERIMA KITAB SUCI?
Jawaban:
Gereja apostolik.
Kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis dalam lingkungan Gereja dan diterima oleh komunitas-komunitas Kristen.
Tidak ada “Alkitab Perjanjian Baru lengkap” yang sudah beredar dalam bentuk final sejak hari Pentakosta.
Gereja hidup dengan pewartaan apostolik sebelum seluruh kanon Perjanjian Baru disepakati secara universal.
- SIAPA YANG MENJAGA KITAB SUCI?
Jawaban:
Gereja sepanjang sejarah.
Para uskup, presbiter, teolog, biara, komunitas liturgis dan umat Kristen menjaga, menyalin, membaca dan meneruskan teks-teks Kitab Suci.
Tanpa komunitas yang memelihara manuskrip dan tradisi pembacaan, teks-teks tersebut tidak akan sampai kepada generasi berikutnya dalam bentuk yang kita kenal.
- SIAPA YANG MENENTUKAN BATAS KANON?
Jawaban:
Tidak ada satu individu yang “menciptakan” kanon.
Kanon dikenali melalui proses panjang dalam kehidupan Gereja.
Melalui:
- penggunaan liturgis;
- Tradisi apostolik;
- penerimaan komunitas;
- kesaksian para Bapa;
- daftar kanon;
- sinode/konsili;
- dan akhirnya penegasan otoritatif
Gereja.
Dalam tradisi Katolik, otoritas Gereja kemudian memberikan penetapan definitif terhadap kanon.
- SIAPA YANG MENAFSIRKAN KITAB SUCI DALAM GEREJA?
Jawaban Katolik:
Gereja mempunyai tugas untuk menafsirkan Firman Allah secara autentik.
Dalam Gereja Katolik, tugas tersebut dipercayakan kepada Magisterium, yaitu Paus dan para uskup dalam persekutuan dengannya.
Magisterium tidak berada di atas Firman Allah.
Magisterium melayani Firman Allah dengan menjaganya dari penafsiran yang bertentangan dengan iman apostolik.
- BAGAIMANA TRADISI APOSTOLIK DITERUSKAN?
Jawaban:
Tradisi Apostolik diteruskan melalui kehidupan nyata Gereja:
ajaran → liturgi → sakramen → penahbisan → suksesi uskup → pengakuan iman → konsili → kehidupan umat.
Karena itu Tradisi bukan sekadar cerita yang diwariskan.
Tradisi adalah iman yang hidup dan diteruskan dari generasi ke generasi.
- DI MANA SUKSESI PARA RASUL MASIH BERLANGSUNG?
Jawaban:
Secara historis, suksesi apostolik yang kontinu terutama dipertahankan dalam:
- Gereja Katolik;
- Gereja Ortodoks;
- dan beberapa Gereja apostolik kuno
lainnya.
Gereja-gereja tersebut memiliki episcopacy dan garis suksesi yang menghubungkan pelayanan para uskup dengan Gereja kuno.
Karena itu istilah “Gereja apostolik” tidak hanya dapat diberikan kepada satu komunitas tanpa memperhatikan sejarah Gereja Timur.
- BAGAIMANA GEREJA MENJAGA KESATUAN YANG DIWARISKAN KRISTUS?
Jawaban:
Dalam Gereja kuno, kesatuan dijaga melalui:
- kesatuan iman;
- persekutuan para uskup;
- Ekaristi;
- pengakuan iman;
- konsili;
- dan persekutuan Gereja-gereja lokal.
Dalam perspektif Katolik, pelayanan Petrus mempunyai fungsi khusus sebagai prinsip dan pusat kesatuan Gereja universal.
Karena itu Gereja Katolik melihat persekutuan dengan Uskup Roma sebagai unsur penting dalam kesatuan Gereja.
Tradisi Ortodoks memahami kesatuan Gereja dengan cara berbeda, terutama melalui persekutuan Gereja-gereja lokal dan konsili.
- JADI, APAKAH GEREJA YANG DIDIRIKAN KRISTUS MASIH DAPAT DIKENALI?
YA.
