3 FEB : 1. Santo Blasius, Uskup dan Martir; 2. Santo Ansgarius, Uskup; 3. Santo Gilbertus, Abbas

1. Santo Blasius, Uskup dan Martir
Blasius adalah Uskup di Sebaste, di wilayah Armenia, Asia Kecil. Ia dikenal sebagai seorang ahli fisika dan seorang gembala yang baik hati. Pada masa pemerintahan kaisar Licinius, ia ditangkap dan dipenjarakan. Kemudian pada tahun 316, ia dihukum mati.
Menurut cerita rakyat, ia berhasil menyelamatkan seorang anak laki-laki dari kematian karena tulang ikan yang tersangkut pada tenggorokannya. Doa dan berkat Santo Blasius melepaskan anak itu dari bahaya kematian. Doa dan berkat Santo Blasius ini terus dilestarikan oleh Gereja hingga dewasa ini. Pada setiap tanggal 3 Februari, pesta Santo Blasius, umat Katolik menghadiri Misa Kudus untuk menerima berkat Santo Blasius dari imam-imamnya.
Berkat yang diberikan imam-imam disertai doa berikut: “Moga-moga Allah karena perantaraan Santo Blasius, Uskup dan Martir, membebaskan dikau dari penderitaan tenggorok dan dari kemalangan lainnya. Atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin”.

    2. Santo Ansgarius, Uskup
    Ansgarius lahir pada tahun 801 di daerah Amiens, Prancis. Ia dikenal sebagai seorang Uskup dan pewarta Injil di daerah Skandinavia. Sebagian besar masa hidupnya ia manfaatkan untuk mewartakan Injil Kristus kepada kaum kafir Norsemen yang bengis dan liar.
    Semasa mudanya, Ansgarius menghayati suatu cara hidup yang baik seturut kebiasaan-kebiasaan Kristen yang berlaku pada masa itu. Kemudian ia memutuskan untuk menjadi seorang rahib Benediktin. Untuk itu, ia masuk biara Benediktin di Corbie dan menjadi asuhan Paschasius Radbertus. Segera setelah ia mengucapkan kaulnya, ia bersama beberapa orang rekannya diutus ke Wesphalia untuk mendirikan sebuah biara baru di antara orang-orang Saxon di Jerman Utara. Biara baru ini dinamakan Biara Corvey atau Corbie Baru. Dari sinilah, Ansgarius diutus untuk mewartakan Injil ke berbagai wilayah yang masih kafir.
    Ia pernah tinggal di istana kaisar Louis, putra Karel Agung. Di sana ia berhasil mengajak raja Harold dari Denmark untuk memeluk agama Kristen. Ajakan ini disambut dengan baik oleh Harold. Setelah kembali ke negerinya, Harold mengundang Ansgarius untuk memulai karya misi di antara kaum Danes yang masih kafir. Di Denmark, Ansgarius mewartakan Injil dan berhasil mendirikan sebuah sekolah.
    Dari Denmark, ia berlayar ke Swedia dan tiba di Birka, ibu kota Swedia yang lama. Ia diterima dengan baik oleh raja Bjorn dan para Dewan Kota. Herigar, salah seorang anggota Dewan Kota mendirikan sebuah gereja di wilayahnya. Itulah gereja pertama di Swedia.
    Sekembalinya ke Jerman, Ansgarius ditahbiskan menjadi Uskup kota Hamburg dan diangkat menjadi utusan Paus Gregorius IV untuk menjalankan misi gereja di wilayah Jerman bagian utara. Sebagai seorang Uskup, Ansgarius menghadapi banyak masalah, terutama dari kaum Norsemen yang kembali kepada praktek-praktek kekafiran: menyembah dewa Odin dan Thor. Meskipun demikian, Ansgarius tetap teguh dalam karyanya mewartakan Injil. Ia mendirikan beberapa gereja di Swedia dan menempatkan seorang imam di sana untuk menggembalakan orang-orang yang telah menjadi Kristen.
    Ansgarius adalah perintis pewartaan Injil di antara suku bangsa Skandinavia, Swedia dan Denmark. Ia membuka jalan bagi para misionaris di kemudian hari, seperti Santo Sigfridus, yang membawa orang-orang itu ke dalam kekristenan pada abad 11. Ia meninggal sebagai seorang Uskup pada tahun 865 di Bremen, Jerman.

    3. Santo Gilbertus, Abbas
    Gilbertus lahir di Sempringham, Lincolnshire, Inggris pada tahun 1083. Setelah ditahbiskan menjadi imam, ia ditempatkan sebagai pastor paroki di Sempringham. Di samping tugas-tugas lainnya, ia mengajar sebagai guru selama beberapa tahun. Perhatiannya pada nasib orang-orang miskin sangat besar. Sebagian besar penghasilannya dibagikan kepada orang-orang malang itu, sedang dia sendiri mencukupkan dirinya dengan sejumlah kecil uang yang masih tersisa di kantongnya.
    Di kalangan umatnya di Sempringham, Gilbertus dikenal sebagai seorang imam yang saleh. Di bawah bimbingannya, beberapa orang wanita membentuk satu komunitas. Kelompok ini terus berkembang dan bertambah anggotanya, termasuk kaum pria. Gilbert dengan tekun membimbing komunitas ini menjadi sebuah komunitas yang tetap dan kokoh menurut aturan hidup Santo Benediktus dan Kanon santo Agustinus.
    Kemudian komunitas ini dijadikan sebuah ordo baru dengan nama Ordo Gilbertin. Gilbert adalah pemimpinnya. Ordo ini dibagi dalam tiga kelompok, yakni kelompok suster, bruder dan imam. Mereka tinggal di biara masing-masing tetapi tetap bersatu dalam karya pelayanan di bidang kesehatan, penampungan dan pendidikan anak-anak yatim piatu dan pelayanan orang-orang miskin dan para tawanan.
    Pada umur 90 tahun, Gilbert ditangkap dan dipenjarakan karena dituduh mengungsikan Thomas dari Canterbury .Tuduhan ini tidak dibantahnya sedikitpun meskipun ia tidak pemah terlibat di dalam peristiwa yang dituduhkan padanya. la meninggal dunia pada tahun 1189 dan digelari ‘kudus’ pada tahun 1202.

    Menurut tradisi Gereja Timur dan Barat, hari ini dapat diberikan “Berkat Santo Blasius”. Umat menghampiri imam seperti pada acara komuni. Sambil memegang dua batang lilin yang disilangkan pada leher umat, imam berkata, “Semoga berkat doa Santo Blasius, Uskup dan Martir, Allah membebaskan Saudara dari penyakit tenggorokan dan penyakit-penyakit lain. Dalam nama + Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.” (lihat Kumpulan Upacara, hlm. 150).