19 jan : 1. Santo Marius, Martir; 2. Santo Gerlakus, Pengaku Iman; 3. Santo Gottfried atau Geoffrey, Pengaku Iman

1. Santo Marius, Martir
Marius adalah seorang bangsawan kaya di Persia. Bersama isterinya Martha dan kedua puteranya Audifax dan Abakus, ia datang ke Roma untuk berziarah di pusat Gereja Kristus dan makam para martir. Kedatangan mereka ke Roma bertepatan waktu dengan peristiwa penganiayaan terhadap jemaat Kristen di Roma. Marius sungguh prihatin melihat nasib orang-orang Kristen itu.
Oleh dorongan imannya, ia mengunjungi orang-orang Kristen di penjara-penjara tanpa takut sedikitpun. Kekayaannya dibagi-bagikan kepada mereka demi kelangsungan hidupnya. Tak lama kemudian, ia bersama isteri dan kedua puteranya di tangkap dan dibunuh karena perbuatan-perbuatan yang berani itu. Marius tak gentar menghadapi perlakuan serdadu-serdadu Romawi itu. Ia percaya bahwa Kristus meyertai dia dan akan menganugerahkan kepadanya mahkota surgawi.

2. Santo Gerlakus, Pengaku Iman
Di antara para Orang Kudus terdapat sejumlah besar yang menjalani kariernya sebagai perwira bersenjata dan terlibat dalam berbagai peperangan untuk mempertahankan tanah airnya: santo Martinus, Uskup dari Tours; Santo Ignasius dari Loyola, Pendiri Serikat Yesus; Charles de Foucauld, bekas opsir pasukan meriam yang bertapa dan menjalankan misinya di gurun Shara, dan lain-lain. Gerlakus termasuk golongan para Kudus yang menyandang sebutan ‘perwira’.
Gerlakus lahir di Limbur Selatan pada tahun 1100. Pada masa mudanya, ia menjadi ksatria yang gagah berani. Badannya tinggi dan tegap, hatinya lekas panas, tetapi wataknya luhur. Ia selalu membela kebenaran dan keadilan. Sebagai seorang perwira, Gerlakus sangat tangkas bermain pedang. Di medan perang ia dikenal sebagai pendekar gagah berani yang tidak takut pada siapa pun.
Suatu ketika sementara ia menyiapkan diri untuk mengikuti suatu pertandingan, diberitahukan kepadanya berita duka kematian istrinya. Mendengar berita itu, pedang dan perisai yang ada ditangannya terjatuh ke tanah tanpa disadarinya sendiri. Ia segera pulang untuk menyaksikan peristiwa nahas yang menimpa istrinya. Peristiwa ini memang sungguh menyedihkan hatinya. Peristiwa itu merupakan kehendak Tuhan. Ia pasrah dan menyerah di hadapan kehendak Allah itu. Kematian isterinya menjadi baginya awal hidup yang baru dalam pengabdian yang tulus kepada Tuhan.
Ia kemudian berangkat ke Roma untuk mengakukan dosa-dosanya kepada Sri Paus Eugenius III. Dari Roma, ia berziarah ke Yerusalem. Di sana ia mengabdikan dirinya pada karya perawatan orang-orang sakit di rumah sakit St. Yohanes, sambil tekun berdoa, berpuasa dan bertapa. Setelah tujuh tahun lamanya berkarya di Yerusalem, ia kembali ke Roma. Atas izinan Sri Paus, ia kembali ke tanah airnya dan menjalankan tapanya disana. Ia menetap di Houthem. Uskup setempat memberinya dua buah rumah, satu untuk tempat tinggal dan satu lagi untuk tempat berdoa.
Setiap hari, Gerlakus berziarah ke makam Uskup (Santo) Servatius di Maastricht, dan setiap hari Sabtu ia berziarah ke gereja Santa Perawan Maria di Aachen.
Gerlakus meninggal dunia pada tanggal 5 Januari 1172 di tempat kediamannya di Houthem. Sampai sekarang tempat ini disebut orang Houthem Sint Gerlach.

3. Santo Gottfried atau Geoffrey, Pengaku Iman
Gottfried hidup antara tahun 1097-1127. Karena tertarik pada cita-cita kemiskinan Santo Norbertus, maka ia mengubah istananya di Cappenberg, Jerman menjadi suatu biara. Isterinya dan dua saudara perempuannya masuk biara lain yang didirikannya juga. Akhirnya ia sendiri menjadi biarawan Premonstratens dan beramal bagi kaum miskin.