Gereja yang berasal dari Kristus dan para rasul dapat ditelusuri dalam sejarah melalui kesinambungan:
Kristus
↓
Para Rasul
↓
Gereja Apostolik
↓
Para Uskup
↓
Suksesi Apostolik
↓
Tradisi
↓
Liturgi dan Sakramen
↓
Kitab Suci
↓
Konsili
↓
Gereja sepanjang zaman
Identitas Gereja tidak ditentukan hanya oleh nama modernnya.
Yang harus diperiksa adalah kesinambungan iman, struktur, sakramen, liturgi, Tradisi dan suksesi apostolik.
- LALU GEREJA MANA YANG MEMELIHARA IMAN APOSTOLIK?
Jawaban yang paling historis dan adil adalah:
Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks secara jelas mempertahankan kesinambungan apostolik yang sangat kuat dengan Gereja kuno.
Beberapa Gereja apostolik Timur lainnya juga mempertahankan tradisi apostolik dan suksesi uskup.
Sementara itu, Gereja-gereja Protestan mempertahankan banyak unsur inti iman apostolik tetapi mempunyai pemahaman yang berbeda mengenai:
- kanon;
- Tradisi;
- sakramen;
- imamat;
- suksesi apostolik;
- dan otoritas Gereja.
Namun dalam perspektif iman Katolik, terdapat satu unsur khusus yang menjadi pembeda penting:
«Gereja Katolik memahami dirinya sebagai Gereja apostolik yang juga mempertahankan pelayanan Petrus dalam penerusnya, Uskup Roma.»
Karena itu, menurut pemahaman Katolik, kepenuhan struktur apostolik mencakup:
Kitab Suci + Tradisi Apostolik + Suksesi Apostolik + Sakramen + Ekaristi + Kesatuan dengan penerus Petrus.
- JADI, SIAPA YANG MENERIMA KITAB SUCI?
Gereja.
- SIAPA YANG MENJAGA KITAB SUCI?
Gereja sepanjang sejarah.
- SIAPA YANG MENGENALI KANON?
Gereja melalui proses penerimaan dan penegasan kanonik.
- SIAPA YANG MENAFSIRKAN KITAB SUCI?
Dalam perspektif Katolik, Magisterium Gereja dalam kesatuan dengan Tradisi Apostolik.
- SIAPA YANG MENERUSKAN TRADISI APOSTOLIK?
Gereja melalui kehidupan, ajaran, liturgi, sakramen dan suksesi apostolik.
- DI MANA SUKSESI APOSTOLIK BERTAHAN?
Terutama dalam Gereja Katolik dan Gereja-gereja Ortodoks serta Gereja-gereja apostolik Timur lainnya.
- SIAPA YANG MENJAGA KESATUAN GEREJA DALAM PERSPEKTIF KATOLIK?
Persekutuan para uskup bersama penerus Petrus, yaitu Uskup Roma.
- KEMBALI KEPADA TUJUH KITAB DEUTEROKANONIKA
Setelah seluruh persoalan tersebut dipahami, tuduhan:
«“Gereja Katolik menambahkan tujuh kitab ke dalam Alkitab.”»
menjadi terlalu sederhana.
Secara historis, lebih tepat mengatakan:
«Gereja Katolik menerima kanon yang memiliki akar dalam tradisi Kitab Suci dan kehidupan Gereja kuno, termasuk tujuh kitab Deuterokanonika dan bagian tambahan Ester serta Daniel; kanon tersebut kemudian ditegaskan secara dogmatis pada Konsili Trente.»
Dengan demikian, Trente bukanlah “hari kelahiran” Deuterokanonika.
- 73 KITAB ALKITAB KATOLIK
Perjanjian Lama — 46 kitab
- Kejadian
- Keluaran
- Imamat
- Bilangan
- Ulangan
- Yosua
- Hakim-Hakim
- Rut
- 1 Samuel
- 2 Samuel
- 1 Raja-Raja
- 2 Raja-Raja
- 1 Tawarikh
- 2 Tawarikh
- Ezra
- Nehemia
- Tobit
- Yudit
- Ester
- 1 Makabe
- 2 Makabe
- Ayub
- Mazmur
- Amsal
- Pengkhotbah
- Kidung Agung
- Kebijaksanaan
- Sirakh
- Yesaya
- Yeremia
- Ratapan
- Barukh
- Yehezkiel
- Daniel
- Hosea
- Yoel
- Amos
- Obaja
- Yunus
- Mikha
- Nahum
- Habakuk
- Zefanya
- Hagai
- Zakharia
- Maleakhi
Perjanjian Baru — 27 kitab
47. Matius
48. Markus
49. Lukas
50. Yohanes
51. Kisah Para Rasul
52. Roma
53. 1 Korintus
54. 2 Korintus
55. Galatia
56. Efesus
57. Filipi
58. Kolose
59. 1 Tesalonika
60. 2 Tesalonika
61. 1 Timotius
62. 2 Timotius
63. Titus
64. Filemon
65. Ibrani
66. Yakobus
67. 1 Petrus
68. 2 Petrus
69. 1 Yohanes
70. 2 Yohanes
71. 3 Yohanes
72. Yudas
73. Wahyu
- KESIMPULAN AKHIR
Perdebatan tentang Deuterokanonika tidak dapat diselesaikan hanya dengan menghitung:
66 versus 73.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
«Siapa yang menerima Kitab Suci?»
Gereja apostolik.
«Siapa yang menjaga Kitab Suci?»
Gereja sepanjang sejarah.
«Siapa yang mengenali kanon?»
Gereja melalui proses penerimaan dan penegasan yang berlangsung berabad-abad.
«Siapa yang menafsirkan Kitab Suci dalam perspektif Katolik?»
Magisterium dalam kesatuan dengan Kitab Suci dan Tradisi Apostolik.
«Bagaimana Tradisi Apostolik diteruskan?»
Melalui ajaran, liturgi, sakramen, suksesi apostolik, konsili dan kehidupan Gereja.
«Di mana kesinambungan apostolik itu masih nyata?»
Secara kuat dalam Gereja Katolik, Gereja Ortodoks dan Gereja-gereja apostolik Timur lainnya.
«Bagaimana Gereja Katolik memahami kesatuan apostolik universal?»
Melalui persekutuan para uskup dengan penerus Petrus, Uskup Roma.
Maka pertanyaan terakhir bukan:
«“Siapa yang menambahkan tujuh kitab?”»
melainkan:
«“Gereja mana yang menerima, menjaga, menafsirkan dan meneruskan iman yang dipercayakan Kristus kepada para rasul?”»
Dalam perspektif iman Katolik, jawabannya adalah:
«✝️ GEREJA KATOLIK
bukan semata-mata karena memiliki 73 kitab, tetapi karena memahami dirinya sebagai Gereja yang mempertahankan kesatuan antara Kitab Suci, Tradisi Apostolik, suksesi para rasul, sakramen, Ekaristi, dan pelayanan Petrus dalam Uskup Roma.»
Dengan demikian, 73 kitab bukanlah dasar tunggal klaim Katolik.
Sebaliknya, 73 kitab berada dalam sebuah jaringan sejarah yang jauh lebih luas:
KRISTUS
↓
PARA RASUL
↓
GEREJA APOSTOLIK
↓
TRADISI APOSTOLIK
↓
KITAB SUCI
↓
PENGENALAN KANON
↓
SUKSESI APOSTOLIK
↓
SAKRAMEN DAN LITURGI
↓
KONSILI-KONSILI
↓
GEREJA SEPANJANG ZAMAN
Dan dari sinilah persoalan Deuterokanonika harus dipahami:
«Bukan sebagai cerita tentang Gereja Katolik yang “menambahkan tujuh kitab”, tetapi sebagai bagian dari sejarah panjang bagaimana Gereja menerima, menjaga, mengenali, menghidupi dan meneruskan Kitab Suci serta iman apostolik yang diterimanya dari Kristus dan para rasul.»
✝️ KITAB SUCI TIDAK BERDIRI TERPISAH DARI GEREJA YANG MENERIMANYA.
✝️ GEREJA TIDAK BERDIRI TERPISAH DARI KRISTUS DAN PARA RASUL YANG MENGUTUSNYA.
✝️ DAN IMAN APOSTOLIK TIDAK HANYA DITULIS—TETAPI DITERIMA, DIHIDUPI, DIRAYAKAN, DIJAGA, DAN DITERUSKAN DARI GENERASI KE GENERASI.